Kicauan

Kicauan Satu

dirangkum oleh: Dina Metuah

 

Senyum” : Aku melihat bunga di wajahmu ketika sudut bibirmu meruncing, memanjang menyentuh pipi. Meskipun otot yang digunakan lebih sedikit dari pada cemberut, namun sulit dilakukan ketika suasana hati tak baik.  Ketika petasan kebahagian meletus di hati, letupan itu terpancar melalui bentuk bibirmu dan menularkan kebahagian kepada orang yang melihat.

(Vichi)

“Cerita” : Terlalu sering bercerita tak membuat seorangpun selalu merasa bahagia.

(Nisa)

“Bahagia” : Kini, setelah sekian lama hingga akhirnya aku berhasil meraihnya, aku merasa ini tak seberapa. Aku melihatnya, ah! Usahaku biasa saja. Kucoba selanjutnya. Aku puas, bahagia. Namun mengapa bahagiaku tak lama? Sebesar usahamu, sebesar itu pula kebahagiaanmu, katanya.
Apa harus kulakukan sesuatu untuk merasa bahagia? Bagaimana kalau aku diam saja?.

(Muafi)

“Teh” : Kebersamaan hangat, lalu kau pindah kemataku dengan cerita dan berita beragam.

(Popy)

“Percaya” : Aku tahu Tuhan Maha Tahu, tapi tetap saja aku suka bercerita kepada Tuhan – hampir setiap malam. Karena aku percaya Dia Maha Mendengar.

(D. Metuah)
“Pengorbanan” : Kerja keras tanpa dibarengi dengan pengorbanan tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.

(Muammar)

“Cinta” : Cinta itu berada di pertengahan, tepat diantara logika dan perasaan hati.

(Muji)

“Janji” : Entah mengapa, memberi janji itu lebih jahat daripada berbohong, karena kita tidak hanya bikin orang percaya, tapi juga berharap.

(Maestro)

“Laut” : Laut bisa jadi penghubung dan pemisah tergantung dari perspektif mana kamu melihatnya. Bagiku ia penghubung.

(Rahma)

 

“Pena” : Kau layaknya bak Mahadiraja sanggup mengarahkan haluan dunia, memintarkan dan men-jahil-kan manusıa, melukis peradaban, pun merajut-rias rasa indah itu dihati dua insan.

(Fikri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *