Memori

Ayah Engkau Adalah Pintu Surga Bagiku

Oleh: Intan Popy Rinaldy

Tepat 10 tahun yang lalu, kejadian itu masih segar dipikiranku. Kesan pertama yang tak akan kulupa dari sosok lelaki yang paling aku sayangi.

“Intan, ayoo.., cepat ambil sendalnya,” ucap kakakku terengah-engah keluar lapangan sambil memengang erat tali karet ditangannya. Tanganku pun lihai mengambil sendal dengan cepat, memakainya sambil aku memungut sisa-sisa kapur di tanah. Lalu, sambil bergegas aku menyusul kakak dari belakang.

Sewaktu itu, sore menjelang malam. Suara burung mulai memekik di langit yang kemerahan. Tengku Din, muazin di kampung kami sudah sedari tadi mengumandangkan adzan. Jalan sudah mulai sepi, kendaraan hanya satu atau dua yang melintas. Aku melihat para lelaki dengan baju kaos seadanya sambil memperbaiki sarung terburu-buru menuju mesjid.

Hatiku mulai cemas dan takut, ini pertama kalinya kami pulang telat bermain dari lapangan kecamatan. Padahal, Kak Indah sudah mengajakku pulang sedari tadi. Namun, karena kuterima tantangan si Ferdi  untuk bermain lompat tali, kami pun pulang telat. Biasanya, sebelum adzan kami sudah harus rapi dirumah, menghafal Juz Amma sembari menunggu adzan magrib. “Jika ayah tahu dua anak gadisnya ditengah senja masih berkeliaran di luar rumah, pastilah beliau akan marah,” ucapku dalam hati.

“Kak, kira-kira ayah sudah ke mesjid belum, ya?” tanyaku pada kakak, anak keempat.

“Iya, pasti, kita harus sudah rapi ketika ayah pulang nanti,” tegasnya.

“Assalamulaikum…” dengan mengendap, kami memasuki rumah, aku memastikan langkahku sepelan mungkin. Agar tidak ada yang tahu bahwa kami pulang telat. Lalu, kulihat kanan kiri, tidak ada siapapun di rumah, kemungkinannya semua orang telah ke mesjid. Dengan bergegas aku memasuki kamar, meletakkan sisa kapur di atas meja solek (baca: rias), lalu tanpa mandi, aku berwudhu seadanya, mengambil mukena, serta segera ke ruang tengah melaksanakan shalat magrib. Aku melakukan kegiatan itu secepat mungkin, agar tidak didahului oleh ayah yang pulang dari mesjid.

Kurang dari 5 menit sudah kuselesaikan shalat magrib, dengan duduk bersila, bibir kecil kami mulai mengeluarkan huruh hijaiyah, membaca ayat demi ayat dari Al-Quran. Kala itu, aku baru lulus Iqra dan mulai membaca Al-Quran. Meskipun sebelumnya telah menghafal surah-surah pendek Al-Quran. Adapun Kak Indah telah mulai menghafal beberapa surah. Aku anak bungsu dari lima bersaudara. Memiliki satu abang (baca: saudara laki-laki) dan tiga kakak perempuan. Umurku selisih 2 tahun dengan Kak Indah. Dalam urusan bermain, aku lebih dekat dengannya dibandingkan kedua saudara perempuanku yang lain.

Setelah selesai mengaji, ayah belum juga pulang dari mesjid, mamak (baca: ibu) menyuruh kami makan lebih awal. Tak seperti biasa, tanpa menunggu ayah. Karena ayah ada rapat dengan kepala keuchik katanya. Ayah baru tiba dirumah setelah isya. Kami sedang berada di ruang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku sedang memilih buku untuk pelajaran besok, mendengar salam dari ayah, jantungku mulai berdetak kencang, tanganku gemetar untuk memilah buku. Ya, jauh sebelum ayah pulang aku sudah siap menerima hukuman apapun dari ayah.

“Sepertinya bermain di lapangan seru sekali, sampai lupa pulang kalau sudah magrib,” ucap ayah dengan nada tenang sambil menatap kearah kami. Baiklah ini bertanda eksekusi telah dimulai. Ayah memulai dengan percakapan yang cukup membuat kami terdiam. Hal yang kami lakukan sore tadi adalah salah satu hal yang paling tidak disukai ayah. Sebab, ayah selalu menegaskan agar seluruh anggota keluarga harus sudah berada dirumah sebelum magrib.

“Dek, tolong ambilkan lidi di belakang lemari,” pinta ayah pada mamak (baca: ibu) yang sedang duduk disampingku. Dengan ragu, mamak mengambil lidi yang sering dipakai untuk membersihkan tikar, lalu memberikannya kepada ayah. Kau tahu apa yang kurasakan kawan?. Tangan dan kakiku mulai dingin, nafas telah kutahan beberapa kali sedari tadi. Apa ayah akan memukul kami?. Bertanya dalam hatipun, aku tak berani. Rasanya tidak seperti ketika lomba shalat jenazah di balai kecamatan, ataupun menghafal Juz Amma di depan kelas tempatku mengaji. Tidak, ini jauh lebih tegang daripada semua hal itu.

Ayah menyuruh kami berdiri, tanpa peduli melihat wajah kami yang pucat pasi. Aku berdiri disamping kakakku, dengan sigap ayah mengayuhkan lidi itu, dan trap..!!. Satu pukulan mengenai betisku. Aku menggigit bibir, sambil mendengar teriakan kak Indah disampingku. Dan aku hanya menunduk, tidak berani menatap wajah ayah. Beliau mengulanginya dua kali, sakit yang tak seberapa dibandingkan dengan malu yang kurasakan. Aku tahu sudah berapa kali ayah menasehati kami tentang pantangnya berada diluar rumah ketika senja. Serta beberapa adab yang dianjurakan untuk dilakukan sewaktu magrib yang sudah aku hafal diluar kepala.

Selepas itu, ayah meminta mamak untuk mengambil daun cocor bebek di dapur. Sambil mengusapkan ke kaki kami, ayah mulai bercerita tentang masa hidupnya ketika kecil. Saat ayah berkata bohong, diberi hukuman dengan pukulan rotan. Tidak seperti kami sekarang. “Terlalu banyak ‘keringanan’”, ungkapnya. Dalam masalah akhlak, ayah mendidik dengan tegas, salah tetaplah salah begitupun sebaliknya. “Bukan berarti kita tidak boleh berbuat salah, hanya saja bagaimana kita bisa belajar dari kesalahan tersebut,” ucapnya lagi. Walaupun sebenarnya aku tidak begitu paham dengan kata-kata ayah sewaktu itu.

Inilah ayah, lelaki yang selalu aku sebut dalam doa untuk bisa berkumpul dengannya di surga nanti. Tak pernah membentak sesalah apapun kami, lebih banyak memberi contoh daripada menasehati. Itulah pukulan  pertama dan terakhir yang aku rasakan dari ayah. Terima kasih karena telah bekerja begitu keras untukku dan keluarga. Ayah telah memberi rasa aman padaku, sehingga kini aku berusaha untuk mandiri tanpa merepotkannya lagi. Berusaha untuk tidak menjadi penyebab tubuhnya dilemparkan ke nereka nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *