Editorial

Editorial Edisi Terakhir

Salam sejahtera dan bahagia,

Bahagia di setiap hari, bahagia di setiap detik, merupakan impian setiap orang. Namun, kenyataan hidup menawarkan berjuta air mata, beribu luka dan sejuta kecewa. Seakan kebahagiaan sebagai sebuah musim yang datang kemudian pergi pada waktu tertentu saja. Inilah yang dinamakan hidup. Ada siang ada malam. Ada yang lahir ada pula yang mati, ada yang datang dan pergi. Ada tawa dan air mata. Apapun yang diberikan hidup, apapun yang ditawarkan oleh kenyataan, jangan kau biarkan kebahagiaan dalam dirimu pergi. Karena pada dasarnya menjadi bahagia adalah pilihan kita sendiri. Intinya, bahagia itu bukan dari luar ke dalam, melainkan dari dalam keluar; bukan dari apa yang bisa diberikan hidup kepada kita, tapi dari sikap kita terhadap kehidupan itu sendiri. Belajarlah untuk melihat keindahan dalam setiap kejadian, pada hal-hal yang sering kita lewatkan. Mungkin dengan begini kita sadar bahwa hidup itu indah. Mungkin hidup itu tidaklah sepenuhnya indah; namun milikilah mata yang indah untuk memandang kehidupan, milikilah hati yang cantik untuk merasakannya. Menemukan sejuta alasan untuk kita bersyukur, maka tak ada halangan bagi kita untuk bahagia tanpa batas.

Sebagaimana raja dangdut pernah berkata dalam syairnya:

“Jangan menunggu bahagia untuk tersenyum tetapi tersenyumlah untuk bahagia”. (Rhoma Irama)

Mari kita flashback ke tujuh bulan yang lalu, hari di mana buletin yang menampung cerita-cerita sederhana namun penuh makna dari teman PPI Bursa ini lahir ke dunia. Buletin Ya!, sebuah tempat berbagi kisah kecil-kecilan di mana setiap tema yang disajikan merupakan hal kecil yang sederhana, Di mana terdapat sebuah kejadian yang mungkin sedikit terlewatkan ataupun cerita yang tak tersampaikan. Kenangan dari setiap penulis,  hal itu menjadi cerita dengan rasa dalam asa yang menuju sebuah titik balik dalam kehidupannya. Tak perlu dengan harta yang melimpah kita bisa menceritakan kepada dunia bahwa ada kenikmatan di setiap luka yang kita alami. Cukup dengan berbagi kepada sesama dan berjuang, hal itu cukup membuktikan bahwa nikmatnya sebuah proses kehidupan mengajarkan kita arti kesuksesan.

Dalam edisi buletin Ya! terakhir ini,  kami ingin mengucapkan terima kasih untuk siapapun yang sudah menjadi bagian kita; kepada teman-teman redaksi yang bekerja dengan ikhlas hati sambil minum kopi serta para pembaca atau penikmat buletin Ya! yang kami cintai. Kritik dan saran sangat dinanti, untuk menjadi lebih baik. Kesan dan pesan akan selalu terkesan dan tersimpan, menjadi kenangan yang tak usang dimakan zaman.

                                                                    

 Mewakili tim redaksi,

Nisa Maulida

Editorial

Editorial

Selamat berjumpa kembali di edisi keenam kami.. Semoga kebahagiaan jiwa selalu menyertai,

Sejak bulan April lalu, tiap bulan kami selalu berusaha untuk tetap setia menyajikan apa yang kami dapatkan ke dalam tulisan-tulisan ringan. Karena tiap orang memiliki pengalaman, yang terkadang terlalu sayang jika hanya disimpan sendiri. Pengalaman kita yang berbeda-beda, seringkali mampu memperkaya.

Di edisi sebelum terakhir ini, kami bergumam tentang kesuksesan. Saya pribadi percaya, tiap kesuksesan memiliki rahasia. Rahasianya adalah percaya.

Seorang yang meraih sukses karena percaya bahwa tekun adalah sebuah kunci kesuksesan: maka ketekunan tak akan pernah luput dari kepalanya. Ada pula, orang lain yang sukses karena percaya bahwa sukses datang sebab sikapnya yang tahan banting. Saya yakin, tahan banting tak akan menghianatinya. Sukses kita adalah saat kita percaya, bahwa kita memang telah dipersiapkan menghadapi segala baik-buruk yang selalu datang tiba-tiba. Lantas, bagaimana engkau memaknai suksesmu? Bagaimana memperjuangkannya? Marilah menengok diri kembali, seberapa percaya kita pada diri sendiri.

Semoga bisa dinikmati, dan selamat membaca!

 

REDAKSI YA!

Editorial

Editorial Edisi Kelima

Bersiar-siar di tepi telaga

Untuk berlibur hati yang lara

Kepada bunda yang jauh di mata

Hati ananda ada rindu tak terkira

Setiap manusia tak bisa menebak kapan rasa rindu itu kan datang. Seperti halnya dengan barisan pantun di atas, kerinduan yang terbendung pun akan memuncak seiring dengan jalannya waktu. Namun, akankah kita akan mati oleh kerinduan? Tentu tidak.

Kerinduan justru mengajarkan kita rasa memiliki, rasa menghargai dan menjadi diri yang tegar. Menjadi diri yang mampu berjalan lurus di atas kerikil yang tajam dan panas. Menjadi manusia yang mampu menikmati proses dalam setiap langkahnya. Tanpa rasa rindu, seseorang akan hampa bagai terdampar di padang pasir yang tandus. Kekeringan dan hanya sengatan matahari yang akan menemani kita. Rasa rindu pun mengajarkan kita tak kenal patah semangat untuk bertemu dengan orang yang kita sayangi.  Berbagai cara akan kita tempuh untuk bisa meluapkan rasa rindu tersebut. Karena akan selalu ada titik terang dalam setiap rangkaian kegelapan hidup bagi siapa saja yang tak pernah mengeluh. Oleh karena itu, hasil tak akan membohongi sebuah proses dari suatu perjuangan.

Begitulah dengan tema buletin kali ini, kami ingin  menyuguhkan sajian renyah dari arti kata berjuang. Di mana perjuangan dapat kita maknai dari berbagai sudut pandang.

Akankah makna perjuangan bisa dikatakan sebagai batu loncatan untuk mendapatkan nilai dan material atau kita mampu mengartikan  perjuangan yang sesungguhnya? Edisi ini menyuguhkan pandangannya.

So, jangan lupa baca dan resapi kenikmatan setiap langkah perjuangan itu sendiri.

Tanyakan pula pada diri;

Sudahkah kita berjuang untuk sesuatu yang ingin kita raih atau hanya menunggu santai tanpa sebuah usaha?

Berlelah-lelahlah engkau karena manisnya hidup teras setelah lelah berjuang. Jika engkau tak tahan lemahnya belajar, engkau akan menanggung perihnya kebodohan.

Terima kasih dan semoga para pembaca berkenan.

Nisa Maulida