Kicauan

Kicauan Kenangan

 

Fethiye

Dahulu ilalang, demikian riwayat Bayram Dede ketika pindah ke Fethiye empat puluh tahun lalu, ketika serah terima akta tanah untuk mengembala domba membawa serta keluarga. Kini, Fethiye adalah bagian dari lokus kenangan yang senantiasa bertumbuh. Sebut saja Ilahiyat Fakultesi, Podyum Park, FSM, masjid Somuncu Baba. Betapa harmoni itu telah mendarah daging di sana, antara suara dengung ilmu di kelas-kelas fakultas, rapalan Alquran di cami dan Kuran Kursu yang berefleksi terbalik dengan hingar bingar malam dan gemerlap lampu kafe. Silakan terkejut sekarang, karena peradaban akan lahir di sana lima atau sepuluh tahun lagi lewat tangan cendekia. Tempat banyak orang baik dan orang yang tak jera untuk terus berbuat baik.

Kunjungilah jalan-jalan di Fethiye menjelang Eylül-engkau (masih) akan dapati dapur kayu mengepul membuat domates salcasi stok musim dingin, atau receli sisa panen kebun di musim panas.  Duduklah semenit dua menit di taman, engkau akan tahu berapa jumlah lalu lalang öğrenci Ilahiyat pulang sekolah membawa bungkusan ekmek panas dari kedai roti di ujung sana. Tahanlah kantuk sejenak jika tetanggamu mengundang minum teh selepas Isya, boleh jadi banyak berkah silaturahim disana. Nikmati hidup sebagai penduduk negeri, tempat euforia kebaikan begitu terasa.

Fatimah Az Zahra

 

Ulucami

Kala itu kota Bursa sedang dihujani salju tipis-tipis, tapi dinginnya mampu menembus tiap-tiap lapisan kulit sekian tebal. Hawa dingin lekas teralihkan tatkala bangunan yang kokoh berdiri di jantung kota Bursa melantukan suara muadzin yang menggema bersama suara-suara angin. Dialah bangunan dengan dua puluh kubah kecil-kecil yang sarat hikayat yang melegenda dalam sejarah Islam. Dialah saksi atas kemenangan Beyazid di Perang Nicopolis setelah mengalahkan pasukan perang Salib di abad pertengahan. Kini, dia menjadi saksi atas kemenangan setiap insan yang berhasil menaklukan pertempuran hebat dengan hati mereka sendiri, atas pencarian tentang hakikat sang Pencipta. Dialah saksi atas setiap tangan yang menengadah penuh harap kepada Sang Khalik. Dia pulalah yang menjadi saksi atas derai air mata yang jatuh kala bersimpuh pada Ilahi. Seolah sudah jadi kodratnya menjadi saksi bisu tiap peristiwa, hari itu adalah perpisahan saya dengan kota Bursa, dan dia menjadi saksi akhir perjalananku di negeri Khalifah.

Enam tahun lalu saya minum dari pancuran air Ulucami, dan saya datang kembali empat tahun kemudian. Enam bulan lalu saya minum airnya lagi, mungkin saya akan datang kembali empat bulan lagi. Ulucami akan menjadi saksinya.

Fadhilah Wulandari

 

BursaRay

Bergerak setiap pagi mengangkut orang-orang yang berkejaran pergi ke daerah industri di organize sanayi, para mahasiswa yang hendak kuliah, dan para lansia yang ingin bepergian sejenak melepas jenuh. BursaRay pagi sering diwarnai cekcok ibu-ibu, suara musik yang bocor dari headset anak kuliahan, atau suara kakek-kakek tua yang bertelepon ria tanpa peduli penumpang di sebelahnya yang terganggu. Berbekal secarik kertas kecil bertuliskan “Üniversite 2.No’lu” aku memulai perkenalanku dengan kereta hijau bergerbong empat ini. Ia tempat refleksi diri karena akan begitu banyak jenis orang yang kau temui. Dari teyze-teyze berjilbab lebar yang memegang zikir matik sepanjang jalan serta amcaamca yang memutar tasbih, anak kuliahan yang tertidur kelelahan sambil memegang ders notu untuk vize, siswa SMA yang akan memandang wajah asing dengan penuh rasa ingin tahu, sampai tipe orang yang akan mewawancarai orang asing sepanjang perjalanan. Jika berkunjung ke Bursa, sesekali naiklah metro seorang diri dan perhatikan sekelilingmu dengan jeli. Mungkin akan kau dapatkan kesanmu sendiri.

Hanifatul Rahmah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *