Memori

DOA TAHUN LALU

oleh: Husnul Maula

 

“Assalamualaikum.. Bu, maaf hari ini saya nggak bisa ke sekolah. Hari ini saya ada kuliah pagi dari jam 7.30 sampai jam 10.10. Kalau ada tugas yang harus saya kerjakan, tolong ditinggal di sekolah saja, Bu. Nanti siang mulai saya kerjakan,” ijinku ke kepala sekolah tempatku bekerja.

Ting…” suara handphone-ku berbunyi.

Oiya, nanti tugasnya ibu tinggal di meja kamu,” jawab ibu kepala.

Dengan penghasilan 1.5 juta perbulan, kurelakan untuk kerja dan kuliah secara bersamaan, dengan harapan bisa mengurangi beban orang tua.

“Pa, Mah, Nunul berangkat yah. Assalamualaikum,” teriakku di depan rumah sambil menaiki motor hitam kesayanganku.

Perjalanan Serang-Cilegon yang setiap hari dilalui mobil truk berukuran besar, serta pikiran tentang pekerjaan yang harus segera diselesaikan menemani perjalananku menuntut ilmu di universitas negeri ternama di daerahku.

Ting…” suara handphone-ku kembali berbunyi.

“Eh, dosen Pancasila-nya nggak dateng. Mata kuliahnya diundur jadi minggu depan.” Kubaca grup angkatan di Line.

Astagfirullah, baru saja sampe. Eh, ternyata dosennya nggak bisa ngajar.” mulutku berbisik kecil. “Ya sudah, cari makan saja dulu,” ujarku. Karena saking takutnya tidak diijinkan masuk kelasnya, kurelakan berangkat dari rumah pukul 06.00 dan tidak sempat untuk sarapan.

“Ting…” lagi-lagi suara handphone-ku berbunyi.

“Kamu ada di mana? Sekarang ke sekolah yah! Ibu tadi dapat telepon katanya pengawas mau datang,” pesan dari kepala sekolah.

Astagfirullah, baru juga sampe masa harus balik lagi ke Serang.” keluhku dalam hati.

Aku memang bukan orang yang pintar agama, tapi aku pernah mendengar bahwa salah satu doa yang dikabulkan Allah ialah doa orang yang sedang berpergian. Oleh karena itu, di setiap perjalanan pulang aku selalu berdoa, “Ya Rabbi, salahkah jika hamba meminta untuk kuliah keluar kota? Semoga itu tidak. Tapi jika tidak, mengapa belum engkau kabulkan, Ya Rabbi. Sungguh hanya kepada Engkau hamba berharap.”

Entahlah, hanya satu keinginanku sejak kelas 12 SMA. Aku hanya ingin kuliah di luar kota dan tak ada yang lain. Aku hanya ingin membuktikan kepada orang tua dan kakak-kakakku bahwa aku mampu meninggalkan kampung halaman. Aku sanggup berjuang, sanggup untuk hidup mandiri. Tapi semua itu, impian itu, hanya keinginan belaka setelah semua usahaku untuk mendaftar ke universitas di luar kota tak membuahkan hasil.

“Allah tahu seberapa besar kemampuanmu dan Allah tak mau membebani hambaNya melebihi kemampuan hambaNya,” kata-kata ini yang selalu kudengar dari guru-guru SMA dan tempat bimbelku.

“Sebodoh itukah aku, selemah itukah diri ini? Hingga Allah tidak mempercayakanku untuk hidup di luar kota? Ya Rabbi, hanya satu pintaku. Ijinkan hamba untuk pergi dari sini”.

Tung tung ting tring ting tung..” handphone-ku berbunyi.

Assalamu’alaikum. Iya, Bu. Ada apa?” kataku ke kepala sekolah.

“Ada di mana? Cepetan pengawasnya sudah mau dateng,” teriak ibu kepala kepadaku.

“Iya, Bu. Ini sudah di jalan, sebentar lagi juga sampai,” jawabku.

Tanpa pikir panjang lagi langsung kuarahkan motor hitam tuaku ke sekolah.

Assalamualaikum, Nunul pulang…” kataku di ruang tamu.

Wa’alaikumsalam, maghrib amat pulangnya,” jawab bapak yang sedang siap-siap untuk berangkat ke masjid.

“Iya tadi ke sekolah dulu, pekerjaannya masih banyak,” jawabku.

Maghrib adalah waktu yang paling aku sukai. Waktu yang paling kurindukan. Karena di waktu maghrib semua anggota keluarga berkumpul menjadi satu di ruang tamu dan membicarakan kejadian-kejadian yang unik hari ini, tak terkecuali aku.

“Pa, Nunul pengen daftar kuliah lagi yah,” kataku ragu.

“Emang kenapa kalau kuliah di sini? Nggak betah?” tanya bapak.

“Bukan nggak betah, Pa. Cuma masih ada impian yang belum tercapai,” ucapku ketus.

“Ya sudah, coba kamu pikir-pikir saja dulu. Tanya ke aa gimana baiknya,” perintah bapakku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menelepon aayang tinggal di Depok.

Assalamualaikum. A, Nunul pengen ngomong,” kataku.

Waalaikumsalam, oiya sok mau ngomong apa?” jawabnya.

“Nunul pindah kuliahnya, a‘, masih ada impian yang ingin Nunul kejar.”

Hmm, kamu mau gak kuliah di luar negeri?” jawab aa‘.

“Hah? Luar negeri?” Aku tercengang.

“Kalo kamu mau, siapin dari sekarang. Mulai belajar dari sekarang.” pintanya.

Entahlah, apa aa‘ hanya bercanda atau benar-benar serius? Tapi hanya satu yang kutahu, jika aku menginginkan sesuatu maka aku harus bersungguh-sungguh untuk menggapainya. “Kalo kamu mau, siapin dari sekarang. Mulai belajar dari sekarang“. Hanya ini kata-kata yang terngiang di kepalaku dan karena kata-kata ini juga aku paksakan diri untuk belajar siang dan malam. Tidur jam 12 malam dan bangun pukul 3 pagi hanya untuk belajar. Kurelakan semua waktu luang hanya untuk belajar, karena bukan impian jika tidak diperjuangkan.

Hingga tibalah waktu pengumuman tes itu.

“Pa, Mah, Nunul diterima kuliah di Turki,” kataku di depan bapak yang sedang duduk di depan televisi semalaman.

Hah? Kamu lolos kuliah di Turki?” tanya bapak.

“Iya, Pa. Gimana? Lanjutin jangan?” tanyaku ragu.

“Beneran kamu mau ngejar impian? Sayang nggak dengan pekerjaan kamu? Banyak mahasiswa di luar sana yang ingin kuliah sembari kerja kayak kamu,” tanya bapak.

“Iya, Pa. Masih ada impian yang ingin Nunul kejar. Pekerjaan itu mudah kok, Pa, kalo Nunul udah pintar nanti pekerjaan yang nyari Nunul,” jawabku.

“Ini hidup kamu, hanya kamu yang bisa menentukannya. Kejar impian kamu! Bapak dan Mamah hanya bisa mendukung kamu dari belakang,” pesan bapak untukku.

“Nul, bangun! sudah mau jam 20.00. Pesawatnya sudah mau berangkat,” suara bapak membangunkanku. “Itu sudah dipanggil. Rapihin bajunya,” perintahnya.

“Oh iya, Pa.” jawabku.

“Hati-hati yah di sananya, jaga diri, jaga nama keluarga, jangan nakal di sananya,” pinta bapakku.

“Iya, Pa. Insya Allah Nunul bisa jaga diri,” jawabku.

“Makasih yah Pa untuk semuanya. Sekarang Nunul pengen ngejar impian Nunul dulu.”

“Aku berangkat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *