Cerpen

Obrolan di Tengah Malam

 

oleh: Sarah Tsabita

 

“Kak, sebenarnya aku boleh bilang enggak kalau aku capek?”

Tengah malam, pada saat terbaring di lantai dan ditemani berbagai buku dan kertas berserakan di sekitarnya, Lia mengutarakan hal yang selama ini mengganggunya. Pada awalnya itu bukan hal besar. Seiring berjalannya waktu, hal itu berkembang menjadi sesuatu yang tidak bisa Lia cegah. Sering kali gadis itu terbangun dalam keadaan yang lebih lelah dari sebelumnya. Menatap kosong langit-langit kamar, ia bertanya untuk apa kemonotonan hidupnya berjalan? Bangun di pagi hari, melakukan rutinitas di rumah, pergi ke tempat bimbelnya, pulang di sore hari (terkadang sampai malam), lalu kembali mengerjakan latihan soal hingga larut malam sebelum akhirnya tidur—dan hal yang sama terulang lagi keesokan harinya. Pertanyaan itu tak pernah terjawab karena otaknya dipaksa untuk fokus terhadap soal-soal itu. Rumus-rumus itu. Materi-materi itu.

Perlahan, kemonotonan hidupnya membuat rasa lelah yang bercokol dalam dirinya berkembang menjadi sesuatu yang tidak bisa Lia cegah. Sering kali dia ingin berteriak, mengungkap rasa lelah yang sulit diutarakannya dengan kata-kata. Ada kalanya Lia ingin menumpahkan rasa itu pada seseorang, tapi dengan cepat dirinya menyadari absennya sosok yang dirasa tepat. Bahkan dalam kesehariannya, Lia hanya berinteraksi dengan keluarga dan guru bimbelnya. Tidak ada teman di bimbelnya (karena memang dia privat), tidak ada teman-teman SMAnya (yang dirasa pasti sudah sibuk dengan dunia perkuliahan), tidak ada siapa-siapa.

Sampai malam ini, Lia kalap dan menelpon kakak sepupunya yang sedang melanjutkan studi di luar negeri. Mereka tidak terlalu dekat, tapi Lia sudah benar-benar frustrasi membutuhkan orang lain untuk diajaknya berbicara. Jadi, setelah basa-basi singkat, Lia langsung mencurahkan segala rasa yang dipendamnya selama beberapa bulan ke belakang. Selama itu, Ditha, sang sepupu, mendengarkan keluh kesah Lia.

Lalu, sampailah mereka pada pertanyaan Lia.

“Boleh.” Jawaban bernada lembut itu mengalun di telinga Lia. “Tentu saja boleh. Siapa yang berhak melarang kita untuk bilang kalau kita capek? Enggak ada. Jadi enggak apa kalau kamu bilang kamu capek, Li…”

Lia menghela napas, “Tapi kak, kalau aku bilang gitu, kesannya aku tuh ngeluh?”

“Mungkin iya, kalau kamu nanya orang lain. Tapi karena kamu nanya ke aku, jadi semua jawabanku murni dari sudut pandangku,” jawab Ditha disertai kekehan. “Menurut aku, enggak. Semua orang pasti ada kalanya ngerasa capek, bahkan pada saat melakukan hal yang mereka sukai. Contohnya nih, ada temenku yang kayaknya isi hidupnya hanya gambar dan menggambar. Ada kalanya dia ngerasa capek dengan semua itu, dan kamu harus lihat bagaimana dia teriak di Kale dan ingin loncat dari sana kalau enggak ditahan sama Hanif.”

Sebelum Lia sempat menanyakan apa itu Kale dan siapa itu Hanif, terdengar teriakan samar di seberang telepon sana, “Dit, jangan nyebarin aib aku ke orang lain napa!”

“Ya makanya tidur sana Lei! Udah berapa hari kamu gak tidur mantengin laptop sama pen tab di tangan! Mumpung gak ada kuliah hari ini, mending kamu tidur! Kalau enggak, aku beberin semua aib kamu ke sepupu aku!”

“Bodo amet!”

“Ya udah, kulaporin Hanif nih!”

“… Sialan Dit! Aku udah males dengerin omelan dia!”

Telinga Lia berdenging sesaat karena Ditha berteriak di telpon. Dari kejauhan terdengar makian dari seseorang yang dipanggil ‘Lei’ oleh Ditha, lalu lawan bicara Lia berdeham canggung, “Sori, agak susah emang nyuruh dia tidur kalau udah megang pen tab.”

… Hah gimana? Lia hanya bisa bertanya itu dalam hatinya.

“Kembali ke topik. Ya, semua orang pasti bakal ngerasa capek. Apalagi kamu, yang setelah pengumuman SBMPTN kemarin mutusin buat ikut les untuk SBMPTN tahun depan. Keseharian kamu gitu-gitu aja, enggak ada break sama sekali. Aku enggak heran kalau kamu capek. Kalau kamu pendam terus, nanti ‘meledaknya’ bisa enggak bagus.”

Mata Lia menelusuri hiasan ukiran di langit-langit kamarnya, sementara otaknya mencerna apa yang dikatakan Ditha, “Kalau kak Ditha ngomong gitu, kok aku ngerasa lebay ya?” Kekehan dipaksanya keluar. “Kesannya itu hal yang gede banget. Padahal aku cuma… capek.”

“Jangan remehin ‘capek’ itu, Li.” Nada Ditha mendadak serius. “Teman kakak kelasku, dia sampai histeris dan masuk rumah sakit karena ‘capek’ sama skripsinya. Temanku yang lain ‘capek’ karena tuntutan masuk kuliah dan dia mulai mikir mau bunuh diri. Yang ini kasusnya mirip dengan kamu, menurutku. Awalnya ‘capek’ biasa, tapi lama-kelamaan dia mendam rasa ‘capek’ itu, akhirnya dia tertekan sendiri dan… gitu. Aku enggak ingin kamu kayak gitu Li.”

Lia merinding. Mungkin Ditha berlebihan. Rasa capeknya saat ini tidak sebesar apa yang dialami teman dan kenalan Ditha, tapi siapa yang menjamin dirinya tidak akan mengarah pada hal yang dialami mereka kalau dia terus memendam rasa capeknya sendiri? Itu tidak main-main, Lia tahu hal itu, dan mendengarnya dia bersyukur telah memilih keputusan tepat untuk menelpon sang sepupu.

“Terus… aku harus apa, kak?” tanya Lia perlahan.

“Cari titik yang membuat kamu bahagia. Kamu udah milih untuk berjuang demi SBMPTN tahun depan, dan rasa capek ini adalah salah satu konsekuensi dari pilihan kamu waktu itu. Kalau kamu memang bahagia, jalani saja. Ada kalanya kamu capek, tapi kalau kamu memang bahagia dengan pilihan kamu ini, pasti ada jalan untuk menghilangkan capek itu.

Yang ingin aku tanyakan ke kamu sekarang: terlepas dari rasa capek itu, kamu bahagia enggak?”

Deg!

Lia membuka mulutnya, ingin menjawab pertanyaan Ditha. Tapi kata-katanya menguap begitu saja, bahkan tak ada yang tersisa di ujung lidahnya. Kamu bahagia enggak? Pertanyaan itu sederhana, berisi tiga kata yang sudah biasa Lia dengar penggunaanya dalam keseharian. Tapi malam ini, Lia merasa maknanya jauh lebih dalam dari sekedar tiga kata biasa. Mengingat kemonotonan hidupnya beberapa bulan ke belakang, Lia merasa pertanyaan itu lebih sulit dari segala soal latihan SBMPTN-nya selama ini.

Lia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

“Bahagia itu… relatif kak.” Hanya itu yang bisa ia katakan.

“… Itu bukan jawaban pertanyaan aku, Li.”

“Aku tau kak,” bisik Lia lirih.

Lia tidak bisa menjawab dengan pasti apakah dia bahagia atau tidak. Seharusnya, kalau rasa capeknya sedemikian besar, dia bisa menjawab dengan pasti kalau dia tidak bahagia. Tapi Lia tidak selamanya merasa capek. Lia senang ketika dia bisa mengerjakan soal dengan lancar. Lia puas ketika nilai TO-nya meningkat dari sebelumnya. Lia lega begitu orang tuanya tidak mengomelinya setelah melihat nilai TO-nya.

Tapi bahagia bukan hanya sekedar senang, puas, ataupun lega. Konteks bahagia bagi Lia adalah sesuatu yang lebih besar dari sekedar perasaan itu. Bahagia itu … sesuatu yang masih Lia cari, hingga saat ini. Sesuatu yang sebenarnya hanya bisa dia dapatkan dengan kedua tangannya sendiri. Lalu, apa kebahagiaan itu merupakan sesuatu yang begitu besar, sampai Lia tidak bisa menemukannya?

Lalu Lia tersadar.

Benar juga. Dari awal, semua ini adalah pilihannya. Pilihannya untuk melepas hasil SBMPTN kemarin karena perdebatan dirinya dan orang tuanya yang tidak ingin dirinya memilih jurusan itu (Lia sadar akan ada orang yang mengutuknya karena melepas jurusan itu, tapi itu bahasan lain). Pilihannya untuk tetap berjuang demi SBMPTN tahun depan, harapan kecil agar dia bisa lolos jurusan yang diinginkannya dan disetujui orang tuanya. Dan pilihannya itu bukan sesuatu yang mudah. Akan ada duri-duri yang melukai tangannya pada saat dia mencoba meraih apa yang diinginkannya. Namun, apa duri-duri itu akan selalu ada? Pasti ada kalanya yang ada hanya udara kosong. Udara tanpa duri. Meski hanya lapisan udara kecil, tapi Lia yakin di situ lah letak kebahagiaan kecil yang luput dari pengamatannya. Di balik rasa capeknya selama ini, pasti ada kebahagiaan yang pernah Lia rasakan. Kebahagiaan yang terlalu kecil, hingga Lia lupakan. Yang perlu ia lakukan saat ini adalah mencoba mengingat sumber kebahagiaan itu.

Ah, Lia benar-benar lupa.

“Li, kamu kenapa ketawa gitu? Serem Li … Kamu enggak apa-apa?”

“Oh, aku ketawa? Maaf maaf, aku enggak sadar. Tapi aku enggak apa-apa kok. Aku cuma teringat sesuatu karena pertanyaan kak Ditha.” Lia tertawa sesaat sebelum menggantinya dengan senyum kecil. Senyum yang dirasanya tanpa beban. “Aku sejauh ini udah bener-bener capek, dan aku enggak bisa ingat hal yang bikin aku bahagia. Tapi, anehnya sekarang aku malah ngerasa lega. Aku mulai bisa mikir kalau ke depannya, secapek apapun aku nanti, aku ingin bisa menemukan setitik kebahagiaan itu.

Karena lega, aku jadi mikir-mikir, apa aku beneran capek atau hanya butuh teman untuk bicara?”

Kali ini gantian Ditha yang tertawa, “Atau bisa jadi beneran keduanya. Tapi alhamdulillah kalau kamu udah ngerasa lega gitu. Kalau kamu capek lagi, feel free buat ngontak aku lagi …”

“Makasih banyak kak. Beneran, makasih banyak.”

Anytime!”

Lia menarik napas. Besok, dia akan kembali pada kehidupan monotonnya. Besok, dia akan kembali mengumpulkan rasa capek, yang mungkin bobotnya akan lebih banyak dari yang ia rasakan beberapa saat yang lalu. Tapi mulai besok, Lia ingin menghadapinya dengan pikiran yang berbeda. Pikiran yang berfokuskan pada kebahagiaan, sekecil apapun itu, dan bukan pada rasa capek seperti selama ini.

Nanti, ketika Lia berhasil meraih apa yang diinginkannya, dia yakin rasa capek itu akan sepadan dengan apa yang didapatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *