Memori

Berbagi dalam  ‘Bersaing’, Bisakah?

Oleh: Panda Belang

Dalam sebuah usaha, pasti akan ada persaingan. Seperti tidak ada pilihan, kita akan menjadi saingan atau penyaing. ‘Usaha’ dalam  konteks ini, tidak hanya soal bisnis. Sebagai contoh dalam beberapa hal seperti belajar dan kompetisi. Bahkan, kita hidup di dunia, sebenarnya ‘bersaing’, untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Jurinya siapa? tentu saja Dia yang Maha Menghidupkan, setelah kita mati nanti.

Ketika mendengar kata ‘bersaing’, yang terlintas di pikiran kita adalah “siapa yang lebih baik?.” Bahkan, tidak sedikit yang mengatakan persaingan itu ‘kotor’. Lalu, kenapa kita harus bersaing?. Biarlah saya melakukan apa yang ingin saya lakukan dan orang lain bebas melakukan yang mereka ingin lakukan?. Apakah pernyataan tersebut benar adanya?. Jawabannya, bagi saya, “cukuplah bagiku usahaku dan bagimu usahamu”.

Bagi kaum pelajar, pasti pernah mengalami rasa ingin ‘bersaing’. Paling tidak, keinginan menjadi seperti idola yang pintar, rajin, juara, berwajah tampan, soleh dan hafidz Alquran. Setiap manusia punya naluri untuk ingin berubah menjadi lebih baik. Sehancur apapun latar belakang kehidupannya, seburuk apapun sifatnya, sebuah kepastian bahwa di benaknya menginginkan perubahan. Namun, dikarenakan banyaknya faktor menjadikannya terkadang belum mampu mengubah hal tersebut, salah satu diantaranya adalah faktor ‘rendah diri’. “Ah, saya bukan siapa-siapa dibandingkan dia. Dia sejak lahir juga telah seperti itu, berbeda jauh jika dibandingkan saya yang seperti ini”. Tidak!, jangan salah mengartikan. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Jangan karena merasa ‘rendah diri’, menganggap diri sendiri  memiliki banyak kekurangan, alhasil memilih untuk menyerah. Bersainglah, idola atau panutan dapat menjadi motivasi untuk bisa lebih baik. Karena yang dinilai Tuhan adalah usaha bukan kesuksesan.

Mengenai persaingan, ada istilah ‘sehat’ dan ‘tidak sehat’. Seperti label sapi ternak, bukan?. Mungkin, pembaca sudah mengetahui bagaimana persaingan ‘tidak sehat’. Hal yang saya pahami bahwa menjatuhkan saingan agar kita terlihat lebih baik darinya. Lalu, seperti apa contohnya?. Ada banyak. Misalnya, si A menjual ayam, B juga menjual ayam. Si A membuat fitnah bahwa ayam si B mengandung virus berbahaya dalam proses penyembelihannya serta tidak halal. Hal seperti itu boleh dikategorikan persaingan ‘tidak sehat’. Ataupun si A menyuntikkan zat khusus agar ayam jualannya terlihat berbobot lebih dan dapat bertelur 3 kali lipat lebih banyak dari biasanya. Ini juga dapat dikelompokkan persaingan ‘tidak sehat’. Karena selain curang, juga membahayakan para konsumen.

Lantas, bagaimana dengan kategori persaingan ‘sehat’, bahkan berbagi dalam ‘bersaing’?

Saya akan sedikit menceritakan kisah saya sendiri ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Saya memiliki sahabat sekaligus saingan dalam hal prestasi. Berawal dari pertemanan biasa, mulai kelas X, hingga akhirnya kami berdua sadar memiliki hobi yang sama serta suka kentut di kelas. Kesamaan seperti itulah yang menjadikan kami menjadi lebih akrab. Ini berlanjut ketika pemilihan kelas jurusan untuk kelas XI, kami berdua kembali sadar bahwa kelas Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak sesuai minat kami. Namun, kami menyadari kelas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)-lah potensi kami. Alhasil, kami sekelas lagi di kelas IPS.

Persaingan antara kami dimulai ketika mengambil ekstrakurikuler Karya Tulis Ilmiah (KTI). Melalui KTI ini, kami mendapatkan pengalaman dengan mengikuti berbagai lomba. Awal cerita, dari mengirimkan karya masing-masing, kemudian diantara kami berdua tidak ada yang lolos, hingga akhirnya karya kami keduanya lolos dan masuk sepuluh besar. Hal itu menjadi momen awal kami memasuki zona ‘bersaing’. Dalam perlombaan tersebut, kami berdua meraih juara 1. Dengan kata lain, teman saya juara 1 dan saya harapan 1. Kemenangan ini memotivasi kami untuk mengikuti berbagai lomba selanjutnya.

Namun, bagi saya ada hal menarik diantara kami dalam mengikuti lomba yaitu kami berbagi dalam ‘bersaing’. Kami saling berbagi informasi mengenai lomba-lomba yang akan kami ikuti. Tidak hanya itu, dalam proses penulisan karya dan penelitiannya pun, kami saling bertukar pendapat dan menyelesaikan tulisan bersama. Dalam sebuah tema yang sama, biasanya kami memiliki ide yang berbeda dan saling percaya bahwa karya masing-masing akan menjadi terbaik di mata juri nanti.

Perlombaan demi perlombaan kami ikuti hingga puncaknya bersaing dalam final lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) se-pulau tempat kami tinggal. Momen itu sepertinya menjadi perlombaan terakhir yang kami ikuti, dimana saya kembali ‘kalah’ dari teman saya. Karena setelahnya, ketika kami mendapat tawaran-tawaran lomba lagi, kami sepakat untuk menolaknya dan tidak ikut lomba kembali.

Momen ‘bersaing’ pun kembali terjadi dan betul saja ini menjadi terakhir diantara kami. Yaitu ketika terpilih menjadi nominasi penerima beasiswa ke Turki. Ketika itu, terdapat sepuluh peserta nominasi yang lolos tes dan wawancara, satu di antaranya adalah teman saya. Lantas, itu tidak menjadikan kami seperti orang asing, yang ‘bersaing’ tanpa berbagi. Kami melanjutkan ‘tradisi’ kami, ‘bersaing’ dengan berbagi tips dan informasi mengenai tes dan wawancara, serta bersama menyiapkan seluruh persyaratan beasiswa.

Pada seleksi akhir, tersisa tiga calon penerima beasiswa, yaitu saya, dia dan seorang teman saya yang lain. Namun, yang terpilih sebagai penerima beasiswa Turki tersebut adalah saya dan teman saya yang lain. Dia sendiri tidak terpilih. Sedih rasanya impian ke luar negeri bersamanya pun terhenti.

Persahabatan dan model ‘bersaing’ kami masih tetap berlanjut, ketika saya telah tiba di Turki. Dia masih banyak bertanya tentang kuliah di Turki. Saya pun masih terus berbagi informasi kepadanya hingga kabar bahagia datang, kakak dia akhirnya dapat menyusulku ke Turki. Hati terasa bahagia dapat berbagi dalam ‘bersaing’. Dengan cara seperti ini, dapat menolong sekaligus membahagiakan hati orang lain.

Darinya, saya sadar dan belajar, sebuah persaingan ‘sehat’ itu lebih indah, jika kita saling berbagi. Tanpa harus takut tentang rezeki, karena rezeki ada yang Maha Mengatur. Kelak, model persaingan ini akan berlanjut lagi, setelah saya pulang ke Indonesia, dan tentunya dalam konteks ‘bersaing’ yang berbeda lagi. Sampai jumpa kembali, sahabat. (email kontributor?)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *