Memori

PELAJARAN BERHARGA

    oleh: Zidny Irfan

 

Adek, bangun! sudah waktunya sholat Subuh.” Abi dan Kakak sudah menunggu di ruang tengah dengan pakaian rapi. Dengan berat mata aku pun memaksakan untuk bangun dan ambil air wudhu.

Brr…dingin sekali airnya.” Kataku dalam hati.

Kegiatan pagi hari di rumahku selalu bangun pagi untuk salat berjamaah di masjid dan membaca al-Qur’an setelah pulang dari masjid.  Sudah menjadi kebiasaan bagi kami anak-anaknya untuk salat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Kegiatan yang sudah menjadi prioritas di rumahku.

Pagi ini semua kerepotan hanya karena aku telat bangun. Bukan telat bangun sebenarnya tapi karena memang aku susah dibangunin sejak tadi. Dan pada akhirnya, aku dan Kakak telat berangkat ke sekolah.

Adek, bangun! sudah waktunya sholat Subuh.” Ini sudah yang kelima kalinya Umi membangunkanku, tapi aku malah merengek kesal karena terus dibangunin. Hampir saja Abi dan Kakak telat berangkat ke masjid hanya karena aku susah dibangunin. Pagi ini pun aku jadi terburu-buru semuanya, Umi pun ikut kerepotan menyiapkan baju seragam dan buku sekolahku, karena semalam aku belum menyiapkan buku pelajaran.

“Dek, cepetan ini kamu sudah terlambat!,” Teriak Abi.

“Iya, Bi.” Seragam belum rapi tapi aku sudah buru-buru pakai sepatu dan langsung berlari ke arah Abi.

Adek ini tas kamu ketinggalan,” Umi berlari ke pintu.

“Makanya lain kali kalau dibangunin jangan susah,” Sambil merapihkan seragamku.

“Iya, Umi.” Akupun cium tangan dan pamit berangkat.

Karena aku masih kelas 2 SD maka jam 11.00 WIB aku sudah pulang dari sekolah. Sesampainya di rumah aku menemukan sesuatu di meja kamar. Terlihat ada sekotak besar yang masih tertutup rapi. Padahal tadi pagi belum ada di atas meja. Karena penasaran maka aku langsung membukanya dan setelah kubuka ternyata isi nya mainan mobil-mobilan yang masih baru.

“Umi…, ini mainan siapa?” Tas asal kulempar ke kasur dan berlari ke arah Umi yang ada di dapur.

“Oh itu mah punya Kakak,” kata Umi masih dengan masakannya.

Haa… punya aku mana dong?” kataku terus merengek.

Lohh itu mah Kakak aja yang dapet, itu hadiah dari Abi.”

Loh kok begitu, masa aku engga,” gerutuku manja.

“Itu janji Abi kemarin, kalau misalnya Kakak bisa setoran hafalan lancar mau dibelikan hadiah, dan kemarin Kakak sudah setoran dan lancar, makanya Abi menepati janjinya,” ucap Umiku sambil mengelus kepalaku.

Siang itu Kakak belum pulang karena ada kegiatan tambahan maka pulangnya lebih lama.

Ihh…Abi pelit masa Kakak aja,” gerutuku kesal.

“Adek, dengerin Umi ya. Rejeki semua orang tuh berbeda, nggak bisa semua sama nggak bisa apa yang Kakak dapet harus kamu dapet juga. Mungkin hari ini Kakak dapet mainan hadiah dari Abi, tapi nanti Adek bisa dapet yang lebih, walaupun emang bukan hadiah yang sama seperti Kakak karena memang rejeki setiap orang itu berbeda,” nasehat Umi.

“Tapi, Mi, kapan aku bisa dapet hadiah itu?,” aku masih berharap dibelikan saat itu juga.

“Sabar ya, Dek, Insya Allah kalo sudah rejeki nanti pasti ada kok.” Umi beranjak berdiri dan pergi menuju dapur untuk kembali memasak, karena sebentar lagi Kakak akan pulang dari sekolah, maka Umi menyiapkan masakan yang tadi belum selesai. Makan siang segera tiba.

Selepas makan siang aku, Kakak, dan Umi berkumpul hanya untuk berbagi cerita. Bagaimana dulu kecilnya Umi ketika dididik, bagaimana Abi ketika kecil dulu, dan Umi bercerita  kalau ternyata memang sejak dulu Abi sudah dididik dari keluarga yang taat beragama, makanya dari kecil kami sudah dididik untuk selalu salat tepat waktu dan selalu bersyukur. Maka tidak salah kalau Abi menurunkannya kepada kami anak-anaknya agar kelak ketika sudah dewasa kami bisa taat dengan agama. Dan itulah nasihat yang selalu aku ingat sampai sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *