Catatan Kaki

BERSIKAP ADIL PADA PRASANGKA

Oleh: M Muafi Himam

“saya suka presiden Turki yang sekarang,” kata Yahya, seorang teman di Jerman, “dia mampu membangkitkan Turki dari keterpurukan. Sayangnya, kini posisinya digempur depan-belakang. Apalagi oleh orang-orang Kurdi itu,“ lanjutnya. Saya mengangguk faham. “Ya sudah, sampai ketemu Jumat malam,“ Yahya pamit, menaiki bus yang lima menit lagi berangkat.

Pukul delapan malam kita bertemu di warung Döner. Warung masih kosong, hanya ada Halil Usta, sang pemilik, yang asik menonton drama Turki populer-Ertuğrul. Kita memesan dua potong Döner daging tanpa bawang. “Salam!” seorang bapak paruh baya memasuki warung bersama wanita, mungkin istrinya. Spontan kita berdua menjawab salamnya. “Halo, anda berdua dari mana asalnya?“ begitulah sapaan pertama bagi mayoritas orang Turki pada orang asing yang ditemuinya. “kami berdua dari Indonesia.” “Saya Ahmet,” katanya sembari menjulurkan tangan kanan.

Dalam lima menit, obrolan kita bertiga sudah tak terkendala. Yahya memanfaatkan kesempatannya. “Saya penggemar berat presiden anda. Oh iya, anda tahu kan, orang-orang Kurdi di timur Turki? Saya tak suka mereka. Akhir-akhir ini ekonomi Turki tak stabil gara-gara mereka yang selalu ribut,“ panjang lebar Yahya menyampaikan isi kepalanya. “Oh, begitu ya,” Ahmet mengangguk pelan. Dia berusaha bicara. “Saya tumbuh besar di Mersin,” katanya. “Namun sejak umur tujuh belas, saya sekeluarga pindah ke Istanbul. Jadi saya orang Kurdi juga, haha..

Yahya terkejut. “Oh, maaf,” ucapnya, meraih tangan Ahmet. “Tak apa, kok,” Ahmet merangkulnya. “Saya maklum. Apalagi orang non-Turki sepertimu. Beberapa orang menjadi semakin sensitif lantaran sikap kecenderungan yang dilebih-lebihkan. Benar, saya orang Kurdi dan bangga terhadap etnis saya ini. Namun saya juga warga Negara Republik Turki. Wajib militer saya ikuti, bela Negara pun saya berani, terangnya panjang.

“Nah, sayangnya media lebih gemar menggiring isu-isu patriotisme seperti ini. Kalian yang peduli pada Turki akhirnya juga tergiring opini yang dibuat mereka.”

Saya tercenung. Media memang kudu obyektif, walau tak harus netral. Koran propemerintah boleh saja memasang headline prestasi penyelenggara Negara di tiap terbitannya. Namun, koran oposisi juga berhak menyinggung bobrok pemerintah dengan font super besar di halaman pertamanya. Tak jarang, akhirnya para pembaca yang konstan menikmati satu jenis koran perlahan terbentuk opininya, terdogma, dan membela mati-matian ‘ideologi’ barunya. Akibatnya, kita semakin tak peka pada prasangka: buruk, atau baikkah?

Prasangka adalah luapan emosional, yang seringkali menjadi sebab terjadinya ledakan sosial. Prasangka bisa ditimbulkan oleh berbagai sebab, utamanya alasan perasaan. Prasangka seringkali muncul karena perbedaan identitas antarkita. Misalnya, prasangka antar pemeluk agama, golongan, atau kaya-miskin. Puncaknya, kondisi terburuk adalah prasangka kita pada diri sendiri. Hilangnya sikap yakin pada diri sendiri rentan memicu prasangka buruk pada Tuhan. Lantas berakhir dengan sikap menyalahkan, berujung pada keputusasaan. Nah, ada baiknya memberi perhatian lebih pada prasangka kita. Bersikaplah adil padanya. Bersabarlah, tunggulah mereka berbicara, menjelaskan keadaan sebenarnya. Tunggulah dirimu berusaha, nanti di titik akhir biarlah syukur yang berbicara. Karena sudah tak ada lagi prasangka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *