Cerpen

Panggil Dia Ayah

oleh: Hanifatul Rahma

 

“Kenalkan Fa, ini Ayah kamu..”

Aku yang baru pulang dari jalan-jalan bersama teman kuliahku diam diambang pintu. Salamku bukan cuma dijawab mamah dengan “waalaikumsalam” tetapi lengkap dengan berita besar. Kalau bukan karena melihat ekspresi mamah saat itu mungkin aku akan berpikir ini salah satu gurauannya. Mamah memang suka bercanda tetapi bukan ini ekspresi bercandanya. Ekspresi ini terlalu rumit, datar, dan susah dijelaskan. Persis di depan mamah berdiri seorang laki-laki berusia akhir 50an ikut memandangku dengan ekspresi sama rumitnya. Tubuhnya kurus namum tinggi menjulang. Kacamata tebal membingkai mata lelahnya.

“Ini Haifa.” Kata mamah menyebut namaku.

Lelaki itu masih memandangku dengan matanya yang sekarang berkaca-kaca. Sepintas ia membuka mulut seperti hendak mengucapkan sesuatu tetapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Sejenak ada sunyi yang terbentuk di ruang tamu 3×3 rumah kami. Mamah, lelaki itu, & mbak Dewi kakakku memandangku menunggu. Aku sendiri hanya mematung didepan pintu bingung harus berbuat apa. Sosok Ayah tidak pernah ada di dalam hidupku. Aku hanya tahu namanya. Ia hanya simbolis hitam diatas putih. Namanya ada di akte kelahiran, tertulis di kartu keluarga, tertulis di dokumen-dokumen pentingku dan Mbak Dewi. Dalam 16 tahun terakhir ini perannya hanya itu.

Dulu saat masih di sekolah dasar terkadang aku membayangkan berbagai skenario bagaimana ayahku akan kembali ke hidup kami. Terutama saat hari-hari pembagian rapor atau saat ada lomba-lomba disekolah ketika teman-temanku disambut di depan kelas oleh Ayahnya atau ketika mereka dijemput sepulang sekolah. Tetapi skenario itu sudah begitu jauh seiring umurku yang semakin bertambah.

“Fa…” mbak Dewi memanggilku. Memberi isyarat untuk masuk, ikut duduk bersama mereka di ruang tamu.

Aku berjalan ragu-ragu ke dalam rumah dan berdiri di sebelah mamah mencium tangan mamah. “Maaf, Fa capek banget mbak, mah. Mau istirahat dulu kedalam. Permisi.” Sambil berusaha memberi anggukan sopan kepada sosok lelaki diseberang mamah aku mengambil langkah kedalam rumah. Aku tahu aku tidak sopan dan mungkin setelah laki-laki itu pulang aku akan mendengar nasihat panjang soal sopan santun dari mamah. Tetapi apa yang mereka tunggu dariku? Menyalaminya dan mendengar kisahnya tentang 16 tahun ini pergi kemana saja? Dulu aku butuh Ayah, sekarang tidak.

Ayah. Kesan pertama dan terakhir dari sosok ayahku yang kuingat hanya sekilas figurnya dari belakang saat ia meninggalkan rumah kami. Aku sedang bermain bersama dengan anak-anak tetangga sekitar rumahku saat aku melihat sosoknya yang menjauh. Hari itu aku melihat ayahku pergi, melihat ibuku mematung di dalam rumah, melihat kakakku menangis. Aku masih berumur empat tahun saat itu dan aku tidak mengerti apapun.

Malam itu mamah memanggil aku ke ruang tamu disana juga ada mbak Dewi. Laki-laki itu mendapat alamat kami dari mbak Dewi. Aku teringat setahun lalu saat mbak Dewi lulus kuliah ia berbicara dengan mamah meminta izin mengirim surat ke kampung ayah di Batam. Aku saat itu tidak begitu serius menanggapi karena bagiku apa yang mbak Dewi lakukan sungguh konyol. Apa yang dia harapkan dari orang yang keluar rumah dengan keinginannya sendiri dan meninggalkan kami selama 15 tahun?. Apa yang mbak Dewi harapkan dari orang yang mungkin ingat saja tidak kalau 2 anaknya yang masih kecil mungkin butuh perhatiannya.

“Mbak Dewi cari aja kalau mbak mau. Tapi jangan bawa-bawa nama Fa sedikitpun di surat Mbak Dewi…”

“Kok gitu sih Fa sama orangtua? Biar bagaimanapun dia tetep ayah Fa loh nak.” kata mamah mengingatkan. Dari wajahnya aku tahu mamah terganggu dengan ekspresi acuh dariku.

“Kalau sudah keluar dari hidup ya biarkan keluar, mah kenapa harus dicari lagi? mbak Dewi berhak kalau mau cari ayahnya tapi Fa juga berhak kalau nggak mau dibahas sama sekali di surat itu.” Jawabku keras kepala sambil beranjak meninggalkan ruangan. Bagiku topik ini jalan buntu yang sudah tidak perlu lagi dicari jalan keluarnya.

Hari ini setelah nasehat panjang mamah tentang berbakti kepada orangtua, mamah dan mbak Dewi meminta aku untuk menemui dengan lelaki yang mereka minta aku panggil Ayah itu.

“Lusa beliau balik ke Batam Fa. Kalau Fa belum siap nemuin telfon juga tak mengapa.  Kasihan Fa, ayah udah tua. Beliau nggak minta apa-apa kok cuma pengen ketemu kita aja mau minta maaf.” kata mbak Dewi sambil menyelipkan lipatan kertas yang sepertinya berisi nomor telpon lelaki itu diantara jemariku.

“Mantan suami ada nak tetapi nggak ada mantan Ayah. Fa nggak boleh benci.” kata mamah lembut. Aku tidak ingin terlalu keras menjawab mamah karena aku sadar 16 tahun terakhir ini sudah begitu sulit untuk mamah belum lagi sekarang Ia harus bertemu kembali dengan orang yang membuatnya harus berjuang sendiri membesarkan aku dan mbak Dewi.

“Kenapa Fa harus benci sama orang yang nggak pernah ada dalam hidup Fa, mah? Bagi Fa sosok ayah itu nggak pernah ada dan buat apa menghidupkan lagi sosok yang memang nggak ada…?”. Walaupun aku berusaha sekuat tenaga menahan emosi suaraku tetap bergetar saat mengucapkan ini. Dalam hati aku sadar aku berbohong. Aku membencinya.

Obrolan malam itu sia-sia. Mamah dan mbak Dewi menyerah dengan sifat keras kepalaku. Sepintas aku mendengar suara mbak Dewi yang sepertinya sedang menelepon lelaki itu. Samar-samar kudengar namaku disebut disela-sela obrolan. Aku meletakkan kertas berisi nomor telefon itu asal-asalan diatas meja belajar kemudian menghempaskan diri ke atas kasur. Kepalaku sakit.

Aku tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba aku melihat diriku yang berumur 4 tahun sedang bermain dengan anak-anak lain sebayaku. Kemudian aku melihat lelaki itu keluar rumah membawa tasnya. Berjalan lurus tanpa menoleh lagi ke belakang. Kebencian yang menyesakkan tiba-tiba memenuhi dadaku. Pintu rumah lamaku terbuka. Ragu-ragu aku berjalan ke dalamnya melihat mamah yang berdiri mematung dan mbak Dewi yang menangis. Aku hendak berjalan menghampiri mamah, memeluknya tetapi kakiku seperti tertempel ke lantai keramik dan tiba-tiba keramik tempat aku berpijak runtuh. Aku berteriak meminta tolong tetapi mamah dan mbak Dewi tidak ada yang mendengarku.

Aku jatuh ke permukaan keras, badanku sakit. Aku ada di sebuah ruangan sempit berdinding tanah yang dingin, lembab, dan gelap. Cuma ada cahaya samar yang aku tidak tahu sumbernya dari mana. Aku berteriak minta tolong, mencari orang tetapi suaraku memantul di ruangan ini. Tiba-tiba ada dua lelaki berpostur tinggi besar memasuki ruangan tersebut. Aku bertanya ragu-ragu dimana aku namun ekspresi mereka keras, tidak menjawab. Salah satu dari mereka mengeluarkan kertas dari kantungnya menyodorkannya kepadaku sambil memberi isyarat untuk membukanya. Aku menerimanya ragu-ragu. Dengan ekspresi penuh kebingungan aku membuka kertas itu. Isinya doa. Doa yang sudah aku hafal diluar kepala dari kecil. Doa untuk kedua orangtua. Aku mengangkat kepalaku dari kertas itu hendak bertanya maksud kertas itu diberikan kepadaku tetapi kedua pria tinggi besar itu sudah tidak ada. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan antara bingung dan takut. Usaha yang tidak perlu sebenarnya karena ruangan itu begitu kecil sehingga semua sudutnya terlihat. Aku beranjak hendak menghampiri satu-satunya pintu di ruangan tersebut, pintu tempat kedua lelaki tadi masuk tetapi tiba-tiba ada panas yang begitu membara di tanganku. Kertas itu terbakar entah dari mana apinya. Aku refleks melepaskan kertas tersebut dari tanganku. Kertas itu jatuh terbakar tetapi anehnya panasnya tidak hilang dari tanganku, malah semakin menjalar ke pergelangan tangan sampai ke siku. Begitu panas sampai aku berteriak-teriak minta tolong.

“Fa, Fa bangun Fa…” suara mbak Dewi membangunkanku. Aku terbangun terengah-engah. Mandi keringat.

“Tenang Fa, cuma mimpi.” Kata mbak Dewi sambil mengelus kepalaku.

Di pelukan mbak Dewi air mataku mengalir deras membayangkan mimpiku barusan menyaksikan lelaki itu pergi sekali lagi, melihat mamah berdiri mematung, mbak Dewi yang menangis, ruangan lembab dan sempit itu, kertas doa yang terbakar. Tiba-tiba rasa sesak memenuhi rongga dadaku. Aku ingat kejadian tadi siang saat aku tidak menghiraukan lelaki bermata sendu yang tadi siang datang ke rumah, terngiang-ngiang ditelingku perkataanku ke mamah dan mbak Dewi bahwa aku menganggap lelaki itu tidak ada.  Bahwa aku tidak ingin menghidupkan sosok yang tidak ada. Aku menangis sesegukan di bahu mbak Dewi. Ya Allah apa ini bentuk teguranmu atas sikap dan perkataan hamba? Astagfirullah…ya Allah berilah aku kemampuan untuk memaafkan. Lapangkanlah hati hambamu ini tuk memaafkan. (Kontributor: hanifatul.rahmah01@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *