Suka-suka

Empat Haiku* tentang Bursa

Oleh: Luqman M Lionar

 

Üniversite

Salju yang terbang

mencari rumah, lalu

mencair pulang.

 

2016

 

Yalova 

Di taman ria.

Adakah yang mendengarkan?

Ombak bercakap dengan batuan.

2016

 

Osmangazi

Jejak hujan

memantulkan sore para pejalan

dan kabut kaki pegunungan.

 

2017

 

Mudanya

Bukit bukit cemara:

Aku terpikir akan Istanbul

dan langitnya yang penuh menara.

2017

 

*) Haiku adalah format puisi pendek dari Jepang, yang dikunci dengan sejumlah aturan. Misalnya; terdiri dari tiga baris, dengan baris pertama terdiri dari lima suku kata, baris kedua tujuh suku kata, dan baris ketiga kembali lima suku kata. Haiku juga sebaiknya mengandung kigo atau kata yang menandakan setting musim tertentu (musim semi, panas, gugur, dingin, hujan, dll.). Akhirnya, sebuah haiku sebaiknya juga mengandung unsur kejutan: di mana baris pertama sampai kedua-nya menggiring pembaca membayangkan sesuatu, sementara baris ketiganya menunjukkan bahwa sesungguhnya ada makna ganda di baliknya. Dalam haiku modern, aturan-aturan ini biasanya diabaikan.

Catatan Kaki

BERSIKAP ADIL PADA PRASANGKA

Oleh: M Muafi Himam

“saya suka presiden Turki yang sekarang,” kata Yahya, seorang teman di Jerman, “dia mampu membangkitkan Turki dari keterpurukan. Sayangnya, kini posisinya digempur depan-belakang. Apalagi oleh orang-orang Kurdi itu,“ lanjutnya. Saya mengangguk faham. “Ya sudah, sampai ketemu Jumat malam,“ Yahya pamit, menaiki bus yang lima menit lagi berangkat. Continue reading “BERSIKAP ADIL PADA PRASANGKA”

Teropong

DIVERGENT; REPRESENTASI NEGARA IDEAL PLATO (?)

Oleh: Dina Metuah

 

“I don’t want to be just one thing. I can’t be.

I want to be brave, and I want to be selfless, intelligent, and honest and kind..”

 

Pada edisi kelima ini, rubrik Teropong akan mengajak kita semua untuk meneropong kembali film Divergent yang dirilis pada April 2014. Yup! Sudah tiga tahun yang lalu, it’s ok, ilmu tak akan pernah ketinggalan zaman. Apa yang baru kita tahu, itulah ilmu baru bagi kita, walaupun ilmu itu sendiri sudah hidup berabad-abad yang lalu. Continue reading “DIVERGENT; REPRESENTASI NEGARA IDEAL PLATO (?)”

Memori

MENGUKIR ASA ANANDA

Oleh : Hanifatul Rahmah

Semua orang berhak memiliki cita-cita. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, diplomat, ada yang bilang ingin menjadi pengusaha sukses, perawat, juga polisi. Tapi wanita yang kukenal ini berbeda. Saat satu demi satu ujian mengikis kesempatannya untuk mewujudkan cita-citanya. Kemudian pada satu titik wanita hebat itu tidak lagi bercita-cita untuk dirinya, ia berjanji untuk bisa memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi generasinya untuk bercita-cita dan mewujudkannya. Sesuatu yang selama ini tidak bisa direngkuhnya. Continue reading “MENGUKIR ASA ANANDA”

Pemikiran dan Tokoh

BERJUANG ≠ BER(J)UANG

Oleh: Noor Fahmi Pramuji

Setiap orang punya alasan dari kebangkitannya. Bangkit untuk berjuang. Orientasi berjuang seringkali diidentikkan dengan memaknai perjuangan sebagai proses untuk mendapatkan materi. Namun, apakah makna dari berjuang itu betul telah mengalami penyempitan hanya sebagai proses untuk ber-uang (baca: mengumpulkan uang dan atau materi). Tulisan singkat ini menorehkan makna kata “berjuang” dari sisi kehidupan inspirator sukses Bapak Jusuf Kalla (JK). Continue reading “BERJUANG ≠ BER(J)UANG”

Kicauan

Kicauan Kenangan

 

Fethiye

Dahulu ilalang, demikian riwayat Bayram Dede ketika pindah ke Fethiye empat puluh tahun lalu, ketika serah terima akta tanah untuk mengembala domba membawa serta keluarga. Kini, Fethiye adalah bagian dari lokus kenangan yang senantiasa bertumbuh. Sebut saja Ilahiyat Fakultesi, Podyum Park, FSM, masjid Somuncu Baba. Betapa harmoni itu telah mendarah daging di sana, antara suara dengung ilmu di kelas-kelas fakultas, rapalan Alquran di cami dan Kuran Kursu yang berefleksi terbalik dengan hingar bingar malam dan gemerlap lampu kafe. Silakan terkejut sekarang, karena peradaban akan lahir di sana lima atau sepuluh tahun lagi lewat tangan cendekia. Tempat banyak orang baik dan orang yang tak jera untuk terus berbuat baik.

Kunjungilah jalan-jalan di Fethiye menjelang Eylül-engkau (masih) akan dapati dapur kayu mengepul membuat domates salcasi stok musim dingin, atau receli sisa panen kebun di musim panas.  Duduklah semenit dua menit di taman, engkau akan tahu berapa jumlah lalu lalang öğrenci Ilahiyat pulang sekolah membawa bungkusan ekmek panas dari kedai roti di ujung sana. Tahanlah kantuk sejenak jika tetanggamu mengundang minum teh selepas Isya, boleh jadi banyak berkah silaturahim disana. Nikmati hidup sebagai penduduk negeri, tempat euforia kebaikan begitu terasa.

Fatimah Az Zahra

 

Ulucami

Kala itu kota Bursa sedang dihujani salju tipis-tipis, tapi dinginnya mampu menembus tiap-tiap lapisan kulit sekian tebal. Hawa dingin lekas teralihkan tatkala bangunan yang kokoh berdiri di jantung kota Bursa melantukan suara muadzin yang menggema bersama suara-suara angin. Dialah bangunan dengan dua puluh kubah kecil-kecil yang sarat hikayat yang melegenda dalam sejarah Islam. Dialah saksi atas kemenangan Beyazid di Perang Nicopolis setelah mengalahkan pasukan perang Salib di abad pertengahan. Kini, dia menjadi saksi atas kemenangan setiap insan yang berhasil menaklukan pertempuran hebat dengan hati mereka sendiri, atas pencarian tentang hakikat sang Pencipta. Dialah saksi atas setiap tangan yang menengadah penuh harap kepada Sang Khalik. Dia pulalah yang menjadi saksi atas derai air mata yang jatuh kala bersimpuh pada Ilahi. Seolah sudah jadi kodratnya menjadi saksi bisu tiap peristiwa, hari itu adalah perpisahan saya dengan kota Bursa, dan dia menjadi saksi akhir perjalananku di negeri Khalifah.

Enam tahun lalu saya minum dari pancuran air Ulucami, dan saya datang kembali empat tahun kemudian. Enam bulan lalu saya minum airnya lagi, mungkin saya akan datang kembali empat bulan lagi. Ulucami akan menjadi saksinya.

Fadhilah Wulandari

 

BursaRay

Bergerak setiap pagi mengangkut orang-orang yang berkejaran pergi ke daerah industri di organize sanayi, para mahasiswa yang hendak kuliah, dan para lansia yang ingin bepergian sejenak melepas jenuh. BursaRay pagi sering diwarnai cekcok ibu-ibu, suara musik yang bocor dari headset anak kuliahan, atau suara kakek-kakek tua yang bertelepon ria tanpa peduli penumpang di sebelahnya yang terganggu. Berbekal secarik kertas kecil bertuliskan “Üniversite 2.No’lu” aku memulai perkenalanku dengan kereta hijau bergerbong empat ini. Ia tempat refleksi diri karena akan begitu banyak jenis orang yang kau temui. Dari teyze-teyze berjilbab lebar yang memegang zikir matik sepanjang jalan serta amcaamca yang memutar tasbih, anak kuliahan yang tertidur kelelahan sambil memegang ders notu untuk vize, siswa SMA yang akan memandang wajah asing dengan penuh rasa ingin tahu, sampai tipe orang yang akan mewawancarai orang asing sepanjang perjalanan. Jika berkunjung ke Bursa, sesekali naiklah metro seorang diri dan perhatikan sekelilingmu dengan jeli. Mungkin akan kau dapatkan kesanmu sendiri.

Hanifatul Rahmah

Imaji

Janji Tuhan

Sudah kubilang, takdir Tuhan akan datang di waktu yang tepat

Tak perlu kau risau sebab semua ketentuan sudah tercatat

Hanya pada Rabb-mu kau bisa berharap

Bukan pada manusia yang banyak mengumpat

Sebab kita hanya bisa memelihara ketidakpastian

Mengukir mimpi di sela-sela angan

Berjuanglah maka kau akan bisa bertahan

Melawan nafsu yang terus melalang

Aku tau ada perih yang kau sembunyikan

Ada luka yang tak bisa kau ungkapkan

Tapi yang ku tahu satu, janji Tuhanku itu pasti

Teruntuk mereka yang selalu sujud tanpa henti.

~ Intan Popy Rinaldy ~

Editorial

Editorial Edisi Kelima

Bersiar-siar di tepi telaga

Untuk berlibur hati yang lara

Kepada bunda yang jauh di mata

Hati ananda ada rindu tak terkira

Setiap manusia tak bisa menebak kapan rasa rindu itu kan datang. Seperti halnya dengan barisan pantun di atas, kerinduan yang terbendung pun akan memuncak seiring dengan jalannya waktu. Namun, akankah kita akan mati oleh kerinduan? Tentu tidak.

Kerinduan justru mengajarkan kita rasa memiliki, rasa menghargai dan menjadi diri yang tegar. Menjadi diri yang mampu berjalan lurus di atas kerikil yang tajam dan panas. Menjadi manusia yang mampu menikmati proses dalam setiap langkahnya. Tanpa rasa rindu, seseorang akan hampa bagai terdampar di padang pasir yang tandus. Kekeringan dan hanya sengatan matahari yang akan menemani kita. Rasa rindu pun mengajarkan kita tak kenal patah semangat untuk bertemu dengan orang yang kita sayangi.  Berbagai cara akan kita tempuh untuk bisa meluapkan rasa rindu tersebut. Karena akan selalu ada titik terang dalam setiap rangkaian kegelapan hidup bagi siapa saja yang tak pernah mengeluh. Oleh karena itu, hasil tak akan membohongi sebuah proses dari suatu perjuangan.

Begitulah dengan tema buletin kali ini, kami ingin  menyuguhkan sajian renyah dari arti kata berjuang. Di mana perjuangan dapat kita maknai dari berbagai sudut pandang.

Akankah makna perjuangan bisa dikatakan sebagai batu loncatan untuk mendapatkan nilai dan material atau kita mampu mengartikan  perjuangan yang sesungguhnya? Edisi ini menyuguhkan pandangannya.

So, jangan lupa baca dan resapi kenikmatan setiap langkah perjuangan itu sendiri.

Tanyakan pula pada diri;

Sudahkah kita berjuang untuk sesuatu yang ingin kita raih atau hanya menunggu santai tanpa sebuah usaha?

Berlelah-lelahlah engkau karena manisnya hidup teras setelah lelah berjuang. Jika engkau tak tahan lemahnya belajar, engkau akan menanggung perihnya kebodohan.

Terima kasih dan semoga para pembaca berkenan.

Nisa Maulida

Cerpen

Surat Untuk Fajar

Oleh : UVUV

Di pagi yang cerah, seperti biasa Fajar bergegas menyiapkan seragam dan peralatan sekolahnya, Fajar begitu bersemangat pagi itu karena ada pelajaran yang sangat ia sukai, pelajaran olahraga. Sesampainya di sekolah, Fajar diberitahu temannya bahwa di kabupaten akan ada klub sepak bola dari kota Malang yang sedang membuka pendaftaran seleksi pemain-pemain berbakat untuk menjadi pemain inti di akademi junior tim tersebut. Continue reading “Surat Untuk Fajar”