Cerpen

Surat Untuk Fajar

Oleh : UVUV

Di pagi yang cerah, seperti biasa Fajar bergegas menyiapkan seragam dan peralatan sekolahnya, Fajar begitu bersemangat pagi itu karena ada pelajaran yang sangat ia sukai, pelajaran olahraga. Sesampainya di sekolah, Fajar diberitahu temannya bahwa di kabupaten akan ada klub sepak bola dari kota Malang yang sedang membuka pendaftaran seleksi pemain-pemain berbakat untuk menjadi pemain inti di akademi junior tim tersebut.

Mendengar kabar tersebut Fajar merasa gembira karena peluang untuk meraih cita-cita yang ia dambakan sudah terbuka lebar. Ia pun bergegas menuju Pak Wisma selaku guru olahraga di sekolahnya untuk menanyakan informasi lebih lanjut tentang pendaftaran tim sepak bola tersebut. Namun Fajar harus menelan pil pahit, persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon peserta klub dirasa cukup berat baginya. Calon peserta klub harus memiliki sepatu bola dengan merek tertentu yang tentunya berharga mahal. Hal itu sangat disadari Fajar bahwa ia tidak akan mampu untuk membeli sepatu bola tersebut, dikarenakan latar belakang keluarga Fajar yang kurang mampu. Ayahnya hanyalah tukang cleaning-service di sebuah kantor percetakan, dan ibunya hanyalah seorang tukang kue keliling di tempat mereka tinggal.

Dalam batin, Fajar terus berharap akan bisa memenuhi persyaratan klub dari Kota Malang tersebut, sampai tak sadar tangan Pak Wisma menepuk pundak Fajar dan membuyarkan lamunannya. Pak Wisma lalu duduk dan bertanya akan perubahan sikap Fajar saat itu. Dengan sedih Fajar menjawab bahwa dirinya tidak bisa mengikuti pendaftaran klub tersebut karena tak mampu membeli sepatu. Pak Wisma mencoba menenangkan kesedihan Fajar dan menyarankannya untuk berbicara dengan orang tuanya. Awalnya Fajar merasa tak yakin dengan saran Pak Wisma, namun tak ada pilihan lain yang bisa dilakukannya.

Sepulang sekolah, Fajar melaksanakan saran Pak Wisma untuk membicarakan keinginannya kepada kedua orang tuanya. Fajar memelas dan orang tuanya memahami keinginan anaknya yang begitu besar. Dalam keterbatasan, orang tua Fajar terpaksa harus menuruti keinginan putranya dengan menjual satu-satunya kalung pernikahan mereka. Keceriaan Fajar terlihat kembali ketika orang tuanya memberikan sejumlah uang untuk membeli sepatu bola.

Keesokan harinya Fajar berangkat sekolah dengan semangat yang berlipat ganda. Keceriaan tampak menghiasi wajahnya. Ketika bertemu dengan Pak Wisma, Fajar mengajaknya untuk membeli sepatu di kota, Pak Wisma pun dengan senang hati mengantarkannya. Ketika sampai di toko sepatu olahraga yang dimaksud, mereka berdua pun terkejut. Kenyataan berbicara lain, ternyata uang hasil jual kalung pernikahan orang tua Fajar masih belum cukup untuk membeli sepatu bermerek yang dimaksud. Kini Pak Wisma merasa iba kepada Fajar, ia pun berniat untuk meminjam uang ke pihak sekolah untuk mencukupi harga sepatu Fajar dengan jaminan honornya. Pak Wisma tahu, Fajar memiliki kemampuan untuk menjadi pesepakbola profesional, sebab Fajar sempat mewakili sekolahnya dalam ajang turnamen sepakbola antarsekolah tingkat provinsi. Dalam turnamen tersebut Fajar menjadi pencetak gol terbanyak walaupun sekolahnya tak mampu menjadi juara turnamen. Esoknya, mereka kembali ke toko yang sama untuk membeli sepatu tersebut dengan uang tambahan dari pihak sekolah, alhasil Fajar pun bisa membeli sepatu bola yang dimaksud.

Dan hari itu pun tiba, di mana tim sepakbola dari kota Malang mengadakan seleksi di kabupaten tempat Fajar tinggal. Tak disangka-sangka, ternyata jumlah peserta yang mengikuti pendaftaran mencapai ratusan pelajar dari berbagai daerah. Fajar pun merasa tertantang dengan banyaknya jumlah pendaftar, karena hanya akan diambil sepuluh pemain terbaik untuk menjadi pemain inti di akademi tersebut. Hari itu merupakan hari yang sangat melelahkan bagi Fajar.

Dua minggu kemudian, Pak Wisma menghampiri Fajar yang sedang asyik melamun sepulang sekolah di depan kelasnya. Sambil tersenyum ia pun memberikan sebuah surat kepada Fajar. Karena penasaran, ia pun membuka surat itu dan membacanya dalam hati. Dengan wajah penuh kegirangan Fajar pun berlari pulang kerumah untuk berbagi kabar tersebut dengan kedua orangtuanya. [imannaufalmahadika@gmail.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *