Catatan Kaki

Pamitan dari Saya

Oleh: M Muafi Himam*

 

Kita ini kurang baca.

Bagi semua, pernyataan di atas telah jamak didengar, sudah terlalu biasa. Saya yakin, yang dikhitobi* juga biasa saja. Akan tetapi masalah utama kita memang itu: kurang baca. Bisa jadi karena malas baca, bisa saja sebab salah baca. Mari menamakannya dengan penyakit “Kurang Baca”, atau KB. KB ini penyakit yang semua orang punya; jinak jika ia tahu kapasitasnya, menjadi ganas jika sang pengidap tak segera menyadarinya.

Dulu, seminggu sebelum resmi meninggalkan jenjang SMA, seorang Guru ‘iseng’ bertanya, “Hingga sekarang ini, telah berapa buku yang kalian selesaikan?” Sepuluh buku adalah jawaban rata-rata kita, di luar buku wajib sekolah tentunya. Itupun lima diantaranya adalah karya-karya fiksi remaja. Saat itu, bagi saya tak ada yang salah tentang kuantitas bacaan kita. Semua baik-baik saja, asal nilai tetap di atas lima.

Saya kaget-ada malunya juga, saat di hari pertama kelas Yüksek lisans*, Sang Hoca* bertanya perihal judul buku-buku sejarah agama apa saja yang telah kita baca, dan “coba jelaskan isinya!” pungkasnya. Tersebutlah nama-nama seperti Abdurrahman Küçük, Gündüz, Eliade, Weah, Otto, hingga Müller yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Saya sendiri bengong; lalu mencatat satu persatu nama-nama asing dan judul buku yang tak purna disebutkan itu. Ternyata kita, maksudnya saya, memang sangat kalah jauh kuantitas bacaannya dibanding mereka yang dalam hal umur sebenarnya juga tak berbeda.

Sepengetahuan saya, sistem wajib baca di Turki memang lebih teratur. Sejak dini, MEB* memiliki panduan “wajib baca” bagi para pelajar di tiap tingkatan. Buku-buku “wajib baca” ini memuat karya sastrawan lama Turki macam Sabahattin Ali dan Samiha Ayverdi. Maka maklum jika para akademisi mereka termasuk kategori produktif, tak hanya menulis roman saja. Kuantitas baca pada akhirnya memang melatih kualitas intelejensi seseorang. Semakin banyak baca, bicaranya jadi semakin tertata. Tulisannya juga semakin bersastra. Yang paling penting: saat bicara ada referesinya.

Banyak cara digunakan untuk menangkal penyakit KB dan meningkatkan minat baca. Saya memilih menulis; sebab menulis memaksa penulisnya untuk membaca. Ibaratkan, engkau memiliki sebuah foto yang sangat aduhai-contohlah foto tentang laut, dan merasa kurang jika tak dilengkapi dengan quote yang indah nan sesuai. Lalu engkau mulai membuka Google, mengetik “kutipan indah tentang laut”. Muncullah beberapa halaman, dengan kutipan bermacam-macam. Engkau baca satu persatu, ketemulah yang dituju. Bayangkan saja, setidaknya engkau telah membaca beberapa karya, walaupun cuma cuplikan kata-kata indahnya saja. Begitulah menulis, engkau perlu banyak membaca dahulu agar tulisanmu dianggap ‘bermutu’.

Bermutu? Bermutu adalah saat engkau menikmati tulisanmu. Tulisan elok nan bersayap bisa saja tak bermutu jika si penulis tak menikmati karyanya. Bermutu adalah saat penulis berani menuangkan ide dan curahan hatinya; apapun gaya dan bentuk tulisannya. Maka, menulis adalah menumpahkan kegelisahan, melepaskan tekanan, menyalurkan pikiran; juga apa saja yang engkau anggap sebagai pembebasan. Bahkan, para penulis sekarang telah sampai pada tahap membangkitkan, memotivasi mereka yang menganggap dirinya dalam keterpurukan. Itu sebuah efek positif, tentu saja. Menulis adalah obatnya.

Nah, bagi saya, buletin Ya! ini merupakan salah satu obat untuk penyakit KB. Saya tak tahu, apakah kita benar-benar “kurang baca”, namun kita memang benar-benar KN (kurang nulis). Saya pikir, buletin yang amat ‘bebas’ ini mampu mewadahi corak minat dan kecendrungan kawan-kawan di Bursa yang sangat berwarna. Tak melulu ‘ilmiah’, konten buletin ini malah banyak ‘curhatannya’. Dan itu bagus, karena menulis (seperti yang saya sebutkan di atas tadi) adalah mencurahkan isi hati melalui olah pikiran. Maka saya sangat bersyukur sekali tatkala kawan-kawan yang tergabung dalam Ya! ini berbahagia untuk mengulurkan tangan, meluangkan zaman, menyumbangkan peran, serta melanggengkan rutinan Köfteci Yusuf* bulanan. Saya harap buletin ini adalah pijakan kecil bagi kita untuk mulai berbagi: bahwa nyamuk kecil yang kita anggap penganggu pun ternyata ada manfaatnya; bahwa pengalaman dan kesan semini apapun milik kita bisa jadi sebuah Eureka! bagi kawan yang membaca. Saya ucapkan terima kasih tak terbilang kepada Rekan Nisa, Fikri, Muji, Rahma, Dina, Popy, Muammar, Vichi dan Maestro atas keikhlasan mereka. Pula kepada PPI Bursa, para penulis yang telah ‘curhat’ di edisi-edisi Ya!, juga para pembaca.

Kini saya harus pamit undur diri; sebab perpisahan adalah sebuah keniscayaan. Bisa saja garis kita akan berjumpa lagi nanti, di ruang kebaikan lain. Atau, mungkin saja kita telah mencapai ujung dan harus mengambil jalan masing-masing: engkau ke Emek, saya ke Üniversite*. Sebaiknya maaf harus kerap tersampaikan, apalagi di detik terakhir. Sebab interaksi tanpa cela tak mungkin ada. Akhirnya saya haturkan maaf sebesar-besarnya.

Menulislah, walau engkau sedang penuh derita. Siapa tahu, Tuhan membebaskanmu melalui tulisan yang engkau anggap curhatan. Menulislah, apalagi saat engkau sedang berbahagia. Mungkin saja, bahagiamu akan menyinari. Sebab banyak dari kita yang mulai lupa cara menciptakan bahagia yang sebenarnya ada dalam diri; terpendam tertumpuk luka. Menulislah, tak perlu cari alasan apa-apa.

______________________________________________

[*] Pembantu sekaligus Pemred buletin Ya!

[*] disebut, dituju

[*] Strata dua; setingkat Pascasarjana

[*] Panggilan untuk guru, dosen, serta para pengajar yang dituakan di Turki

[*] Milli Eğitim Bakanlığı; Kementrian Pendidikan.

[*] Rumah makan khas dengan menu Köfte yang sangat terkenal di Bursa. Biasanya kru Ya! sering mengadakan rapat di sana.

[*] Nama jalur kereta bawah tanah di Bursa. Terdapat dua jalur kereta di Bursa; Emek (jalur 1) dan Üniversite (jalur 2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *