Cerpen

Das L(i)eben

Oleh: M Muafi Himam

 

Hamparan sawah yang kulewati cukup indah saat terik senja mendarat tepat di tengahnya. Aku baru sampai di Wotzendorf, setengah jam perjalanan dari kota asalku. Jalanan lenggang, namun bus yang kutumpangi berjalan pelan, membiarkan para penumpang menikmati pemandangan sore ini. Hamparannya berwarna. Beberapa ada yang masih hijau, beberapa yang lain telah menguning. Di ujung sana, dua-tiga petak telah kosong, berganti tanah basah. Kupandanginya dari kejauhan. Ia memanggil, aku tenggelam ke dalamnya.

“Akan selalu ada kegilaan dalam hubungan kita. Tapi aku percaya, tiap kegilaan punya alasan,“ ucapku berat, mengutip Nietzsche. Aku mencoba memeluknya, tapi dia membatu. “Inilah kita. Ia tak perlu alasan untuk bersama,” pelan sekali bisiknya, tanpa membalas pelukku.

Aku mulai merasakan keegoisannya, dan aku tak suka. Masih pekat ingatanku pada Prof. Zimmermann dengan suara baritonnya yang menjelaskan buah pikir Sartre. “Cinta sejati,“ katanya di kelas Moral and Philosophy, “bisa terjadi ketika sepasang kekasih memiliki rasa yang dalam untuk saling menghormati kebebasan mereka. Tak menganggap kekasihnya sebagai obyek yang harus dimiliki seutuhnya.”

“Makanya, cinta bukanlah untuk mencari pasangan. Namun dengannya, kita menyelami diri lebih dalam,” lanjutnya.

“Komitmen total dalam sebuah hubungan?. Proporsi yang tak masuk akal!” kata Zimmermann di sesi lain. “Keadaan selalu berubah, begitu pula orang-orangnya. Seharusnya tema komitmen juga menyesuaikan keadaan. Lebih fleksibel.” Keseringan mengikuti kelas Zimmermann membuatku semakin setuju isi ceramahnya. Jangan-jangan karena ini, aku mulai menimbang kembali hubunganku dengannya.

Kernet mengumumkan sesuatu. Bus tiba di Bamberg. Masih tiga jam lagi perjalananku. Kubuka notifikasi Facebook, muncul dua pemberitahuan tentang event musik di kampus menyambut musim panas. Minggu kemarin juga diselenggarakan acara yang hampir sama. Aku hadir saat itu, duduk nyaman di depan mencoba sejenak melupakan tentangnya. Salah memang, mencoba melupakannya. Namun, untuk saat ini, melupakan sejenak adalah cara untuk tertawa. “Karena hari yang paling sia-sia adalah hari dimana kita sama sekali tak tertawa!” bentak Nicholas Chamfort pada isi kepalaku keras sekali. Aku kaget, ia terbahak.

Musik mengalun cepat, selaras senja yang bergegas menyambut malam. Iringan musik sama sekali tak menimbulkan tawa, malah sendu. Pikiranku berkecamuk. “Kau tak pernah sungguh-sungguh mencintainya!” giliran Lennon menyentakku, “rasa yang kau berikan padanya tak sebesar yang kau harapkan darinya. Perbaiki rasamu.”

Aku mulai merenggang darinya saat situasi batas mulai membenturku. Aku menderita, tapi dia tak terlihat peduli. Aku berjuang di tengah bencana, dia diam saja. Pernah sekali kutanya, tak adakah lagi kepekaanmu padaku?.

“Bagaimana aku ikut campur? Engkau tak pernah mau membicarakannya, jawabnya jujur.

“Engkau selalu merasa masih bisa berdamai dengan pikiranmu. Engkau merasa bisa mengatasi semua. Padahal, aku selalu menantimu untuk berbagi denganku. Aku selalu menunggumu tiap hari di sini, menatapmu. Aku-lah yang pertama melihatmu saat engkau datang, lantas duduk di pojok ruangan. Merasakan aromamu saat aku masuk ke ruangan yang baru saja engkau tinggalkan. Menjadi familiar dengan caramu menempelkan kedua bibirmu, caramu membentuk senyum yang perlahan,” katanya panjang.

“Ada lilin di hatimu yang siap untuk dinyalakan. Ada kehampaan di kalbumu yang siap untuk diisi. Engkau merasakannya, bukan?”

Aku tak mampu menyambut ucapannya. Ia benar, aku terlalu larut dalam kecamuk pikiranku sendirian. Banyak orang takut akan lukanya. Lalu tenggelam dalam kesemuan. Bagi sebagian, sukacita adalah segalanya: ia membahagiakan. Bagi yang lain, dukacita bernilai lebih besar: ia mengingatkan. Mungkin, keduanya memang tak dapat dipisahkan. Saat salah satunya sedang duduk bersamamu di ruang tamu, ingatlah, yang satunya lagi sedang menunggu di kamar tidurmu.

Malam telah merambat saat bus mulai memasuki perkotaan Würzburg. Kecepatan bus menurun, menandakan Würzburg adalah kota besar. Bus melewati Magdalene straße, jalan di mana Julius Maximilians Uni-Würzburg berada. Di depannya berdiri kokoh bangunan empat tingkat bergaya Prusia, sebuah perpustakaan utama. Beberapa mahasiswa berhamburan pulang dengan sepeda masing-masing. Baru kemarin sore, di depan perpustakaan kampus kami, aku berpisah darinya.

“Jika engkau mencintai seseorang, biarkanlah ia pergi. Jika ia kembali, mungkin ia memang milikmu. Namun jika sebaliknya, ia mungkin bukan untukmu,“ kugenggam dalam-dalam telapak kanannya, meyakinkannya.

“Kemana engkau akan pergi?” Ia masih ragu.

“Tak tahu. Perjalanan mungkin akan membawa kembali kekuatan dan cinta pada kehidupan.”

Ia menggeleng. “Jangan paksakan dirimu untuk menemukan kembali cinta dalam perjalananmu. Ia juga tak akan menemuimu. Cinta ada pada dirimu. Ia bersamamu kemanapun engkau pergi,” katanya.

Aku diam saja. Sudah saatnya pergi. “Aku mencintaimu. Aku tahu engkau pun begitu. Jangan ciptakan ikatan di antaranya. Biarlah ia menjadi lautan yang bergerak di antara tepi jiwa kita. Aku pergi dulu.“

Keluar dari daerah perkotaan, bus mulai menambah kecepatannya. Ia merayap stabil. Aku pun mulai terlelap. Ponselku bergetar, sebuah pesan singkat masuk.

“Aku tahu engkau sedang lelah, namun datanglah. This is the way.”

Aku mulai ragu. Ia terlalu mencintaiku. “Perpisahan hanyalah bagi yang saling mencintai sebab apa yang mereka lihat. Bagi jiwa dan kalbu yang saling mencinta, tak ada kata berpisah,” katanya suatu hari. Cinta begitu absurd. Begitu juga sumbernya: hidup. Semua tahu, hidup mengandung segala probabilitas; kecewa, derita, luka, gagal. Juga bahagia, harapan, dan tentunya cinta. Kata Camus, hidup terasa absurd karena tak sepenuhnya terpahami.

Manusia hanya perlu menerima, bahwa absurditas adalah fakta. Sebab penderitaan adalah hadiah Tuhan. Di dalamnya tersembunyi kemurahan hati. Tiap kekecewaan melapangkan dada. Tiap derita mampu menumbuhkan empati. Tiap kegagalan menjadi pembelajaran. Manusia menggedor pintu rumahnya tanpa henti, ia ingin segera membukanya, mencari tahu segala isi rumahnya. Yang tak disadari, ia sedang berada di dalam rumahnya sendiri. Man muss das Leben lieben, um es zu leben. Cintailah hidupmu. Perjuangkan cintamu pada hidup.

Bus yang kutumpangi berhenti di tujuannya. “Dan kau,” bisik Rumi padaku, “Kapan kau akan mulai perjalanan panjang menuju dirimu yang sesungguhnya?“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *