Cerpen

Boneka untuk Asma

 

oleh: Fatimah Azzahra

 

Jika ingin memenuhi daftar agenda dengan senyuman maka setiap hari bertemu Keumala adalah hari di mana kalian bisa melihat senyumannya yang indah. Tidak ada hari baginya kecuali senyum yang terpasang default di wajah manisnya. Dari wajahnya engkau temui guratan keteguhan dan ketegasan dalam satu tarikan seperti wajah pahlawan wanita Tjut Nyak Dien. Alis matanya tegas hitam bak semut berbaris dan bola matanya kelam lugas, seolah menyimpan kenangan misterius yang sangat dalam. Engkau akan menemukan hampir seisi sekolah yang mengenali Keumala hanya dengan menyebut namanya, dan tak seorangpun bisa menebak masa lalunya dengan sempurna.

 

—–

Pantai Lampuuk memantulkan kemilau dari pasirnya yang jernih, sengatan matahari membuat sebagian penduduk disana berkulit gelap eksotis melaut dan menentang ombak sebagai urat nadi penyambung hidup. Perahu nelayan yang dicat warna-warni mengapung terombang-ambing menuntut kepastian kapan ia akan berlayar. Sebagian telah pudar dimakan usia, catnya terkelupas dengan beberapa karang yang ikut merapat di dasarnya. Suara canda tawa anak-anak pantai yang berlarian seolah hilang bersama dengan deburan ombak yang menepi gulung-menggulung. 

 

“Keumala… Masuklah, ayo makan,” suara perempuan setengah baya kepada gadis kecil yang masih memeluk boneka. Rasanya belum puas baginya menyerap hangat matahari pukul sepuluh pagi di Pantai bagian Barat Aceh itu. Kakinya penuh pasir berkilau bagai kristal, tangannya menggenggam boneka beruang coklat yang baru saja didapatkan dari adiknya, Asma. Satu-satunya mainan di rumah pantainya.

 

—-

“Kau itu anak Nek (Nenek), jadi pandai-pandailah menjaga adik, jangan berebut mainan. Ayahmu lelah melaut dan tak ingin mendengar kalian menangis,” perempuan yang disebut nenek itu mengecup kepala cucu-cucunya yang berbau matahari. Sejak itu Keumala tak pernah menangis. Berkejaran di pantai sambil melusuhi diri dengan air asin bersama adik semata wayangnya adalah cara Keumala bermain dengan adiknya. Menjadi piatu sejak usia tujuh tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk membuat hatinya menjadi  tegar. Nyiur berkelopak coklat yang mungkin hampir sama dengan usia neneknya pun seakan merayu Keumala kecil untuk menjadi kokoh, meskipun terlalu dini untuk seusianya.

 

26 Desember 2004

 

Rutinitas pagi hari di Aceh berlangsung seperti biasa. Lambat, sunyi dan tenang selayaknya aktivitas kota di hari libur, begitu pula dengan suasana di ujung pantai Lampuk.  Ayahnya berpamitan sejak semalam, mencari peruntungan berharap berjumpa dengan segerombolan ikan. “Baik-baik di tempat Nyak Wa, jangan nonton tv sampai mata berair,” lelaki dengan tangan kasar penuh luka terbesit jala dan dimakan ganasnya laut itu berjongkok mengusap rambut ikal Keumala kecil yang pamit untuk menginap di rumah  Nyak Wa di kota. Beberapa  kilometer  dari rumah pantai yang ditempati Nenek adik dan ayahnya, Keumala kecil mengangguk dan neneknya pun tak lupa memberi nasi hangat dan gulai ikan sebagai bekal perjalanannya. 

Tanpa prediksi apapun, tidak ada peringatan atau alarm tanda bencana yang berbunyi,  pukul tujuh pagi kegemparan terjadi. Langit kelam bergulung, penduduk berlarian menyelamatkan diri. Air setinggi pohon nyiur memintal langit, seolah langit runtuh limbung. Ini menyerupai kiamat, laut meluap terbelah. Ibu yang mengandung pun lupa akan bayinya. Gemuruh bercampur kepanikan yang menyisakan isak. Nyak Wa mendekap Keumala erat setelah Tsunami bergulung menyamai tinggi gunung, menegarkan keponakannya akan nasibnya yang sebatang kara. Tak ada sisa dari gubuk yang semalam Nenek dan adiknya tempati,  sementara sang ayah telah lebih dahulu menjemput badai. Keumala kecil tidur berbantal airmata di pelukan Nyak Wa dibawah tenda pengungsian yang sudah ramai sejak semula. 

 

Jinoe loen kisah saboh riwayat. Kisah baroetat…baroetat di Aceh Raya. Lam karu Aceh..Aceh Timu ngon Barat ngon Barat. Di loen rindu tat…rindu tat keuneuk eue rupa. Nyoe mantoeng hudep meupat alamat. Uloen jak seutoet.. jak seutoet oh watee raya. Nyoe ka meninggai..meninggai. Meupat keuh jirat ..ouh jirat. Uloen keuneuk jak siat …jak siat loun baca do’a.

“Kini kuceritakan sebuah riwayat. Kisah yang baru terjadi di Aceh Raya. Dalam kekisruhan Aceh. Aceh Timur dan Barat. Aku sangat rindu, rindu sekali, ingin melihat wajahnya. Kalau masih hidup, di mana tinggalnya, akan kudatangi, datangi waktu lebaran. Jika meninggal..meninggal, mana kuburan kuburannya. Aku akan datang, akan datang membaca doa.” 

Lagu itu diputar menyisakan sesak sepanjang pantai timur hingga barat Aceh dan Keumala kecil menangis, sepertinya ia sudah tau arti kehilangan. Rindu serindu-rindunya pada wajah ayah, adiknya Asma dan neneknya.  

Nyak Wa jatuh sakit selepas pagi lalu dibawa bagian medis dan terpisah dengan Keumala, selepas itu beberapa wanita berompi merah dengan jilbab putihnya menggenggam tangan Keumala kecil. Keumala tidak mengerti dengan apa yang orang katakan kepadanya, ia hanya mendengar kata terapi dan trauma dari pembicaraan orang-orang yang membantu selepas 26 Desember itu.

“Adik, ikut kakak yuk main bersama teman-teman,” Keumala kecil pun menurut sepenuhnya ketika diasuh dalam sekolah penampungan korban Tsunami. Di sana ia diasuh dan menjadi satu keluarga dengan korban lainnya. Bagi Keumala tidak ada lagi yang patut ia tunggu dan dicari, kini hanya tersisa seorang diri. Keumala akhirnya mampu melewati masa kecilnya dengan sekuat tenaga untuk  mengobati  luka yang telah tertanam di hatinya.

Keumala kecil menangis setiap kali melihat boneka beruang, teringat adiknya yang selalu bersamanya ketika bermain, Keumala kecil terus terngiang pesan Nenek tentang hidup dan keluarga. Keumala kecil meringkuk dalam tenda di antara para korban bencana. 

Wanita berwajah ramah bagian dari volunteer berompi merah itu mengenalkan dirinya sebagai Zeynep, mencium satu-persatu pipi kanan kiri Keumala dan anak-anak lainnya ketika pertama kali mereka berkenalan. Senyum Zeynep mengembang bertemu mata dengan Keumala. Rambut Keumala yang ikal coklat hasil berpanas-panasan di pantai Lampuk diusap pelan. Sejak saat itu Keumala memanggilnya sebagai ibu.

 

Sekolah, penampungan, sekaligus tempat rehabilitasi itu berisi sekitar empat puluh lebih yatim piatu. Keumala kecil menghabiskan masa awal di sana dengan menggambar rumah dan pelangi lalu dicoretnya kembali dengan ujung pensilnya berulang-ulang. Lain waktu Keumala kecil menggambar boneka beruang lalu dicoretnya kembali hingga tak berwajah.  Zeynep lah yang mengajari Keumala untuk mewarnai pelangi dan menambahkan matahari di kertas gambarnya. Keumala kecil harus segera bangkit dari luka. 

 

—–

“Selamat Keumala, kamu jadi salah satu siswa yang akan menerima beasiswa sarjana ke Turki, itupun sesuai rekomendasi Ibu Kepala,” kata Aisyah teman sekamar Keumala di panti yang mengabarkan berita baik itu. 

 

Keumala terperangah, berhamburan air matanya. Ibu Kepala yang dimaksud adalah Zeynep. Zeynep bermata biru bekewarganegaraan Turki itu yang menjadikan Aceh sebagai rumahnya, yang memilih hidup mengabdi di lembaga swadaya pendidikan untuk anak korban bencana. Keumala setengah berlari menghampiri Zeynep, mengatur nafas dengan senyum lebar dan mata kelam berbinarnya. Sudah tak ada lagi sisa kesedihan di sana. Zeynep dan sekolah yatim Matahari mengubah luka menjadi kumpulan cita-cita. Menceritakan tentang dunia dan orang-orang hitam putih, tentang saudara-saudara di Afrika yang kelaparan, tentang gemerlapnya ilmu dan peradaban Barat, tentang Islam dan bagaimana fitrahnya manusia. 

 

—-

“Halo! Namaku Keumala!”, Keumala mengenalkan diri dan menjelaskan beberapa hal, disambut riuh tepuk tangan. Keumala mempresentasikan program kakak asuh kepada orang-orang berbeda kulit di hadapannya. Nama programnya “Boneka untuk Asma”. Sebuah program yang menyatukan donatur dari berbagai sudut dunia untuk bisa berinteraksi dengan anak atau adik asuhnya di berbagai belahan dunia. Keumala memberi ruang di hatinya untuk bahagia, memberi pilihan hidupnya untuk berbagi. Keumala memilih membaur bersama keramaian untuk menggantikan kesendiriannya, Keumala menemukan adiknya menjelma di antara adik-adik asuhnya. Keumala menebus rasa rindu pada adiknya lewat progam kakak asuh BONEKA UNTUK ASMA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *