Memori

MENGUKIR ASA ANANDA

Oleh : Hanifatul Rahmah

Semua orang berhak memiliki cita-cita. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, diplomat, ada yang bilang ingin menjadi pengusaha sukses, perawat, juga polisi. Tapi wanita yang kukenal ini berbeda. Saat satu demi satu ujian mengikis kesempatannya untuk mewujudkan cita-citanya. Kemudian pada satu titik wanita hebat itu tidak lagi bercita-cita untuk dirinya, ia berjanji untuk bisa memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi generasinya untuk bercita-cita dan mewujudkannya. Sesuatu yang selama ini tidak bisa direngkuhnya.

Usianya 6 tahun saat ibunya meninggal dunia. Ibunya pergi begitu mendadak sampai ia kira ibunya hanya pergi berdagang kain seperti biasa. Pergi hari ini, lusa menjelang senja akan pulang dengan menumpang mobil tua yang sudah ngos-ngosan melewati medan sulit jalanan antarkota. Usianya 7 tahun saat ia akhirnya mengerti bahwa ibunya tidak akan pernah pulang lagi dan berhenti menunggu di perempatan jalan tempat biasa ia menyambut ibunya sambil riang bercerita tentang guru-guru dan teman di sekolahnya.

Usianya baru 12 tahun saat ia membeli emas pertamanya untuk tabungan biaya sekolah. Hasil jerih payahnya bekerja sepulang sekolah. Berjualan es, kue, apapun yang bisa dilakukan anak sekolah dasar. Ditinggal pergi ibunya, tinggal bersama ayah yang bekerja di tempat pemintalan sarung membuatnya hidup pas-pasan. Tiga kakak laki-lakinya sama seperti pemuda lainnya, mencoba mencari peruntungan, pergi ke daerah lain. Ia selalu cinta sekolah, tetapi bagi sang ayah sekolah bukan milik orang susah.

Usianya 17 tahun saat ia memutuskan berhenti sekolah. Karena baginya hidup tak melulu soal diri sendiri. Bukan selalu soal target dan pencapaian, kadang di situ harus ada pengorbanan. Supaya sang adik bisa menyelesaikan sekolah menengah atasnya, ia mengalah. Berhenti dan mulai membiayai sang adik agar kalaupun ia tidak bisa menguliahkan adiknya mereka sama-sama punya kesempatan sampai ke bangku SMA.

Tidak ada kata pengangguran bagi orang yang mau berusaha, katanya. Usianya 20 tahun saat ia sudah mulai sibuk membantu dokter di klinik desa. Ia menemukan dunianya di sana. Membantu orang-orang sakit di penjuru desa. Kadang tengah malam menumpang melintasi sungai Bengawan Solo dengan perahu kayu, melewati pematang-pematang sawah, atau pergi ke kampung jauh terpencil mendampingi dokter klinik unuk membantu orang-orang desa yang sakit atau akan melahirkan.

Usianya 26 tahun ketika ia menikah lalu bersama suaminya pindah ke daerah transmigrasi. Pergi ke daerah baru bersama orang yang sama sekali baru. Dari seorang perawat di klinik ia mulai menjadi ibu rumah tangga dan penggerak usaha yang dirintisnya bersama sang suami. Perlahan usaha kecil-kecilan mereka mulai berkembang. Daerah asing kini tak lagi terasa asing, orang baru lama-kelamaan tak lagi menjadi baru. Hanya saja roda hidupnya kembali berputar ke bawah. Tuhan punya caranya sendiri untuk memberitahu bahwa yang kau punya bisa pergi, bisa hilang kapan saja. Untuk apa kau pusingkan harta jika ketika mati tidak ada yang akan kau bawa selain dirimu saja?

Usianya 32 ketika ia hanya membawa satu tas berisi baju menggandeng buah hatinya menaiki kapal yang akan berlayar 1 hari 1 malam pulang ke desanya, berpikir kembali untuk menata kehidupannya dari awal. Menjalani profesi yang dulu pernah dijalani almarhumah ibunya. Pergi pagi buta, pulang menjelang senja.

Usianya 33 ketika ia memberanikan diri untuk pergi menjawab tantangan. Karena ternyata pulang, seharusnya belum menjadi pilihan. Ia tak lagi mengindahkan tatapan tidak percaya kedua kakak dan ayahnya. Karena kali ini hidup bukan lagi hanya tentang dirinya. Ada tangan-tangan kecil yang meminta digenggam, ada kaki-kaki kecil yang meminta dituntun, ada hati-hati yang ingin dipeluk, dilindungi, dan ada cita-cita lain yang menunggu untuk dipenuhi. Maka berbekal keyakinan penuh akan kemurahan Tuhan, gentar hatinya ia simpan. Gemetar langkahnya ia sembunyikan. Tepat setahun setelah memutuskan pulang ia genggam erat tangan-tangan buah hatinya kembali menyambut perjalanan 1 hari 1 malam.

Usianya menjelang 35 ketika ia mulai menjalani pekerjaan yang umumnya dijalani laki-laki. Pergi pukul tiga pagi. Menciumi satu persatu kening anaknya yang mengantar ke pintu depan rumah kontrakan mereka. Memastikan anak tertuanya mengunci pintu, kemudian pergi menyambut pintu rezeki yang sudah dijanjikan kepada orang yang mau berusaha dan yakin pada Tuhannya.

Kini usianya 54 tahun, janjinya dulu ingin memberikan kesempatan generasinya untuk bermimpi serta mewujudkannya hampir tuntas. Ia masih sering mengingat jalan ceritanya saat tidak punya uang untuk membayar sekolah, saat menjadi perawat di klinik desa, ketika pertama kali pindah ke daerah transmigrasi, ketika menangis diam-diam saat anaknya tertidur pulas dalam perjalanan 1 hari 1 malam, ketika memarut sepotong kelapa dan mencampurnya dengan nasi dan garam saat tidak mampu membeli lauk untuk dimakan hari itu, saat motor yang mengantarkannya beserta puluhan kilo barang dagangannya mogok dan harus mendorong seorang diri, saat ia menemani anak pertamanya wisuda, saat melepas anak keduanya pergi kuliah, saat melihat anak ketiganya memulai pekerjaan pertamanya, begitu seterusnya. Kemudian saat itu ia akan bersyukur dan berpesan pada sang anak bahwa ujian akan selalu ada selama nyawa masih bersatu dengan badan, bahwa ujian menaikkan derajat seseorang, bahwa seseorang hanya boleh berhenti berjuang ketika nafas sudah lepas dari badan. Lantas jika bertemu ujian adalah sebuah keniscayaan, mengapa harus gentar dalam berjuang? Hadapi, selesaikan, ambil pelajaran. Bukankah kopi pahit pun akan manis asal kau mau berusaha menambahkan gula?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *