Imaji

Tunarasa

Mama, apa itu cinta? Aku bertanya sesaat,

Ia tak menjawab hanya menatapku dengan wajah pucat

Papa, apa itu perjuangan? Ku alihkan wajahku ke arah kanan,

Oh, maaf aku selalu saja lupa kalau dia sudah lama tak di sana

Aku menatap cermin, kudapati jawaban untuk sesuatu yang tidak kutanyai;

Apa itu sepi?

 

Hai, adik mungil, bagaimana rasanya pelukan?

Sayang sekali aku tak mendengar jawaban,

Memiliki apa yang belum dipahami,

Memahami, namun tidak dapat memiliki,

Kadang hidup suka bergurau pada diri

 

Kemarin di taman bermain,

Anak menangis dimarahi sang ayah

Semakin marah sang ayah, semakin si anak ingin kepangkuannya

Padahal, aku selalu ingin jauh dari orang-orang yang memarahiku

 

Mengapa kau menggenggam tangannya?

Karena akulah pahlawan baginya

Kamu?..,

Aku  merasa tidak takut saat berada di dekatnya

Kedua anak jalanan itu berlari-lari kecil, menuju halaman mesjid

 

Sore tadi kepada sepasang kekasih aku bertanya;

Bagaimana rasa saling memiliki?,

Ali; seperti memiliki ratu untuk dihormati,

Fatimah; laksana memiliki raja untuk berbakti

 

Saat ini mereka bertanya padaku; Apa itu bahagia?

Hahahahaha, yang benar saja?, padaku?,

Aku hanya seorang tunarasa, sedang berguru pada kehilangan,

Mengharap Tuhan mencurahkan pemahaman.

D Metuah

Taman di sudut jalan, 25 April 2017

 

Kicauan

Kicauan Dua

Dirangkum oleh: Hanifatul Rahmah

 

Menunggu

Menunggu itu, butuh kesabaran sampai yang ditunggu-tunggu itu datang, terjadi dan yang menyakitkan, kadang tak pasti. (Puji Astiningsih)

Rindu

Tak sesederhana kalimat “Aku sangat meRINDUkanmu” karena rindu tak se-simple ucapan. Juga tak layak memaksakan dan dipaksakan. Rindu ada ketika hati menginginkan. Dan aku, logika dan hatiku menanamkan keyakinan ketika ada rindu maka akan ada titik pertemuan membahagiakan. (Dwi Puspita)

Awal

“Awal” mengapa harus awal yang menjadi tema? Karena segala sesuatu pasti berawal. Dalam dimensi metafisik, awal merupakan niatan suatu tindakan atau perbuatan dan juga sebuah sifat. Mengapa cinta itu berawal? Berawal dari tatap muka atau karakter orang yang membentuk kita mencintai subjek. Begitu juga dengan buletin Ya! Berawal dari apakah terbentuknya buletin Ya!?. (Ahmad Sidqi)

Pagi

Bagiku pagi, berarti aku masih punya satu hari lagi untuk menemuinya. Buatku pagi, berarti aku masih punya kesempatan untuk merubah dunia. Buatku pagi, berarti aku masih bisa menanam benih-benih kebaikan yang nanti akan bermekaran disore hari. Buatku pagi, berarti aku satu langkah lebih dekat denganMu satu langkah lebih jauh dari dunia. Buatku pagi, berarti harapan baru. Buatku pagi, berarti kesempatan. (Fahmi M. Hanif)

Sunyi

Sunyi adalah kesetiaan, dia selalu ada ketika semuanya hilang. (Sahruddin)

Asa

Penantian yang lahir dari harapan, yang mudah mati karena kekecewaan. (Ainun Nuha Alfarisi)

Senin

Aku adalah biskuit lapis coklat, kau adalah segelas susu putih hangat. Sepasang kecil kebahagiaan ketika diluar sedang hujan deras disore Senin kala itu. (Intan Popy R)

Lupa

Orang yang menyadari siapa dirinya, tahu bahwa dirinya lemah dan membutuhkan rahmatNya. Orang yang menyadari siapa dirinya, tak akan sombong dan bangga dengan kelebihannya. Orang yang menyadari siapa dirinya tahu bahwa dia tidak bisa hidup tanpaNya meski sekejap mata. Tapi, dunia sering membuat orang lupa, siapa dirinya sebenarnya. (Komari Yulindra)

Perahu

Akankah dia sampai pada tujuan akhir yang tak pernah dia tahu entah dengan utuh, dengan kehilangan bagian dirinya, ataukah dia akan terombang ambing tenggelam dan karam ditangan lautan yang menginginkannya. (Afif Nofian)

Malam

Waktu bagi para pekerja beristirahat, para hamba bermunjat, para pendosa semakin leluasa dalam maksiat, para pencari berkontempelasi menuai inspirasi, para nelayan membelah lautan, para peneliti tetap bersabar menunggu petri-petri untuk menggali ilmu ilahi, dan bagi anak-anak jermal malam, malamnya tetap diisi dengan terjaga menunggu jaring-jaring ikan agar tak khilaf menariknya ketika penuh. Malam adalah separuh waktu yang membentuk jati diri hidup kita. Maka apakah yang sudah diberikan malam-malammu untuk dirimu?. (Widya Asmarawati)

Rahasia

Antara saya dan Dia. (Maryam A.I. Shabrina)

Teropong

DotA 2, Negatif atau Positif?

Pada era yang serba modern ini, hampir di semua kegiatan kita, mulai dari kegiatan sehari-sehari, pekerjaan, hingga hiburan selalu dilalui bersama dengan teknologi. Pekerjaan yang dulunya sulit untuk dilakukan, kini dapat dilakukan dengan mudah berkat bantuan teknologi. Mulai dari pesawat dengan kecepatan tinggi kita dapat mengililingi dunia dalam waktu singkat, berbagai jenis smartphone yang hampir setiap saat menemani hari. Tak hanya itu, perkembangan teknologi pun telah mencapai ranah hiburan. Di abad ke-21 ini, salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah online game.

Tahun 1970-an merupakan awal kelahiran online game. Ragam simulasi perang ataupun pesawat yang digunakan untuk kepentingan militer yang kemudian dikomersilkan merupakan jenis online game pertama dan menginspirasi munculnya online game lain. Lalu, tahun 2001  jenis game ini mulai menarik perhatian dunia dan berkembang sangat pesat.

Salah satu online game dengan pengguna terbanyak setiap bulannya (dikenal dengan istilah gamers) adalah DotA 2. Dengan lebih dari sepuluh juta pengguna setiap bulannya, DotA 2 menjadi game terlaris di dunia saat ini. Awal mulanya, yaitu pada tahun 2011 ketika Valve, salah satu perusahaan game terbesar di dunia, merilis beta test untuk game DotA 2 yang kemudian disempurnakan, dan dirilis secara resmi pada tahun 2013. DotA 2 sendiri adalah suksesor dari game sebelumnya yaitu DotA, merupakan salah satu bagian dari game World of Warcraft 3. Game DotA merupakan singkatan dari Defend of the Ancients.

Dua tim yang masing-masing terdiri dari lima pemain memiliki misi utama yaitu menghancurkan Ancient. Mungkin begitulah gambaran sederhana dari game ini. Kepopuleran game ini sudah merambah di semua kalangan, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Namun, pengaruh game DotA 2 berbeda khususnya bagi kalangan muda, termasuk di Indonesia. Bagi kalangan muda Indonesia game ini sudah seperti magnet dimana kini DotA 2 merupakan game terpopuler di Indonesia.

Berbagai faktor yang menyebabkan game ini sangat populer di Indonesia, diantaranya sebagai sarana menghasilkan uang, juga sebagai wadah berkomunikasi dan bersosial bagi para gamers, serta beragam faktor lainnya.

Online game ini telah menjadi salah satu sumber penghasil uang bagi para gamers. Melalui salah satu ajang turnamen DotA 2, dengan nama The International yang diadakan setiap tahunnya, turnamen online game ini menjadi turnamen dengan total hadiah terbesar di dunia. Tahun 2016 merupakan edisi ke-6 turnamen, memperebutkan total hadiah melebihi US$20 juta, atau setara dengan Rp267 miliar. Bagi para professional players DotA 2 atau yang biasa disebut Pro-players, turnamen ini bisa menjadi ajang untuk mengubah jalan hidup mereka. Banyak Pro-players yang mempertaruhkan segalanya untuk  memenangkan turnamen ini, karena memenangkan turnamen ini merupakan puncak keberhasilan bagi seorang gamer. Seperti layaknya pemain sepakbola yang berhasil memenangkan piala dunia. Namun, waktu yang telah mereka gunakan serta pertaruhkan untuk mengasah kemampuan demi memenangkan sebuah turnamen, tidaklah sedikit. Hampir semua players yang pernah merasakan indahnya memenangkan turnamen besar, menghabiskan waktunya lebih dari sepuluh jam setiap hari hanya untuk mengasah kemampuan dalam bermain game DotA 2 ini.

Salah satunya adalah remaja yang pada usia enam belas tahun berhasil memenangkan turnamen The International ditahun 2015, meraih hadiah lebih dari US$6 juta bersama timnya EG (Evil Geniuses). Kisah Syed ‘Sumail’ Hassan, seorang remaja asal Afghanistan yang kurang setahun baru saja pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya, dulunya dia harus menjual sepeda demi mendapatkan uang untuk bermain game favoritnya, yaitu DotA 2. Pada awal kisahnya, orang tuanya sangat berat ketika merelakan anaknya untuk menjadi seorang pemain game professional. Demi meraih impian besarnya, usaha yang Sumail lakukan tidaklah kecil, rata-rata ia menghabiskan lebih dari dua belas jam setiap hari demi bermain DotA 2. Bahkan terkadang dia bisa bertahan selama delapan belas jam untuk bermain DotA 2. Hingga akhirnya kepercayaan orang tua serta jerih payah usaha Sumail menuai hasil, ketika dia berhasil memenangkan turnamen The International. Hingga saat ini, ketika dia berusia 18 tahun, penghasilan yang diperoleh Sumail dari game DotA 2 telah mencapai US$2.4 juta, atau senilai Rp32 miliar. Sumail pernah masuk daftar remaja paling berpengaruh dunia versi majalah ternama Time di tahun 2016.

Game memang memiliki daya tarik luar biasa bagi kalangan muda. Sebagai sebuah hiburan, game dapat dengan mudah membuat seseorang merasa nyaman. Bagi sebagian orang, game sudah seperti rumah bagi mereka, game telah menjadi tempat untuk berkomunikasi dan bersosialisasi antarsesama. Tidak hanya itu, pesona game juga dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian, juga menjadi sarana edukasi, seperti belajar bahasa asing secara praktis, serta menambah wawasan akan sejarah dunia. Hebatnya, game juga dijadikan penggunanya sebagai tempat untuk meluapkan perasaan emosional ketika sedang dalam masalah. Singkatnya, game bagi para penggunanya memiliki segudang manfaat positif, namun dilain pihak juga membawa dampak negatif.

Salah satu dampak negatif dari game adalah kemampuannya menyulap seseorang menjadi ‘lupa’. Kemungkinan kondisi ini disebabkan ketika bermain game, maka para pemain telah memasuki “zona nyaman”. Hal ini menjadikan mereka ‘lupa’ terhadap apa yang harus dilakukan, bahkan ‘lupa’ terhadap kondisi sekitarnya. Namun, yang paling parah ketika menjadi ‘lupa’ terhadap waktu. Telah banyak kasus, ketika terlalu larut dalam game atau hal lainnya, membuat seseorang ‘lupa’ akan kebutuhan lainnya.

Banyak kalangan muda yang gagal melanjutkan studi atau aktivitas lain menjadi tertunda dikarenakan hal-hal yang membuat mereka ‘lupa’ dan larut mengerjakan satu aktivitas tertentu. Sebagai contoh larut dalam menonton drama televisi, browsing internet, bermain game, dan semacamnya. Tidak ada yang salah dari melakukan hal-hal tersebut, namun akan lebih baik jika bijak menggunakan waktu untuk hal-hal tersebut. Menjadi larut dan monoton pada satu aktivitas tentu akan ‘mengganggu’, menjadikan ‘lupa’ akan tanggung jawab lain, membuat ‘lupa’ terhadap mimpi dan cita-cita. Juga menjadikan sebagai pilihan utama terhadap suatu hiburan yang melenakan sesaat dibandingkan memilih untuk melanjutkan perjuangan yang telah dimulai sedari awal, dengan contoh tanggung jawab sebagai pelajar. Perlu diingat, seringkali dalam meraih impian akan melewati rintangan terjal, bukan dengan terlena dengan hiburan sesaat. Memang setiap orang memiliki cara untuk menjalani kehidupannya masing-masing, akan tetapi saat ini hidup bukan hanya untuk bersenang-senang. Bukankah begitu, kawan?

Pada hakikatnya, setiap manusia itu sama, diberikan waktu yang sama dalam sehari yaitu 24 jam, diberikan siang dan malam. Akan tetapi, yang membedakan diantara mereka adalah bagaimana memanfaatkan 24 jam yang telah dimilikinya. (Kontributor: fullbolukukus@gmail.com: )

Cerpen

Tentang Ayahku, Kakekku, dan Revolusi 65

Oleh : Widya Asmarawati

Sore ini aku hanya bisa terduduk merenung di salah satu sudut pelabuhan kecil di kampungku. Di depanku terhampar kapal-kapal yang tertambat dengan jangkar-jangkarnya berjajar memanjang sejauh mata memandang. Aku memang sedang gundah karena minggu depan akan diwisuda, tapi sampai sekarang masih luntang-lantung tak jelas mau bekerja dimana. Pernah juga terpikir, capek-capek sekolah dan belajar namun akhirnya buntu juga. Kenyataan seperti ini jamak dirasa oleh teman-teman seperjuanganku. Sembari mikir sekitar sepuluh meter di depanku beberapa bapak paruh baya dan seorang anak berumur belasan tahun tampak sedang sibuk menurunkan muatan kapalnya. Tentu saja mereka adalah para nelayan yang baru saja merapat pulang dari perjalanan berhari-hari di lautan lepas. Wajah mereka tak tampak gembira, tentu saja bisa kutebak hasil melaut mereka tak seperti yang diharapkan.

    Sungai Gong yang saat ini tepat di depanku, merupakan satu-satunya jalur para nelayan kelaut dari sini. Sungai Gong punya ceritanya sendiri yang tak bisa dilupakan bagi masyarakat sini. Napak tilas pikiranku saat sungai ini pernah menjadi salah satu saksi sejarah paling kelam negeri ini. Pagi itu sekitaran akhir tahun 1965, seorang anak lelaki 9 tahunan tengah berdiri menatap puluhan mayat yang mengambang dan terseret pelan oleh arus sungai Gong menuju ke laut. Terlihat jelas bekas luka penyiksaan dibadan mereka yang masih ditempeli darah berwarna kecoklatan. Walau agak membengkak tetapi wajah-wajah mayat tersebut tampak belum terlalu membusuk. Sejak beberapa bulan setelah kejadian 30 September dan penangkapan besar-besaran orang-orang yang dianggap anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), memang sering terlihat pemandangan mengenaskan seperti itu di sungai Gong. Mayat-mayat orang-orang tak dikenal dalam jumlah puluhan sering tampak mengambang terbawa arus seolah sengaja dibuang di sana. Mata anak lelaki yang hanya memakai celana pendek warna hitam kumal yang bagian pinggangnya hanya diikat dengan tali rafia dan bertelanjang dada itu terus menatap mayat-mayat yang semakin menjauh itu. Anak kecil ini bernama Jupri. Dia berharap tidak ada satupun wajah dari mayat-mayat itu yang dia kenal. Dan setelah dia pastikan, dengan menghela nafas dia beranjak mengambil kailnya yang semula akan dipakai untuk memancing. Keinginannya untuk membawakan lauk untuk makan adik-adiknya sirna sudah dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.

Rumah Jupri tak jauh dari sungai Gong. Ibunya adalah seorang perempuan berusia 20an tahun yang berpostur kurus dan wajah yang kuyu. Sebenarnya mereka tidak punya sawah, jadi setiap pagi ibunya pergi ke sawah dan berharap bisa mendapat sisa-sisa padi. Dari situlah mereka dapat makan nasi, jika hari itu tidak ada yang panen maka ibunya akan beralih ke pasar untuk menjadi buruh gendong harian dengan upah yang sangat tidak layak, begitulah keseharian mereka. Sebelumnya mereka adalah keluarga yang berkecukupan. Namun ayah Jupri diajak teman dekatnya untuk bergabung menjadi anggota PKI yang memang sedang naik daun pada saat itu. Partai ini mengusung ideologi komunis dengan paham sosialisnya. Faktor ekonomi yang menghimpit serta janji “sama rasa sama rata” menjadi magnet yang sangat kuat pada masa itu. Juga para pembesar PKI dekat dengan Presiden Soekarno. Maka masuklah ayah Jupri menjadi anggota PKI. Pola pikir khas orang kampung yang polos ingin memperjuangkan keadilan. Mereka tidak sadar dibalik itu semua ada skenario besar sedang mengintai yang akhirnya akan mengubah hidup mereka dan bahkan sejarah dunia.

Beberapa bulan kemudian terjadilah kejadian G30S/PKI. Dimana 6 orang jenderal diculik dan dibunuh oleh pasukan tak dikenal pimpinan Sjam Kamaruzaman yang mengaku utusan presiden. Alasan penculikkan ini berawal dari adanya isu tentang Dewan Jenderal yang dikabarkan ingin melakukan kudeta. Sebenarnya penculikkan para Jenderal ini direncanakan oleh D.N. Aidit yang adalah pucuk pimpinan PKI saat itu. Beberapa hari setelah kejadian 30 September, Soeharto membawahi penangkapan besar-besaran orang-orang yang dianggap anggota PKI atau berhubungan dengannya. Di sisi lain pihak anggota PKI dan simpatisannya yang masih bertahan mencoba melakukan perlawan. Banyak ulama yang saat itu menjadi target pembunuhan dan masuk dalam “Daftar bunuh” oleh PKI. Salah satu hal yang dimanfaatkan dengan baik oleh para pembuat skenario peristiwa itu adalah rakyat yang lapar dan sengsara tentu sangat mudah terbakar emosinya. Bahkan ada yang mengatakan, dari sejak kemunculan paham komunis sampai sekarang sudah memakan korban tidak kurang dari dua ratus juta jiwa.

Ayah dan paman Jupri juga ikut terciduk saat penangkapan sampai akhirnya paman Jupri meninggal karena tak tahan disiksa. Beberapa hari setelah ayah Jupri ditangkap, rumah mereka pun dirobohkan oleh orang-orang kampung yang marah karena menganggap semua anggota PKI adalah pembunuh. Sempat beberapa hari mereka harus menahan dingin saat tidur, karena cuma beralas tikar seadanya dan beratap kain lusuh hasil dari mengais sisa-sisa rumah mereka yang sudah roboh. Pakaian merekapun hampir semua dibakar. Atas kebaikkan para saudara ibu Jupri, akhirnya dibagunlah rumah kecil seadanya. Hampir setiap malam ibu Jupri menangis karena khawatir akan nasib suaminya. Dan hampir setiap malam juga Jupri tidak bisa tidur karena ikut menahan batin yang sedih dan perut yang lapar. Kedua adiknya pun sakit-sakitan. Ah…Nasib Jupri bagian kisah kecil dari kisah pilu yang telah diberikan bangsa ini untuk menorehkan sejarahnya.

Genap dua tahun ayah Jupri dipenjara, saat itu akhir tahun 1968. Akhirnya ayah Jupri dipulangkan dengan embel-embel eks-Tapol di KTP nya. Namun tak berlangsung lama, 6 bulan berselang ibu Jupri meninggal karena penyakit TBC. Kisah cinta ayah dan ibunya Jupri memang tak semanis kisah roman kuno ataupun cerita dongeng. Hanya kisah cinta pasangan suami istri di pelosok kampung kala itu. Tapi sangat deras dengan ujian, pengorbanan, dan perjuangan hidup. Bahkan ketika istrinya meninggal dia tak mampu menangis setetespun walau hatinya menahan pilu dan nestapa.

Aku tersadar dari lamunan ketika ayah menepuk pundakku dan mengajak pulang. Ayahku hanya seorang pengepak ikan tongkil di gudang orang. Tiba-tiba ada yang memanggil ayahku dari kejauhan, “Pak Jupri handuknya ketinggalan di gudang”. Ayahku melambaikan tangan pada sumber suara dan menjawab, “iya tidak apa-apa besuk masih mau dipakai, biar saja”. Kamipun melanjutkan berjalan pulang ke rumah yang hanya beberapa ratus meter dari tempat itu. Ayahku adalah si Jupri, anak lelaki yang baru berusia 9 tahun saat “Revolusi 65” pecah. Karena kejadian kelam masa lalu itu juga, aku tak pernah mengenal nenekku. Walau hanya didalam secarik foto pun aku tak pernah melihatnya. Hanya dari cerita ayah aku mencoba merangkai kenangan-kenangan tentang nenek seolah pernah mengenalnya.

Aku sendiri belajar makna cinta dari keluargaku. Cinta yang menerima dengan tulus dari ibuku pada ayahku, dimana setiap hari ia harus tidur sekasur dengan lelaki kampung yang badannya selalu berbau ikan. Cinta yang penuh kasih dan tanggung jawab dari ayah kepadaku, dimana dia selalu dengan senang hati seharian penuh bergulat dengan ribuan ikan dan pisau untuk membuat anaknya mengenyam pendidikan. Cinta yang penuh pengorban dari kakekku pada anak-anaknya, dimana dia rela bertaruh nyawa dilaut untuk sekedar pulang membawa ikan untuk makan anak-anaknya. Cinta yang penuh penantian dan kesabaran dari nenekku kepada kakekku, dimana dia mampu menahan setiap hinaan orang dan menjalani hari-hari terakhirnya sebagai buruh gendong tanpa keluh kesah. Apakah banyak yang bisa seperti ini, aku rasa masing-masing kita tahu jawabannya.

(widyasmarawati@gmail.com)

Memori

MT: “Ambil Pilihan Haruslah Tuntas”

Oleh: M Muafi Himam

“Aku dulu pengen jadi kernet bus,” kata Mas Taufiq-sapaan akrab saya untuk Taufiq Ismail mengawali ceritanya. “Keren aja, bisa ngatur, kiri…kiri. “

Sore ini sekembali dari Indonesia, Mas Taufiq (MT) berkenan berbagi kisah hidupnya. Seperti anak pedesaan di Jawa pada umumnya, orang tuanya lebih memilih pesantren sebagai lembaga didik untuk anaknya. “Orang tuaku bukan orang yang agamis, tapi bapakku sadar dia butuh anaknya untuk pergi ke pesantren,” timpalnya. Continue reading “MT: “Ambil Pilihan Haruslah Tuntas””

Pemikiran dan Tokoh

Jika ada Niat, Pasti ada Jalan untuk Menggapainya

Oleh: Teuku Muammar Rizki Taqwa

Disaat belum ada satu orang pun yang bangun dari tidur lelapnya, ibuku sudah memulai rutinitas paginya, duduk bersila diatas sajadah panjang sembari menggenggam tasbih putih kesayangannya sambil berzikir kepada Ilahi. Bacaan tasbih, tahmid dan tahlil itu dibacanya dengan lirih namun irama syahdu tersebutlah yang selalu membangunkan kelima putra-putri kecilnya itu. Continue reading “Jika ada Niat, Pasti ada Jalan untuk Menggapainya”