Imaji

SEPUCUK SURAT DARIKU, SEORANG ANAK PENJUAL TISU

oleh: Maestro Trastanechora

 

Aku sibuk
Tapi bukan seperti yang orang lain pahami

Aku sibuk menarik nafas dalam-dalam
Aku sibuk membungkam pemikiran bengis yang menyayat hati
Aku sibuk menenangkan detak jantung yang kian mencekik
Aku sibuk meyakinkan diri, bahwa aku baik-baik saja

Ketika tidur bukanlah istirahat, tapi sebuah pelarian sementara
Apakah kau masih mau memejamkan mata
Dan terbangun dengan perasaan yang lebih ngilu
Ataukah kamu memilih untuk tidak ingin terbangun lagi, selamanya?

Aku sibuk
Aku tidak sedih, aku tidak lelah, aku hanya sibuk
Jika aku menghilang, janganlah kau cari
Jika aku loncat, biarlah aku tenggelam

Apakah kamu bisa menenangkan sebuah badai?
Lantas berhakkah kamu menyalahkan orang yang takut akan badai
Apakah kamu tahu tujuan hidupku dan bagaimana cara menjalaninya?
Lantas dengan alasan apakah kau melawak akan keputusan yang aku ambil

Ahh! yasudah lah, aku sibuk
Aku tak bisa memilih seperti apa aku terlahir di dunia ini
Tapi aku masih punya pilihan bagaimana caraku meninggalkan dunia ini
Begitu juga denganmu

Sejatinya kita ada di satu permainan yang sama
Hanya berbeda tingkat
Berkutik di neraka yang sama
Namun dengan iblis yang berbeda

Mereka bilang, tidak ada pohon yang mampu tumbuh tinggi mencapai surga
Kecuali hanya pohon yang akarnya menancap dalam hingga menyentuh neraka
Lantas, jika hidupmu terasa menyiksa seperti neraka
Jadikanlah itu kesempatan untuk tumbuh setinggi-tingginya memberi keteduhan

Aku sibuk
Tapi aku masih ingin bermimpi, tolong bantu mengaminkannya

Bahwa kelak bisakah aku membuat hidup orang lain sedikit lebih bermakna
Dan jika memang aku gagal, jadikanlah diriku sebagai contoh manusia yang tidak baik
Setidaknya keberadaanku di dunia ini masih ada gunanya
Dan mungkin begitulah aku bisa mati dengan bahagia..

 

Imaji

Aku, Impian dan Harapan

Oleh: M Ihsan Yasin

Ketika aku ingin menjadi Aku

Telah ada dari azali dan tak terhenti

Sejati dan Abadi,

 

Menyatu dengan Aku adalah cita

Ini akan terasa asing dan mungkin kegilaan yang nyata

Tapi, ini caraku bercinta.

 

Ah … Aku, Cukuplah Aku !

Atau Adakah selain Aku ?

Bukankah aku adalah wujud dari Aku ?

 

Ah … Aku,

Asalkan Aku.

Serta apa yang Aku cinta.

 

Sungguh akal dan hati ini tak bisa lagi berfatwa.

Jika  ada tanya pada keduanya

Tentang  hasrat yang ada,  atau tentang rasa dan cinta

Jawabanya, “ Hanya Aku yang ada.”

Bagiku bukan surga ataupun neraka

Ketika aku menjadi Aku itulah “ BAHAGIA”

Ketika aku menjadi Aku itulah “MULIA”

 

Karna aku ada untuk Aku

Dan aku memilihKu untuk aku

Dan Karna aku adalah Aku.

 

Imaji

Janji Tuhan

Sudah kubilang, takdir Tuhan akan datang di waktu yang tepat

Tak perlu kau risau sebab semua ketentuan sudah tercatat

Hanya pada Rabb-mu kau bisa berharap

Bukan pada manusia yang banyak mengumpat

Sebab kita hanya bisa memelihara ketidakpastian

Mengukir mimpi di sela-sela angan

Berjuanglah maka kau akan bisa bertahan

Melawan nafsu yang terus melalang

Aku tau ada perih yang kau sembunyikan

Ada luka yang tak bisa kau ungkapkan

Tapi yang ku tahu satu, janji Tuhanku itu pasti

Teruntuk mereka yang selalu sujud tanpa henti.

~ Intan Popy Rinaldy ~

Imaji

NOL

Oleh: Zulfikri

 

Desah nafas yang berburu penuh

Detik, menit, jam yang saling berburu memenuhi kerja penuhku

Melewati tapak jalan yang kumuh

Lagi, lagi, aku balik ke perasaan nol yang terbunuh

 

Aku berpikir, ini bukanlah ujung dari waktu

Ya, ini adalah awal dari permulaan baru

Sikat, lindas kerikil hidup, tanpa mengadu

Lagi, lagi, aku balik ke nol-ku yang dulu

 

Hidup ganas, layaknya harimau yang lapar dan berliur

Mencengkeram wujud kurus yang terbujur

Bak, pecut yang membangkitkan api semangat yang terkubur

Kembali pada titik nadir nol, aku menjadi hancur lebur.

Imaji

Ajarkan Berbagi

Ibu,

Sore itu  di perempatan jalan antarkota

Seorang anak duduk, memincingkan mata

Terik membakar wajahnya

Tangannya terjulur meminta-minta

Ayah ibuku tak ada, katanya;

 

Ibu,

Hari ini di kolom koran pagi

Potret kekacauan berdarah mengisi

Di negeri seberang perang terjadi

Sanak saudara terpisah sendiri-sendiri

Sebagian lari, sebagian mengungsi, sebagian mati;

 

Ibu,

Malam itu seorang pria pucat pasi

Meringis seraya menyeret kaki

Lapar, menekan perut yang belum juga terisi

Mengais makanan sisa selebrasi

Sampah pesta para pria berdasi;

 

Ibu,

Kalau memang Tuhan ajarkan berbagi

Mengapa sebagian tetap lapar?

Sedang sebagian terus terisi

Mengapa sebagian mati mengungsi?

Sebagian terus menumpuk pundi-pundi;

 

Ibu,

Jika berbagi itu seindah definisimu

Mengapa pengemis itu duduk lemah?

Gelas di depannya kosong, tak ada lembaran rupiah

Jika berbagi itu mudah seperti katamu

Mengapa adik kecil itu putus sekolah?

Seakan ia tak berhak masa depan cerah;

 

Ibu, apa itu berbagi?

 

(pasarkata@hotmail.com)

 

 

 

Imaji

Tunarasa

Mama, apa itu cinta? Aku bertanya sesaat,

Ia tak menjawab hanya menatapku dengan wajah pucat

Papa, apa itu perjuangan? Ku alihkan wajahku ke arah kanan,

Oh, maaf aku selalu saja lupa kalau dia sudah lama tak di sana

Aku menatap cermin, kudapati jawaban untuk sesuatu yang tidak kutanyai;

Apa itu sepi?

 

Hai, adik mungil, bagaimana rasanya pelukan?

Sayang sekali aku tak mendengar jawaban,

Memiliki apa yang belum dipahami,

Memahami, namun tidak dapat memiliki,

Kadang hidup suka bergurau pada diri

 

Kemarin di taman bermain,

Anak menangis dimarahi sang ayah

Semakin marah sang ayah, semakin si anak ingin kepangkuannya

Padahal, aku selalu ingin jauh dari orang-orang yang memarahiku

 

Mengapa kau menggenggam tangannya?

Karena akulah pahlawan baginya

Kamu?..,

Aku  merasa tidak takut saat berada di dekatnya

Kedua anak jalanan itu berlari-lari kecil, menuju halaman mesjid

 

Sore tadi kepada sepasang kekasih aku bertanya;

Bagaimana rasa saling memiliki?,

Ali; seperti memiliki ratu untuk dihormati,

Fatimah; laksana memiliki raja untuk berbakti

 

Saat ini mereka bertanya padaku; Apa itu bahagia?

Hahahahaha, yang benar saja?, padaku?,

Aku hanya seorang tunarasa, sedang berguru pada kehilangan,

Mengharap Tuhan mencurahkan pemahaman.

D Metuah

Taman di sudut jalan, 25 April 2017

 

Imaji

Bursa

 

Oleh: Teuku Muammar Rizky Taqwa

 

Awal mula aku bergabung ditengah-tengah kalian

Terbesit dianganku, betapa indahnya hidup di perantauan

Mengapa tidak, sebuah pertemanan yg dibungkus oleh eratnya tali persaudaraan

Membuat aku sulit untuk meninggalkan sebuah kota yg dikenal dengan banyaknya pegunungan

 

Bursa,

Di kota inilah aku menemukan cinta

Cinta dan kasih sayang yang belum pernah aku temukan sebelumnya

Mencintai, mengasihi dan saling bahu-membahu antarsesama rekan seperjuangan yang ada

 

Mungkin awalnya kita, memang tidak saling mengenal satu sama lain

Mungkin kita, memang tidak memiliki latar belakang yg sama

Dan mungkin kita, berasal dari kota yang berbeda-beda di Indonesia

Namun, kita sama-sama berada didalam satu ikatan keluarga

Yaitu, Keluarga PPI Bursa

 

Mereka yang tak hanya mengenal Aku ataupun Dia,

Mereka yang tak hanya mengenal Kamu atau Kalian,

Tetapi, Mereka selalu mengedepankan Kita diatas kepentingan segalanya

 

Bursa,

Hari ini, esok ataupun lusa

Semua kenangan yang telah kau torehkan dalam hati ini..

Akan aku ingat selamanya.