Suka-suka

Tiga Haiku tentang Kucing Jalanan Istanbul

 

Oleh: Luqman M Lionar

 

Bütün Piliç

Para pelancong

– datang, menunggu, pergi –

aku di sini.

 

2017

 

Firüz Ağa

Eluslah, tapi

sebentar saja. Sebab nanti

kau tak akan kembali.

 

2017

 

Pilav Üstü

Selepas Maghrib

menuju tukang nasi

merajut nasib.

 

2017

 

Bütün Piliç, dapat dijumpai di durak trem Sultanahmet, tidur sambil berjemur di kursi. Warnanya krem kecoklatan seperti ayam panggang utuhan. Firüz Ağa biasanya terlihat (atau hampir tidak terlihat karena warnanya abu lorek hitam) di bawah teduhan pohon pojok halaman masjid kecil Firüz Ağa Cami, tidak jauh dari durak trem tadi. Pilav Üstü sering duduk menunggu diberi nasi ayam jualan malam oleh para pelanggan di belokan Şirinevler Meydanı; mudah kelihatan karena warnanya putih dengan abu di ekor dan kepala. Ketika sedang tidak mencari makan, dia suka tidur di Cengiz Topel Cami dekat situ.

Tiga haiku ini diilhami oleh film dokumenter Kedi, yang menunjukkan bahwa manusia bisa belajar banyak dari kucing jalanan Istanbul.

Suka-suka

BEGADANG TENGAH MALAM

oleh: Wafa Nida Syahida

 

Aduh… malam-malam jam dua ketika sedang asyik internetan di dalam kamarku yang ada di asrama, tiba-tiba aku ingin ke kamar mandi. Kamar mandinya ada di lantai satu dan cukup gelap di sana. Hu’uh…, dengan kesal aku berjingkat-jingkat turun agar tidak membangunkan seisi asrama.

 

Gedung asrama ini cukup angker. Aku betah di sini cuma gara-gara WIFI gratisannya. Kamar mandi di lantai ini ada di sebuah ruangan besar, di dalamnya dibuat bersekat-sekat, cukup untuk mandi bergiliran bagi seluruh penghuni asrama. Seperti kamar mandi umum.

 

Karena gelap, aku menyalakan lampu dan membuka pintu. Aku kemudian membuka salah satu bilik dan masuk ke dalam. Tiba-tiba aku mendengar suara wastafel menyala dan seseorang mencuci tangan. Setelah itu, air keran dimatikan dan ia keluar. Siapa ya tadi?!? Malam-malam begini masih ada yang bangun. Oh ya… aku kan begadang juga haha…

Apa yang ganjil dari cerita ini?

Suka-suka

Mencintai dalam Doa

Oleh: Arifin

Sore hari setelah menjalani kuliah yang padat, terlebih mata kuliah pertama yang diasuh seorang dosen yang “kurang bersahabat”. Tak hanya itu, hampir semua mata kuliah memberikan tugas yang membutuhkan survey ke beberapa tempat dan research dari berbagai macam artikel. Huff, lelah teramat menemaniku. Hal ini merupakan resiko kuliah di salah satu universitas terkenal di Ibukota. Akan tetapi, semua yang terasa bagaikan memikul Bumi dengan tangan kosong, tiba-tiba menghilang tak bersisa setelah kedua mataku melihat seorang perempuan cantik bak bidadari, sengaja jatuh dari surga, menuju arahku. Continue reading “Mencintai dalam Doa”

Suka-suka

Empat Haiku* tentang Bursa

Oleh: Luqman M Lionar

 

Üniversite

Salju yang terbang

mencari rumah, lalu

mencair pulang.

 

2016

 

Yalova 

Di taman ria.

Adakah yang mendengarkan?

Ombak bercakap dengan batuan.

2016

 

Osmangazi

Jejak hujan

memantulkan sore para pejalan

dan kabut kaki pegunungan.

 

2017

 

Mudanya

Bukit bukit cemara:

Aku terpikir akan Istanbul

dan langitnya yang penuh menara.

2017

 

*) Haiku adalah format puisi pendek dari Jepang, yang dikunci dengan sejumlah aturan. Misalnya; terdiri dari tiga baris, dengan baris pertama terdiri dari lima suku kata, baris kedua tujuh suku kata, dan baris ketiga kembali lima suku kata. Haiku juga sebaiknya mengandung kigo atau kata yang menandakan setting musim tertentu (musim semi, panas, gugur, dingin, hujan, dll.). Akhirnya, sebuah haiku sebaiknya juga mengandung unsur kejutan: di mana baris pertama sampai kedua-nya menggiring pembaca membayangkan sesuatu, sementara baris ketiganya menunjukkan bahwa sesungguhnya ada makna ganda di baliknya. Dalam haiku modern, aturan-aturan ini biasanya diabaikan.