Memori

Ibu Baru

oleh: Zulkhairi Arafah Faraby

Kring… suara nada pangilan telepon menggema ke seluruh ruang apartemen, rupanya pangilan masuk dari Taufiq ağabey (dibaca: abi untuk menyebut mas dalam bahasa Turki), sesepuh seperjuangan dari Jawa Tengah. Seperti biasa dia selalu semangat bertanya tentang perkembangan di rumah, bukan karena kepo justru sebaliknya karena dia peduli terhadap kondisiku yang tak karuan. Di akhir percakapan dia meminta izin untuk menjegukku ke rumah. Continue reading “Ibu Baru”

Memori

RIVAL

Oleh : Afif Muhammad

 

Salatiga siang itu terasa cukup menyengat. Beruntunglah kami termasuk yang datang lebih awal sehingga berkesempatan memilih rumah yang akan ditinggali selama sebulan. Komplek pembinaan ini cukup menyenangkan. Area luas dikelilingi banyak pepohonan namun tidak terlalu jauh dari perkotaan menjadikan tempat ini ideal sebagai tempat belajar dan memfokuskan diri. Jarak 20 menit naik kendaraan umum dari komplek pembinaan terdapat universitas. Disanalah semua peserta akan menerima bimbingan nantinya. Continue reading “RIVAL”

Memori

MENGUKIR ASA ANANDA

Oleh : Hanifatul Rahmah

Semua orang berhak memiliki cita-cita. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, diplomat, ada yang bilang ingin menjadi pengusaha sukses, perawat, juga polisi. Tapi wanita yang kukenal ini berbeda. Saat satu demi satu ujian mengikis kesempatannya untuk mewujudkan cita-citanya. Kemudian pada satu titik wanita hebat itu tidak lagi bercita-cita untuk dirinya, ia berjanji untuk bisa memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi generasinya untuk bercita-cita dan mewujudkannya. Sesuatu yang selama ini tidak bisa direngkuhnya. Continue reading “MENGUKIR ASA ANANDA”

Memori

Berbagi dalam  ‘Bersaing’, Bisakah?

Oleh: Panda Belang

Dalam sebuah usaha, pasti akan ada persaingan. Seperti tidak ada pilihan, kita akan menjadi saingan atau penyaing. ‘Usaha’ dalam  konteks ini, tidak hanya soal bisnis. Sebagai contoh dalam beberapa hal seperti belajar dan kompetisi. Bahkan, kita hidup di dunia, sebenarnya ‘bersaing’, untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Jurinya siapa? tentu saja Dia yang Maha Menghidupkan, setelah kita mati nanti. Continue reading “Berbagi dalam  ‘Bersaing’, Bisakah?”

Memori

MT: “Ambil Pilihan Haruslah Tuntas”

Oleh: M Muafi Himam

“Aku dulu pengen jadi kernet bus,” kata Mas Taufiq-sapaan akrab saya untuk Taufiq Ismail mengawali ceritanya. “Keren aja, bisa ngatur, kiri…kiri. “

Sore ini sekembali dari Indonesia, Mas Taufiq (MT) berkenan berbagi kisah hidupnya. Seperti anak pedesaan di Jawa pada umumnya, orang tuanya lebih memilih pesantren sebagai lembaga didik untuk anaknya. “Orang tuaku bukan orang yang agamis, tapi bapakku sadar dia butuh anaknya untuk pergi ke pesantren,” timpalnya. Continue reading “MT: “Ambil Pilihan Haruslah Tuntas””

Memori

Ayah Engkau Adalah Pintu Surga Bagiku

Oleh: Intan Popy Rinaldy

Tepat 10 tahun yang lalu, kejadian itu masih segar dipikiranku. Kesan pertama yang tak akan kulupa dari sosok lelaki yang paling aku sayangi.

“Intan, ayoo.., cepat ambil sendalnya,” ucap kakakku terengah-engah keluar lapangan sambil memengang erat tali karet ditangannya. Tanganku pun lihai mengambil sendal dengan cepat, memakainya sambil aku memungut sisa-sisa kapur di tanah. Lalu, sambil bergegas aku menyusul kakak dari belakang. Continue reading “Ayah Engkau Adalah Pintu Surga Bagiku”