Cerpen

Sepotong Roti

Oleh Nisa Maulida

Matahari pagi sudah menghilang dan berada pada puncaknya. Di bawah sinar matahari yang melekat, orang-orang pun sudah sibuk dengan aktifitasnya. Namun gemericik air dan gelombang maut di kolam renang Mangga jati, Jakarta Barat itu seakan masih menghipnotis Farrel dan Bintang untuk terus berenang. Sesekali  mereka memainkan tubuh mereka di atas ban yang mengapung dan menyelusuri area kolam renang Mangga Jati dengan cerah ceria dalam buai sang segar air kolam.

Tawa dan teriakan anak-anak lainnya menambah suasana ramainya kolam renang itu. Shifa, sang ibu yang sedang duduk menunggu, melemparkan senyum memandangi kedua putranya. Nampaknya udara terasa panas membuat tenggorokan Shifa menjadi kering hingga ia tak tahan untuk meneguk sebotol air mineral dan mengeluarkan sepotong roti yang dibawanya sebagai bekal dari rumah. Tak lupa kemudian ia bagikan pada Farrel dan Bintang agar mereka makan sebagai snack di sela waktu berenang.

“Farrel, Bintang, makanlah dulu roti ini nak.. jangan lupa minum juga kalian,” panggil Shifa yang diikuti oleh mendekatnya kedua anaknya.

“Makasih Bunda,” jawab mereka dengan hati yang riang.

Entah bagaimana pandangan Shifa tak sengaja tertuju pada gadis yang berusia kurang lebih 9 tahun. Gadis itu salah satu anak yang tadi berenang di sebelah barat Bintang. Tangannya yang basah kuyup  sambil memegang sepotong roti.

Pemandangan haru tiba-tiba saja tercipta. Saat sang gadis membagi sepotong roti menjadi tiga bagian dan diberikan kepada saudaranya. Ia memberikan potongan pertama pada adiknya yang paling kecil. Sungguh anak-anak yang luar biasa. Tak terlihat kekurangan di sana, melainkan sebuah pemandangan antar saudara yang tak mengenal rasa iri dan keegoisan. Tatapan polos dan senyum mereka adalah kebahagiaan yang sederhana.

Dengan menarik nafas panjang, Shifa pergi mendekati ketiga gadis itu. Sakinah, Lisa dan Anis, begitu panggilan akrab mereka.

“Maukah kalian menerima roti pemberianku ?” begitu Shifa menawarkan 3 potong roti kepada gadis-gadis itu. Berharap mereka mau menerimanya.

Benar saja, Anis mengangguk dengan malu-malu dan mengambil roti dari tangan Shifa. Pikir Shifa mereka akan langsung melahap roti yang ia bagikan, tetapi tidak. Ketiga gadis itu saling pandang dengan penuh isyarat. Seperti ada yang mereka pertanyakan dalam diam.

“Apa yang ada dibenak mereka?” kata Shifa dalam hati sambil curiga.

Setitik air mata pun jatuh, ketika Shifa kembali melihat ketiga gadis itu saling mencicipi bagian roti masing-masing. Karena rasa dari setiap potongan roti itu berbeda, mereka tidak hanya berbagi sepotong roti tetapi juga berbagi rasa. Rasa yang ingin mereka rasakan bersama.

Dengan mata yang masih berbinar-binar, Shifa tersenyum dan beranjak pergi setelah mereka saling berucap terima kasih. Luar biasa, sesungguhnya mereka semua masih anak-anak, namun terkadang kita juga bisa belajar dari mereka. Belajar rasa kebersamaan, belajar untuk saling menghargai dan belajar untuk berbagi terhadap sesama.

Sepotong roti, hanyalah sepotong roti. Namun rasa berbagi terhadap sesama adalah kasih sayang yang semestinya. Kulihat keindahan, berbagi itu menghidupkan hati seperti cahaya mentari yang tak pernah mengeluh memberi sinarnya. (nisamaulida13@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *