Cerpen

Tentang Ayahku, Kakekku, dan Revolusi 65

Oleh : Widya Asmarawati

Sore ini aku hanya bisa terduduk merenung di salah satu sudut pelabuhan kecil di kampungku. Di depanku terhampar kapal-kapal yang tertambat dengan jangkar-jangkarnya berjajar memanjang sejauh mata memandang. Aku memang sedang gundah karena minggu depan akan diwisuda, tapi sampai sekarang masih luntang-lantung tak jelas mau bekerja dimana. Pernah juga terpikir, capek-capek sekolah dan belajar namun akhirnya buntu juga. Kenyataan seperti ini jamak dirasa oleh teman-teman seperjuanganku. Sembari mikir sekitar sepuluh meter di depanku beberapa bapak paruh baya dan seorang anak berumur belasan tahun tampak sedang sibuk menurunkan muatan kapalnya. Tentu saja mereka adalah para nelayan yang baru saja merapat pulang dari perjalanan berhari-hari di lautan lepas. Wajah mereka tak tampak gembira, tentu saja bisa kutebak hasil melaut mereka tak seperti yang diharapkan.

    Sungai Gong yang saat ini tepat di depanku, merupakan satu-satunya jalur para nelayan kelaut dari sini. Sungai Gong punya ceritanya sendiri yang tak bisa dilupakan bagi masyarakat sini. Napak tilas pikiranku saat sungai ini pernah menjadi salah satu saksi sejarah paling kelam negeri ini. Pagi itu sekitaran akhir tahun 1965, seorang anak lelaki 9 tahunan tengah berdiri menatap puluhan mayat yang mengambang dan terseret pelan oleh arus sungai Gong menuju ke laut. Terlihat jelas bekas luka penyiksaan dibadan mereka yang masih ditempeli darah berwarna kecoklatan. Walau agak membengkak tetapi wajah-wajah mayat tersebut tampak belum terlalu membusuk. Sejak beberapa bulan setelah kejadian 30 September dan penangkapan besar-besaran orang-orang yang dianggap anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), memang sering terlihat pemandangan mengenaskan seperti itu di sungai Gong. Mayat-mayat orang-orang tak dikenal dalam jumlah puluhan sering tampak mengambang terbawa arus seolah sengaja dibuang di sana. Mata anak lelaki yang hanya memakai celana pendek warna hitam kumal yang bagian pinggangnya hanya diikat dengan tali rafia dan bertelanjang dada itu terus menatap mayat-mayat yang semakin menjauh itu. Anak kecil ini bernama Jupri. Dia berharap tidak ada satupun wajah dari mayat-mayat itu yang dia kenal. Dan setelah dia pastikan, dengan menghela nafas dia beranjak mengambil kailnya yang semula akan dipakai untuk memancing. Keinginannya untuk membawakan lauk untuk makan adik-adiknya sirna sudah dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.

Rumah Jupri tak jauh dari sungai Gong. Ibunya adalah seorang perempuan berusia 20an tahun yang berpostur kurus dan wajah yang kuyu. Sebenarnya mereka tidak punya sawah, jadi setiap pagi ibunya pergi ke sawah dan berharap bisa mendapat sisa-sisa padi. Dari situlah mereka dapat makan nasi, jika hari itu tidak ada yang panen maka ibunya akan beralih ke pasar untuk menjadi buruh gendong harian dengan upah yang sangat tidak layak, begitulah keseharian mereka. Sebelumnya mereka adalah keluarga yang berkecukupan. Namun ayah Jupri diajak teman dekatnya untuk bergabung menjadi anggota PKI yang memang sedang naik daun pada saat itu. Partai ini mengusung ideologi komunis dengan paham sosialisnya. Faktor ekonomi yang menghimpit serta janji “sama rasa sama rata” menjadi magnet yang sangat kuat pada masa itu. Juga para pembesar PKI dekat dengan Presiden Soekarno. Maka masuklah ayah Jupri menjadi anggota PKI. Pola pikir khas orang kampung yang polos ingin memperjuangkan keadilan. Mereka tidak sadar dibalik itu semua ada skenario besar sedang mengintai yang akhirnya akan mengubah hidup mereka dan bahkan sejarah dunia.

Beberapa bulan kemudian terjadilah kejadian G30S/PKI. Dimana 6 orang jenderal diculik dan dibunuh oleh pasukan tak dikenal pimpinan Sjam Kamaruzaman yang mengaku utusan presiden. Alasan penculikkan ini berawal dari adanya isu tentang Dewan Jenderal yang dikabarkan ingin melakukan kudeta. Sebenarnya penculikkan para Jenderal ini direncanakan oleh D.N. Aidit yang adalah pucuk pimpinan PKI saat itu. Beberapa hari setelah kejadian 30 September, Soeharto membawahi penangkapan besar-besaran orang-orang yang dianggap anggota PKI atau berhubungan dengannya. Di sisi lain pihak anggota PKI dan simpatisannya yang masih bertahan mencoba melakukan perlawan. Banyak ulama yang saat itu menjadi target pembunuhan dan masuk dalam “Daftar bunuh” oleh PKI. Salah satu hal yang dimanfaatkan dengan baik oleh para pembuat skenario peristiwa itu adalah rakyat yang lapar dan sengsara tentu sangat mudah terbakar emosinya. Bahkan ada yang mengatakan, dari sejak kemunculan paham komunis sampai sekarang sudah memakan korban tidak kurang dari dua ratus juta jiwa.

Ayah dan paman Jupri juga ikut terciduk saat penangkapan sampai akhirnya paman Jupri meninggal karena tak tahan disiksa. Beberapa hari setelah ayah Jupri ditangkap, rumah mereka pun dirobohkan oleh orang-orang kampung yang marah karena menganggap semua anggota PKI adalah pembunuh. Sempat beberapa hari mereka harus menahan dingin saat tidur, karena cuma beralas tikar seadanya dan beratap kain lusuh hasil dari mengais sisa-sisa rumah mereka yang sudah roboh. Pakaian merekapun hampir semua dibakar. Atas kebaikkan para saudara ibu Jupri, akhirnya dibagunlah rumah kecil seadanya. Hampir setiap malam ibu Jupri menangis karena khawatir akan nasib suaminya. Dan hampir setiap malam juga Jupri tidak bisa tidur karena ikut menahan batin yang sedih dan perut yang lapar. Kedua adiknya pun sakit-sakitan. Ah…Nasib Jupri bagian kisah kecil dari kisah pilu yang telah diberikan bangsa ini untuk menorehkan sejarahnya.

Genap dua tahun ayah Jupri dipenjara, saat itu akhir tahun 1968. Akhirnya ayah Jupri dipulangkan dengan embel-embel eks-Tapol di KTP nya. Namun tak berlangsung lama, 6 bulan berselang ibu Jupri meninggal karena penyakit TBC. Kisah cinta ayah dan ibunya Jupri memang tak semanis kisah roman kuno ataupun cerita dongeng. Hanya kisah cinta pasangan suami istri di pelosok kampung kala itu. Tapi sangat deras dengan ujian, pengorbanan, dan perjuangan hidup. Bahkan ketika istrinya meninggal dia tak mampu menangis setetespun walau hatinya menahan pilu dan nestapa.

Aku tersadar dari lamunan ketika ayah menepuk pundakku dan mengajak pulang. Ayahku hanya seorang pengepak ikan tongkil di gudang orang. Tiba-tiba ada yang memanggil ayahku dari kejauhan, “Pak Jupri handuknya ketinggalan di gudang”. Ayahku melambaikan tangan pada sumber suara dan menjawab, “iya tidak apa-apa besuk masih mau dipakai, biar saja”. Kamipun melanjutkan berjalan pulang ke rumah yang hanya beberapa ratus meter dari tempat itu. Ayahku adalah si Jupri, anak lelaki yang baru berusia 9 tahun saat “Revolusi 65” pecah. Karena kejadian kelam masa lalu itu juga, aku tak pernah mengenal nenekku. Walau hanya didalam secarik foto pun aku tak pernah melihatnya. Hanya dari cerita ayah aku mencoba merangkai kenangan-kenangan tentang nenek seolah pernah mengenalnya.

Aku sendiri belajar makna cinta dari keluargaku. Cinta yang menerima dengan tulus dari ibuku pada ayahku, dimana setiap hari ia harus tidur sekasur dengan lelaki kampung yang badannya selalu berbau ikan. Cinta yang penuh kasih dan tanggung jawab dari ayah kepadaku, dimana dia selalu dengan senang hati seharian penuh bergulat dengan ribuan ikan dan pisau untuk membuat anaknya mengenyam pendidikan. Cinta yang penuh pengorban dari kakekku pada anak-anaknya, dimana dia rela bertaruh nyawa dilaut untuk sekedar pulang membawa ikan untuk makan anak-anaknya. Cinta yang penuh penantian dan kesabaran dari nenekku kepada kakekku, dimana dia mampu menahan setiap hinaan orang dan menjalani hari-hari terakhirnya sebagai buruh gendong tanpa keluh kesah. Apakah banyak yang bisa seperti ini, aku rasa masing-masing kita tahu jawabannya.

(widyasmarawati@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *