Memori

Ibu Baru

oleh: Zulkhairi Arafah Faraby

Kring… suara nada pangilan telepon menggema ke seluruh ruang apartemen, rupanya pangilan masuk dari Taufiq ağabey (dibaca: abi untuk menyebut mas dalam bahasa Turki), sesepuh seperjuangan dari Jawa Tengah. Seperti biasa dia selalu semangat bertanya tentang perkembangan di rumah, bukan karena kepo justru sebaliknya karena dia peduli terhadap kondisiku yang tak karuan. Di akhir percakapan dia meminta izin untuk menjegukku ke rumah.

“Tentu saja,” jawabku tegas mengakhiri percakapan pagi itu.

Siang itu aktivitas di Selçukbey berjalan seperti biasa. Elif si gadis Kurdi penjual Kadayıf (manisan khas Turki) terlihat cekatan membantu di toko milik ayahnya di sudut jalan. Begitu juga Suleyman amca (baca: amja untuk menyebut paman dalam bahasa Turki), pedagang alat bangunan di bawah apartemenku selalu saja menebar senyum ke pejalan kaki yang lalu lalang di depan tokonya. Angin sepoi mengiringi suara bunyi bel apartemen. Dari jendela ruang tengah terlihat seorang pemuda bertubuh pendek dan berambut panjang sedang menunggu di pintu gerbang apartemen sembari menekan saklar bel.  Taufiq ağabey melambai ke arahku lalu memintaku untuk membukakan pintu.

Aku, Taufiq ağabey dan 9 sahabatku lainnya pernah di karantina untuk persiapkan bahasa Turki dan doktrin-doktrin ulama seberang sebelum diberangkatkan ke Turki. Syukur, kami semua sama-sama punya prinsip dalam mengukur mana yang harus diamalkan dan mana yang harus ditinggalkan. Sayangnya, kultur Turki terlanjut melekat dalam keseharian kami. Di sanalah awal mula kata ağabey menjadi lebih familiar di banding kata mas, abang atau kang.

“Kamarin ketika aku sedang belanja di pasar rakyat seorang amca paruh baya membuntutiku hingga ke dekat asrama. Sekilas ia kelihatan ragu sebelum benar-benar nekat untuk melempariku beberapa pertanyaan,” lanjut Taufiq ağabey meneruskan obrolan.

“memangnya dia tanya tentang apa?” sambungku.

“anu, dia tanya ‘apakah kamu dari Indonesia?’ dengan bahasa Turki yang terbatas akupun menjawab pertanyaannya lalu terjadilah percakapan panjang di antara kami. Beliau memberitahuku bahwa istrinya adalah orang Indonesia dan istrinya akan sangat senang jika aku bisa bertemu dengannya. Tanpa pikir panjang tentu saja aku mau,” jawabnya.

Percakapan sore itu melebur bersama kebahagiaan setelah tahu bahwa kami tidak sendirian di kota Osmangazi ini. Taufiq ağabey menambahkan bahwa si ibu mengundang kami ke rumahnya. Kebahagiaan hari itu meluap bersama rasa penasaran untuk mengenal sosok ibu misterius tersebut.

Kami bermusyawarah lalu tibalah di sebuah keputusan untuk menjenguk si Ibu di akhir pekan. Maklum dari senin sampai jumat kami harus bermalam dengan Kitap Lale mengerjakan tugas-tugas TÖMER hingga tidak mungkin rasanya untuk membagi waktu kecuali di akhir pekan.

Namanya Ade Asiati, beliau lahir dan besar di Cianjur, Jawa Barat, namun beliau lebih suka di panggil dengan sebutan Bu Telha, maksudnya ‘ibunya si Telha’ anak tertua dari perkawinannya dengan  bapak Suleyman Altunbay. Bu Telha sangat ramah. Dari raut wajahnya terlihat ia senang sekali dengan kedatangan kami. Maklum kami adalah orang Indonesia pertama yang ia jumpai selama 4 tahun terakhir.

Bu Telha begitu menikmati obrolan sesekali mencoba membongkar kembali memori-memori ketika di Saudi. Dia adalah seorang wanita tangguh,  berani menyebrangi lautan melawati gurun Rub’al Khali membanting tulang untuk membesarkan anak-anaknya yang saat itu masih sekolah.

Takdir berkata lain, Bu Telha bertemu dengan kontaktor dermawan asal Turki bernama bapak Suleyman. Bapak banyak membantu ibu serta teman-temannya ketika di Mekkah. Bapak menikahi ibu di tanah suci lalu dikaruniai dua orang anak laki-laki yang lucu: Telha dan Abdullah.

Setiap akhir pekan bu Telha selalu mengundang kami ke rumah. Ibu juga rindu berbincang dalam bahasa Indonesia karena bahasa sehari-sehari yang di gunakan keluarga adalah bahasa Arab dan Turki. Sesekali ibu mengundang kami bersamaan; kadang di undang untuk merayakan ulang tahun Telha Abdullah, kadang juga untuk berdoa bersama. Namun di setiap kunjungan kami selalu saja dibuat takjub dengan kelezatan olahan dapur Ibu. Semenjak itu ikatan kekerabatan kami semangkin erat layaknya seorang ibu dan anak-anaknya. Sesekali ibu bersenda gurau dengan bapak,

“Lihat anak saya bertambah banyak,” canda ibu kepada bapak.

Aku masih ingat sekali suatu hari menjelang persiapan Uluslarasi Öğrenci Buluşması, Rahma dan teman-teman penari saman lainnya meminta izin supaya rumah ibu bisa dipakai untuk latihan sehari. Tiba-tiba bapak marah karena kegaduhan zikir-zikir dan tentuman kaki dan tangan penari saman. Ibulah yang membela putri-putrinya di depan bapak; wajar bapak mungkin tidak terbiasa lagi dengan suara gaduh di usianya yang semankin senja.

Bu Telha mungkin bukan wanita yang sempurna, tapi paling tidak ibulah satu-satunya penawar rindu paling mujarab akan sosok ibu kandung yang jauh di mata. Suasana keluarga besar hidup bersama obrolan-obrolan dapur, canda tawa Telha dan Abdullah dan suara keras tivi bapak ketika sedang menonton sinetron Turki. Satu persatu-satu putra-putri ibu kembali kepangkuan ibu pertiwi untuk berbakti namun satu yang ibu selalu pesankan kepadaku dan teman-teman,

“nanti kalau kalian sukses, ibu tidak meminta kalian datang setiap tahun ke Turki menjenguk ibu cukup dengan mengigat ibu dalam doa kalian saja ibu sudah senang”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *