Memori

MT: “Ambil Pilihan Haruslah Tuntas”

Oleh: M Muafi Himam

“Aku dulu pengen jadi kernet bus,” kata Mas Taufiq-sapaan akrab saya untuk Taufiq Ismail mengawali ceritanya. “Keren aja, bisa ngatur, kiri…kiri. “

Sore ini sekembali dari Indonesia, Mas Taufiq (MT) berkenan berbagi kisah hidupnya. Seperti anak pedesaan di Jawa pada umumnya, orang tuanya lebih memilih pesantren sebagai lembaga didik untuk anaknya. “Orang tuaku bukan orang yang agamis, tapi bapakku sadar dia butuh anaknya untuk pergi ke pesantren,” timpalnya.

Perjalanan pendidikan pesantrennya terhitung panjang. Selepas mondok di Jepara, ia pindah ke pesantren Kajen. Tak cukup di Kajen, Mas Taufiq pindah ke Kediri. “Selepas lulus dari Kajen, saya bingung mau melanjutkan di mana. Teman saya menawarkan untuk mondok di Kediri. Sampai Kediri, uang saya tinggal tiga belas ribu rupiah, sekitar tahun 2007-an. Lantas saya sowan (bertamu) ke pemilik pesantren, Kyai Muhsin Alhafidz, menjelaskan kondisi saya,” kisahnya, “beliau bilang, untuk masuk pondok kamu harus daftar, dan untuk mendaftar perlu biaya. Ya sudah, panggilkan pengurus pondok kesini.“

“Lantas beliau ngeluarin uang dari saku dan memberikannya ke pengurus pondok tadi.” “Untuk biaya pendaftaran,” kata sang kyai. “Kegiatan saya di pesantren Kediri saat itu adalah mengaji dan pergi ke sawah; menanam padi,cabe, bengkuang,“ imbuhnya.

Keinginan untuk terus kuliah pun memaksanya meninggalkan pesantren. Dalam perjalanan lintas provinsi ke Semarang untuk berkuliah, dia mengaku pernah bonek sehari semalam (bondo nekat: menyetop truk di jalanan agar diberi tumpangan).

“Prinsip saya, kalau saya ambil pilihan haruslah tuntas. Kalau saya ingin fokus menghafal Alquran, ya harus tuntas hingga ke level hamilul Quran*, bukan hanya hafidzul Quran**. Kalau saya memilih kuliah, ya harus lanjut sampai jenjang paling tinggi,“ paparnya. Mas Taufiq akhirnya berkuliah di Universitas Sultan Agung (UNISSULA) dengan beasiswa kuliah dari CSSMoRA***. Ia memilih bertempat tinggal di masjid, menjadi marbot, muadzin, kadang juga imam dadakan.

Pribadinya yang terbuka membuat jaringan pertemanannya meluas. Dari seringnya nongkrong di warung nasi Kucing (nasi murah seharga Rp.500) bersama teman-temannya, ia mendirikan komunitas penikmat buku, yang kini semakin besar dan digemari di kampusnya. “Saya kuliah nggak mikir kerjaan setelahnya, sih. Kuliah ya untuk mencari ilmu,“ tuturnya tentang fokus studi S2nya yang kontras dengan fokus studi saat S1.

Mahasiswa jurusan sejarah agama-agama ini mengagumi orang-orang seperti Mustafa Kara dan Süleyman Sayyar, guru-gurunya di Turki. “Lihatlah orang seperti mereka, tak punya mobil dan telefon seluler. Kemejanya sering kedodoran, tasnya juga murahan. Gaji mereka pun banyak disumbangkan. Apa mereka masih banyak berpikir dunia?“ terangnya. Ia sering bilang pada istrinya, hidup seharusnya seperti mereka, tak pernah disibukkan dengan urusan dunia, namun tetap berjalan.

“Pernah nggak mereka marah, Pernah nggak sih mereka bingung memikirkan kehidupan? Kita sering bingung bagaimana nanti setelah lulus kuliah, bagaimana nanti membesarkan anak. Kita sering terjebak kekhawatiran yang lantas menjebak kita menjadi materialistis.“ Ia mencontohkan saat para pelajar mengundang Mustafa Kara sebagai pengisi acara PPI Bursa Ramadhan 2016 kemarin. “Dijemput pun beliau tak mau, selepas berbuka bersama juga bergegas ke stasiun bus tak mau diantar, apalagi berpikir tentang amplop undangan, jauh,” kata ayah dari Tsabita Fathiyatuz Zakiya ini.

Kini Mas Taufiq yang telah tiga tahun lebih berkeluarga dengan Fatimah Azzahra, mahasiswi di Bursa juga, mulai membangun keluarga kecilnya bersama Tsabita, buah hati mereka yang akan genap berusia tiga bulan. Prinsip yang tak ingin membuat orang tua khawatir menginisiasinya untuk tinggal di rumah sendiri di daerah Depok, Jawa Barat. Baginya, masalah kebahagian dalam hidup bukan disebabkan oleh kemampuan, namun kematangan.

“Contohlah, seseorang lulus sarjana lantas bekerja di Jakarta. Mau gajinya tiga juta, mau lima juta, namun kalau dia belum matang, dia akan selalu mengeluh di tempat kerja. Kerja dari pagi sampai sore, tiap minggu dikejar deadline, bingung.“ Menurutnya, orang sering mengasosiasikan kematangan dan kesiapan berdasarkan batasan material, seperti lulus sarjana, atau umur dua puluh lima. “Kita nanam pohon rambutan, baru kuning sudah mau diambil karena warnanya telah berubah.  Tunggulah sampai memerah, namun kita tak tahu pasti kapan rambutan itu memerah dan siap dipanen,“ terangnya mengibaratkan.

“Alhamdulillah saya sejak menikah hingga kini tak pernah meminta uang dari orang tua. Saya juga tak tahu kenapa, saya memaknainya sebagai rizki min haitsu la yahtasib,“ lanjutnya, “mungkin disebabkan karena niat mencari ilmu.“ Bagaimana ia memaknai pendidikan?

“Dulu saya berpikir, keharmonisan dalam keluarga dikarenakan pendidikan. Saya hidup di lingkungan yang mana orang tua saya jarang ngobrol, bercanda, duduk bareng di depan televisi bersama anak-anaknya. Saya pikir, mungkin itu karena rendahnya jenjang pendidikan formal mereka.“ Ia menemukan apa yang ia anggap sebagai keharmonisan dalam keluarga temannya di Kediri. Namun ternyata, keluarga temannya tersebut juga berpendidikan formal rendah. “Cara kita memperlakukan orang tua itulah nilai plus dari pendidikan kita,“ pungkasnya memberi jawaban.

Saya mengamini pendapat Mas Taufiq, pendidikan memperluas sudut pandang. Pendidikan setidaknya menyajikan wawasan bagaimana kita bersikap dan menentukan. Gus Mus pernah berujar, bahwa mengukur dan menentukan kedalaman sebuah sungai jangan hanya menggunakan tubuh kita sendiri. Bagi orang berbadan tinggi, sungai berkedalaman 1 meter dianggap dangkal. Namun bagi anak-anak, sungai dangkal menurut orang tinggi tadi mampu membuatnya tenggelam. Makanya, satu sudut pandang tak bisa dijadikan ukuran. “Tak pernah ada jamaah yang mengeluh saat Kanjeng Nabi menjadi imam salat berjamaah. Tak pernah berlama-lama, karena Nabi menggunakan ukuran perasaan para jamaahnya yang terdiri dari orang tua dan kaum muda. Sedang-sedang saja,” terang Gus Mus. (masmuafi@gmail.com)

 

* Seorang yang tak hanya hafal Alquran secara menyeluruh, namun juga macam-macam qiroat dan tafsirnya.

** Penghafal Alquran 30 juz.

*** Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *