Cerpen

Boneka untuk Asma

 

oleh: Fatimah Azzahra

 

Jika ingin memenuhi daftar agenda dengan senyuman maka setiap hari bertemu Keumala adalah hari di mana kalian bisa melihat senyumannya yang indah. Tidak ada hari baginya kecuali senyum yang terpasang default di wajah manisnya. Dari wajahnya engkau temui guratan keteguhan dan ketegasan dalam satu tarikan seperti wajah pahlawan wanita Tjut Nyak Dien. Alis matanya tegas hitam bak semut berbaris dan bola matanya kelam lugas, seolah menyimpan kenangan misterius yang sangat dalam. Engkau akan menemukan hampir seisi sekolah yang mengenali Keumala hanya dengan menyebut namanya, dan tak seorangpun bisa menebak masa lalunya dengan sempurna. Continue reading “Boneka untuk Asma”

Cerpen

Obrolan di Tengah Malam

 

oleh: Sarah Tsabita

 

“Kak, sebenarnya aku boleh bilang enggak kalau aku capek?”

Tengah malam, pada saat terbaring di lantai dan ditemani berbagai buku dan kertas berserakan di sekitarnya, Lia mengutarakan hal yang selama ini mengganggunya. Pada awalnya itu bukan hal besar. Seiring berjalannya waktu, hal itu berkembang menjadi sesuatu yang tidak bisa Lia cegah. Sering kali gadis itu terbangun dalam keadaan yang lebih lelah dari sebelumnya. Menatap kosong langit-langit kamar, ia bertanya untuk apa kemonotonan hidupnya berjalan? Bangun di pagi hari, melakukan rutinitas di rumah, pergi ke tempat bimbelnya, pulang di sore hari (terkadang sampai malam), lalu kembali mengerjakan latihan soal hingga larut malam sebelum akhirnya tidur—dan hal yang sama terulang lagi keesokan harinya. Pertanyaan itu tak pernah terjawab karena otaknya dipaksa untuk fokus terhadap soal-soal itu. Rumus-rumus itu. Materi-materi itu. Continue reading “Obrolan di Tengah Malam”

Cerpen

Surat Untuk Fajar

Oleh : UVUV

Di pagi yang cerah, seperti biasa Fajar bergegas menyiapkan seragam dan peralatan sekolahnya, Fajar begitu bersemangat pagi itu karena ada pelajaran yang sangat ia sukai, pelajaran olahraga. Sesampainya di sekolah, Fajar diberitahu temannya bahwa di kabupaten akan ada klub sepak bola dari kota Malang yang sedang membuka pendaftaran seleksi pemain-pemain berbakat untuk menjadi pemain inti di akademi junior tim tersebut. Continue reading “Surat Untuk Fajar”

Cerpen

Das L(i)eben

Oleh: M Muafi Himam

 

Hamparan sawah yang kulewati cukup indah saat terik senja mendarat tepat di tengahnya. Aku baru sampai di Wotzendorf, setengah jam perjalanan dari kota asalku. Jalanan lenggang, namun bus yang kutumpangi berjalan pelan, membiarkan para penumpang menikmati pemandangan sore ini. Hamparannya berwarna. Beberapa ada yang masih hijau, beberapa yang lain telah menguning. Di ujung sana, dua-tiga petak telah kosong, berganti tanah basah. Kupandanginya dari kejauhan. Ia memanggil, aku tenggelam ke dalamnya.

“Akan selalu ada kegilaan dalam hubungan kita. Tapi aku percaya, tiap kegilaan punya alasan,“ ucapku berat, mengutip Nietzsche. Aku mencoba memeluknya, tapi dia membatu. “Inilah kita. Ia tak perlu alasan untuk bersama,” pelan sekali bisiknya, tanpa membalas pelukku.

Aku mulai merasakan keegoisannya, dan aku tak suka. Masih pekat ingatanku pada Prof. Zimmermann dengan suara baritonnya yang menjelaskan buah pikir Sartre. “Cinta sejati,“ katanya di kelas Moral and Philosophy, “bisa terjadi ketika sepasang kekasih memiliki rasa yang dalam untuk saling menghormati kebebasan mereka. Tak menganggap kekasihnya sebagai obyek yang harus dimiliki seutuhnya.”

“Makanya, cinta bukanlah untuk mencari pasangan. Namun dengannya, kita menyelami diri lebih dalam,” lanjutnya.

“Komitmen total dalam sebuah hubungan?. Proporsi yang tak masuk akal!” kata Zimmermann di sesi lain. “Keadaan selalu berubah, begitu pula orang-orangnya. Seharusnya tema komitmen juga menyesuaikan keadaan. Lebih fleksibel.” Keseringan mengikuti kelas Zimmermann membuatku semakin setuju isi ceramahnya. Jangan-jangan karena ini, aku mulai menimbang kembali hubunganku dengannya.

Kernet mengumumkan sesuatu. Bus tiba di Bamberg. Masih tiga jam lagi perjalananku. Kubuka notifikasi Facebook, muncul dua pemberitahuan tentang event musik di kampus menyambut musim panas. Minggu kemarin juga diselenggarakan acara yang hampir sama. Aku hadir saat itu, duduk nyaman di depan mencoba sejenak melupakan tentangnya. Salah memang, mencoba melupakannya. Namun, untuk saat ini, melupakan sejenak adalah cara untuk tertawa. “Karena hari yang paling sia-sia adalah hari dimana kita sama sekali tak tertawa!” bentak Nicholas Chamfort pada isi kepalaku keras sekali. Aku kaget, ia terbahak.

Musik mengalun cepat, selaras senja yang bergegas menyambut malam. Iringan musik sama sekali tak menimbulkan tawa, malah sendu. Pikiranku berkecamuk. “Kau tak pernah sungguh-sungguh mencintainya!” giliran Lennon menyentakku, “rasa yang kau berikan padanya tak sebesar yang kau harapkan darinya. Perbaiki rasamu.”

Aku mulai merenggang darinya saat situasi batas mulai membenturku. Aku menderita, tapi dia tak terlihat peduli. Aku berjuang di tengah bencana, dia diam saja. Pernah sekali kutanya, tak adakah lagi kepekaanmu padaku?.

“Bagaimana aku ikut campur? Engkau tak pernah mau membicarakannya, jawabnya jujur.

“Engkau selalu merasa masih bisa berdamai dengan pikiranmu. Engkau merasa bisa mengatasi semua. Padahal, aku selalu menantimu untuk berbagi denganku. Aku selalu menunggumu tiap hari di sini, menatapmu. Aku-lah yang pertama melihatmu saat engkau datang, lantas duduk di pojok ruangan. Merasakan aromamu saat aku masuk ke ruangan yang baru saja engkau tinggalkan. Menjadi familiar dengan caramu menempelkan kedua bibirmu, caramu membentuk senyum yang perlahan,” katanya panjang.

“Ada lilin di hatimu yang siap untuk dinyalakan. Ada kehampaan di kalbumu yang siap untuk diisi. Engkau merasakannya, bukan?”

Aku tak mampu menyambut ucapannya. Ia benar, aku terlalu larut dalam kecamuk pikiranku sendirian. Banyak orang takut akan lukanya. Lalu tenggelam dalam kesemuan. Bagi sebagian, sukacita adalah segalanya: ia membahagiakan. Bagi yang lain, dukacita bernilai lebih besar: ia mengingatkan. Mungkin, keduanya memang tak dapat dipisahkan. Saat salah satunya sedang duduk bersamamu di ruang tamu, ingatlah, yang satunya lagi sedang menunggu di kamar tidurmu.

Malam telah merambat saat bus mulai memasuki perkotaan Würzburg. Kecepatan bus menurun, menandakan Würzburg adalah kota besar. Bus melewati Magdalene straße, jalan di mana Julius Maximilians Uni-Würzburg berada. Di depannya berdiri kokoh bangunan empat tingkat bergaya Prusia, sebuah perpustakaan utama. Beberapa mahasiswa berhamburan pulang dengan sepeda masing-masing. Baru kemarin sore, di depan perpustakaan kampus kami, aku berpisah darinya.

“Jika engkau mencintai seseorang, biarkanlah ia pergi. Jika ia kembali, mungkin ia memang milikmu. Namun jika sebaliknya, ia mungkin bukan untukmu,“ kugenggam dalam-dalam telapak kanannya, meyakinkannya.

“Kemana engkau akan pergi?” Ia masih ragu.

“Tak tahu. Perjalanan mungkin akan membawa kembali kekuatan dan cinta pada kehidupan.”

Ia menggeleng. “Jangan paksakan dirimu untuk menemukan kembali cinta dalam perjalananmu. Ia juga tak akan menemuimu. Cinta ada pada dirimu. Ia bersamamu kemanapun engkau pergi,” katanya.

Aku diam saja. Sudah saatnya pergi. “Aku mencintaimu. Aku tahu engkau pun begitu. Jangan ciptakan ikatan di antaranya. Biarlah ia menjadi lautan yang bergerak di antara tepi jiwa kita. Aku pergi dulu.“

Keluar dari daerah perkotaan, bus mulai menambah kecepatannya. Ia merayap stabil. Aku pun mulai terlelap. Ponselku bergetar, sebuah pesan singkat masuk.

“Aku tahu engkau sedang lelah, namun datanglah. This is the way.”

Aku mulai ragu. Ia terlalu mencintaiku. “Perpisahan hanyalah bagi yang saling mencintai sebab apa yang mereka lihat. Bagi jiwa dan kalbu yang saling mencinta, tak ada kata berpisah,” katanya suatu hari. Cinta begitu absurd. Begitu juga sumbernya: hidup. Semua tahu, hidup mengandung segala probabilitas; kecewa, derita, luka, gagal. Juga bahagia, harapan, dan tentunya cinta. Kata Camus, hidup terasa absurd karena tak sepenuhnya terpahami.

Manusia hanya perlu menerima, bahwa absurditas adalah fakta. Sebab penderitaan adalah hadiah Tuhan. Di dalamnya tersembunyi kemurahan hati. Tiap kekecewaan melapangkan dada. Tiap derita mampu menumbuhkan empati. Tiap kegagalan menjadi pembelajaran. Manusia menggedor pintu rumahnya tanpa henti, ia ingin segera membukanya, mencari tahu segala isi rumahnya. Yang tak disadari, ia sedang berada di dalam rumahnya sendiri. Man muss das Leben lieben, um es zu leben. Cintailah hidupmu. Perjuangkan cintamu pada hidup.

Bus yang kutumpangi berhenti di tujuannya. “Dan kau,” bisik Rumi padaku, “Kapan kau akan mulai perjalanan panjang menuju dirimu yang sesungguhnya?“

Cerpen

Sepotong Roti

Oleh Nisa Maulida

Matahari pagi sudah menghilang dan berada pada puncaknya. Di bawah sinar matahari yang melekat, orang-orang pun sudah sibuk dengan aktifitasnya. Namun gemericik air dan gelombang maut di kolam renang Mangga jati, Jakarta Barat itu seakan masih menghipnotis Farrel dan Bintang untuk terus berenang. Sesekali  mereka memainkan tubuh mereka di atas ban yang mengapung dan menyelusuri area kolam renang Mangga Jati dengan cerah ceria dalam buai sang segar air kolam. Continue reading “Sepotong Roti”

Cerpen

Tentang Ayahku, Kakekku, dan Revolusi 65

Oleh : Widya Asmarawati

Sore ini aku hanya bisa terduduk merenung di salah satu sudut pelabuhan kecil di kampungku. Di depanku terhampar kapal-kapal yang tertambat dengan jangkar-jangkarnya berjajar memanjang sejauh mata memandang. Aku memang sedang gundah karena minggu depan akan diwisuda, tapi sampai sekarang masih luntang-lantung tak jelas mau bekerja dimana. Pernah juga terpikir, capek-capek sekolah dan belajar namun akhirnya buntu juga. Kenyataan seperti ini jamak dirasa oleh teman-teman seperjuanganku. Sembari mikir sekitar sepuluh meter di depanku beberapa bapak paruh baya dan seorang anak berumur belasan tahun tampak sedang sibuk menurunkan muatan kapalnya. Tentu saja mereka adalah para nelayan yang baru saja merapat pulang dari perjalanan berhari-hari di lautan lepas. Wajah mereka tak tampak gembira, tentu saja bisa kutebak hasil melaut mereka tak seperti yang diharapkan.

    Sungai Gong yang saat ini tepat di depanku, merupakan satu-satunya jalur para nelayan kelaut dari sini. Sungai Gong punya ceritanya sendiri yang tak bisa dilupakan bagi masyarakat sini. Napak tilas pikiranku saat sungai ini pernah menjadi salah satu saksi sejarah paling kelam negeri ini. Pagi itu sekitaran akhir tahun 1965, seorang anak lelaki 9 tahunan tengah berdiri menatap puluhan mayat yang mengambang dan terseret pelan oleh arus sungai Gong menuju ke laut. Terlihat jelas bekas luka penyiksaan dibadan mereka yang masih ditempeli darah berwarna kecoklatan. Walau agak membengkak tetapi wajah-wajah mayat tersebut tampak belum terlalu membusuk. Sejak beberapa bulan setelah kejadian 30 September dan penangkapan besar-besaran orang-orang yang dianggap anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), memang sering terlihat pemandangan mengenaskan seperti itu di sungai Gong. Mayat-mayat orang-orang tak dikenal dalam jumlah puluhan sering tampak mengambang terbawa arus seolah sengaja dibuang di sana. Mata anak lelaki yang hanya memakai celana pendek warna hitam kumal yang bagian pinggangnya hanya diikat dengan tali rafia dan bertelanjang dada itu terus menatap mayat-mayat yang semakin menjauh itu. Anak kecil ini bernama Jupri. Dia berharap tidak ada satupun wajah dari mayat-mayat itu yang dia kenal. Dan setelah dia pastikan, dengan menghela nafas dia beranjak mengambil kailnya yang semula akan dipakai untuk memancing. Keinginannya untuk membawakan lauk untuk makan adik-adiknya sirna sudah dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.

Rumah Jupri tak jauh dari sungai Gong. Ibunya adalah seorang perempuan berusia 20an tahun yang berpostur kurus dan wajah yang kuyu. Sebenarnya mereka tidak punya sawah, jadi setiap pagi ibunya pergi ke sawah dan berharap bisa mendapat sisa-sisa padi. Dari situlah mereka dapat makan nasi, jika hari itu tidak ada yang panen maka ibunya akan beralih ke pasar untuk menjadi buruh gendong harian dengan upah yang sangat tidak layak, begitulah keseharian mereka. Sebelumnya mereka adalah keluarga yang berkecukupan. Namun ayah Jupri diajak teman dekatnya untuk bergabung menjadi anggota PKI yang memang sedang naik daun pada saat itu. Partai ini mengusung ideologi komunis dengan paham sosialisnya. Faktor ekonomi yang menghimpit serta janji “sama rasa sama rata” menjadi magnet yang sangat kuat pada masa itu. Juga para pembesar PKI dekat dengan Presiden Soekarno. Maka masuklah ayah Jupri menjadi anggota PKI. Pola pikir khas orang kampung yang polos ingin memperjuangkan keadilan. Mereka tidak sadar dibalik itu semua ada skenario besar sedang mengintai yang akhirnya akan mengubah hidup mereka dan bahkan sejarah dunia.

Beberapa bulan kemudian terjadilah kejadian G30S/PKI. Dimana 6 orang jenderal diculik dan dibunuh oleh pasukan tak dikenal pimpinan Sjam Kamaruzaman yang mengaku utusan presiden. Alasan penculikkan ini berawal dari adanya isu tentang Dewan Jenderal yang dikabarkan ingin melakukan kudeta. Sebenarnya penculikkan para Jenderal ini direncanakan oleh D.N. Aidit yang adalah pucuk pimpinan PKI saat itu. Beberapa hari setelah kejadian 30 September, Soeharto membawahi penangkapan besar-besaran orang-orang yang dianggap anggota PKI atau berhubungan dengannya. Di sisi lain pihak anggota PKI dan simpatisannya yang masih bertahan mencoba melakukan perlawan. Banyak ulama yang saat itu menjadi target pembunuhan dan masuk dalam “Daftar bunuh” oleh PKI. Salah satu hal yang dimanfaatkan dengan baik oleh para pembuat skenario peristiwa itu adalah rakyat yang lapar dan sengsara tentu sangat mudah terbakar emosinya. Bahkan ada yang mengatakan, dari sejak kemunculan paham komunis sampai sekarang sudah memakan korban tidak kurang dari dua ratus juta jiwa.

Ayah dan paman Jupri juga ikut terciduk saat penangkapan sampai akhirnya paman Jupri meninggal karena tak tahan disiksa. Beberapa hari setelah ayah Jupri ditangkap, rumah mereka pun dirobohkan oleh orang-orang kampung yang marah karena menganggap semua anggota PKI adalah pembunuh. Sempat beberapa hari mereka harus menahan dingin saat tidur, karena cuma beralas tikar seadanya dan beratap kain lusuh hasil dari mengais sisa-sisa rumah mereka yang sudah roboh. Pakaian merekapun hampir semua dibakar. Atas kebaikkan para saudara ibu Jupri, akhirnya dibagunlah rumah kecil seadanya. Hampir setiap malam ibu Jupri menangis karena khawatir akan nasib suaminya. Dan hampir setiap malam juga Jupri tidak bisa tidur karena ikut menahan batin yang sedih dan perut yang lapar. Kedua adiknya pun sakit-sakitan. Ah…Nasib Jupri bagian kisah kecil dari kisah pilu yang telah diberikan bangsa ini untuk menorehkan sejarahnya.

Genap dua tahun ayah Jupri dipenjara, saat itu akhir tahun 1968. Akhirnya ayah Jupri dipulangkan dengan embel-embel eks-Tapol di KTP nya. Namun tak berlangsung lama, 6 bulan berselang ibu Jupri meninggal karena penyakit TBC. Kisah cinta ayah dan ibunya Jupri memang tak semanis kisah roman kuno ataupun cerita dongeng. Hanya kisah cinta pasangan suami istri di pelosok kampung kala itu. Tapi sangat deras dengan ujian, pengorbanan, dan perjuangan hidup. Bahkan ketika istrinya meninggal dia tak mampu menangis setetespun walau hatinya menahan pilu dan nestapa.

Aku tersadar dari lamunan ketika ayah menepuk pundakku dan mengajak pulang. Ayahku hanya seorang pengepak ikan tongkil di gudang orang. Tiba-tiba ada yang memanggil ayahku dari kejauhan, “Pak Jupri handuknya ketinggalan di gudang”. Ayahku melambaikan tangan pada sumber suara dan menjawab, “iya tidak apa-apa besuk masih mau dipakai, biar saja”. Kamipun melanjutkan berjalan pulang ke rumah yang hanya beberapa ratus meter dari tempat itu. Ayahku adalah si Jupri, anak lelaki yang baru berusia 9 tahun saat “Revolusi 65” pecah. Karena kejadian kelam masa lalu itu juga, aku tak pernah mengenal nenekku. Walau hanya didalam secarik foto pun aku tak pernah melihatnya. Hanya dari cerita ayah aku mencoba merangkai kenangan-kenangan tentang nenek seolah pernah mengenalnya.

Aku sendiri belajar makna cinta dari keluargaku. Cinta yang menerima dengan tulus dari ibuku pada ayahku, dimana setiap hari ia harus tidur sekasur dengan lelaki kampung yang badannya selalu berbau ikan. Cinta yang penuh kasih dan tanggung jawab dari ayah kepadaku, dimana dia selalu dengan senang hati seharian penuh bergulat dengan ribuan ikan dan pisau untuk membuat anaknya mengenyam pendidikan. Cinta yang penuh pengorban dari kakekku pada anak-anaknya, dimana dia rela bertaruh nyawa dilaut untuk sekedar pulang membawa ikan untuk makan anak-anaknya. Cinta yang penuh penantian dan kesabaran dari nenekku kepada kakekku, dimana dia mampu menahan setiap hinaan orang dan menjalani hari-hari terakhirnya sebagai buruh gendong tanpa keluh kesah. Apakah banyak yang bisa seperti ini, aku rasa masing-masing kita tahu jawabannya.

(widyasmarawati@gmail.com)

Cerpen

Panggil Dia Ayah

oleh: Hanifatul Rahma

 

“Kenalkan Fa, ini Ayah kamu..”

Aku yang baru pulang dari jalan-jalan bersama teman kuliahku diam diambang pintu. Salamku bukan cuma dijawab mamah dengan “waalaikumsalam” tetapi lengkap dengan berita besar. Kalau bukan karena melihat ekspresi mamah saat itu mungkin aku akan berpikir ini salah satu gurauannya. Mamah memang suka bercanda tetapi bukan ini ekspresi bercandanya. Ekspresi ini terlalu rumit, datar, dan susah dijelaskan. Persis di depan mamah berdiri seorang laki-laki berusia akhir 50an ikut memandangku dengan ekspresi sama rumitnya. Tubuhnya kurus namum tinggi menjulang. Kacamata tebal membingkai mata lelahnya. Continue reading “Panggil Dia Ayah”