Memori

PELANGI PUTIH

Oleh: Dina Metuah

“Cinta bukan sekadar harta milik sepasang kekasih. Cinta adalah darah yang mengalir dalam jiwa yang menyayangi. Nafas yang berhembus dari insan yang mengasihi.”

Ini memoriku tentang dia. Tentang  jemari-jemari kecil yang sangat mahir mengusap air mata, sehingga tak ada yang tahu tangisannya.  Tentang bibir mungil yang sangat pandai melukis senyum, sehingga orang-orang gembira pada senyum manisnya dan lupa akan duka di relung dadanya. Tentang sosok seperti tokoh Heidi yang bahagia dengan kasur jeraminya. Inilah memoriku tentang Pelangi, memori yang mengajarkanku bahwa hal yang paling indah adalah: dapat memasuki dunia seseorang, menyentuh bahu, menghapus air mata dan menemaninya menatap bintang. Malam itu, hanya ada rahasia Pelangi yang ditumpahkan dari dasar hati, suara jangkrik yang menambah sunyi. Pelangi mengantarkanku menuju titik balik.

Namanya bukan Pelangi. Tapi, aku mengingatnya dengan nama itu. Aku memiliki memori khusus untuk menyimpan seluruh kenangan dirinya. Darinya aku belajar banyak hal yang tidak aku dapat di bangku sekolah. Ia mengajarkan alasan kedua manusia hidup setelah bernyawa, yaitu cinta.

Saat itu aku berumur 17 tahun. Gadis kecil itu berusia 12 tahun kurang empat bulan. Tak ada yang istemewa dari seorang Pelangi, menurut cerita yang aku dengar dia juga baru kehilangan kedua orang tuanya. Sama sepertiku tiga belas tahun yang lalu. Sekarang, bibinya akan menempatkan dia di sini, entah apa alasan sang bibi. Mungkinkah faktor ekonomi? Atau faktor tak ingin? Aku juga berfikir siapa sih yang mau mengurus anak yatim piatu yang tidak membawa sedikit pun harta warisan. Entahlah… Mungkin aku berfikir tempat ini lebih baik bagi orang-orang seperti kami; aku dan Pelangi. Disini aku menemukan orang-orang mencintai bukan karena darah, tapi karena pemahaman dan mungkin karena Tuhan.

Gadis kecil itu satu kamar denganku. Tentunya, sebagai kakak kamar aku diberi tanggung jawab untuk membimbing Pelangi. Hanya ada satu tas punggung kecil bersamanya. Bibi dan pamannya pergi begitu saja tanpa mengecup atau memeluk gadis itu. Mungkin, menurut orang normal akan aneh perpisahan seperti ini, bagiku tidak. Beberapa kali aku melihat peristiwa ini. Sambil berjalan ke kamar, Pelangi terus tersenyum padaku, “sekarang, saya ini adalah kakakmu” aku membalas senyumnya. Manis.

Pelangi yang aku kenal di tempat penerimaan murid baru sangat berbeda dengan Pelangi yang ada di kamar ini bersamaku, matanya tak redup lagi. Dari beberapa adik kecil yang kutemui Pelangi sangat mandiri, siang hari waktunya dihabiskan di perpustakaan asrama, tak jarang aku mendapatinya tertidur di sela-sela rak buku. Di usia yang begitu dini ia sangat teratur merapikan tempat tidur, mencuci baju dan sangat hemat menyimpan uang jajan bulanan yang diberikan asrama. Padahal aku begitu sering cerewet pada adik-adik lain agar mau belajar, cuci baju, tak jarang harus bermain kejar-kejaran untuk menyuruh mereka membersihkan tempat tidur atau sekedar mandi. Mungkinkah Pelangi sadar kalau bukan dirinya, siapa lagi yang akan berjuang untuk kehidupannya?. Beginikah cara berfikir anak berumur 12 tahun?. Entahlah, aku baru memulai masuk ke dalam ceritanya.

Malam itu takbiran Idul Adha bergema di langit Aceh. Aku sudah terbiasa tidak pulang ketika Idul Adha. Aku lebih banyak “memahami” di sini. Biasanya hanya tinggal 10-13 anak yang merayakan Idul Adha di asrama dengan berbagai alasan. Ummi-Abi dan beberapa karyawan asrama (pembina, tukang masak, dll) juga ikut merayakan hari raya di asrama. Dalam alunan takbir yang selalu mengingatkan pada mereka-mereka yang tercinta, malam itu aku melihat Pelangi duduk sendiri di taman. Menatap langit malam yang sedikit berawan, sesekali tangannya yang ditutupi mukena biru muda menyapu kedua pipinya. Ia sedang menangis. Untuk pertama kalinya aku melihat Pelangi menangis di luar kasur. Saat aku datang, ia mencoba “biasa”. Tapi, malam itu sepertinya dia tak sanggup lagi menampung segalanya di bahunya yang lemah. Semua kepedihan tumpah bak sungai deras, mengalir kedalam dadaku mengaduk rasa kasih sayang. Juga mengingatkan aku akan kebesaran Tuhan. Malam Idul Adha itu dari Pelangi aku kembali belajar memaknai cinta. Pelangi adalah titik balik pertama dari episode hidupku yang bisa saja berhenti tiba-tiba.

Pelangi kehilangan orang tuanya, lebih tepat lagi; seluruh  keluarganya dalam kecelakan menuju kampung halaman. Dari seorang ayah pengangguran dan ibu yang tidak punya pekerjaan tetap tak ada seribu rupiah pun yang dapat diwariskan kepada gadis itu. Gadis itu diserahkan ke keluarga bibi yang dingin terhadapnya, inilah satu-satunya saudara yang dia miliki. Dia bertahan dalam diam saat dimarahi karena alasan-alasan kecil, di keluarga ini dia hidup dalam ketiadaan sampai sang bibi mengirimnya ke dalam dekapan asrama ini, dengan satu tas punggung dan uang 20 ribu.

Walaupun satu bulan sekali diberi kesempatan pulang, aku tak pernah melihat Pelangi pulang, waktu libur pun aku habiskan bersamanya. Suatu sore, satu hari menjelang Idul Fitri aku mendapati Pelangi duduk di teras mesjid menanti jemputan bibinya. Sudah dari siang aku melihatnya rapi dengan jilbab putihnya. Sampai sore pun jemputan tak kunjung datang. Sebenarnya, hari ke-15 Ramadhan semua santri diperbolehkan pulang. Ya, lagi-lagi kami memilih pulang terlambat, sedikit merepotkan ummi-abi yang tak pernah merasa direpotkan. Kaki kurusnya terlihat resah menanti jemputan tak kunjung datang mendekati magrib. Aku pun menyarankannya untuk tidak menunggu, setelah meminta abi mengirim pesan ke bibinya aku mengantar Pelangi ke terminal dan menjelaskan jalan ke rumahnya, dulu bersama pihak asrama, kami pernah bersilaturrahmi ke rumah bibinya. “Jangan takut, ingat selalu kata ummi ‘, Allah bersama kita” pesanku padanya.

Menjadi yatim-piatu adalah titik balik yang sangat sulit bagi Pelangi. Ibarat kapal karam sebelum ia belajar berenang, bagaikan sayap patah sebelum ia belajar terbang. Namun, dia harus tetap bertahan, karena dia masih berada di roda kehidupan yang terus menggilas.  Sadar akan keadaan dirinya, Pelangi kecil terus berjuang. Dia tersenyum, dia tak iri, dia hangat, dia ingin belajar. Seperti saat melihat pelangi manusia  bersuka cita, melihat gadis ini pun membuat aku bahagia. Karena itu, kunamai dia Pelangi. Walaupun jauh aku suka mengirim surat padanya, karena asrama tak membolehkan membawa handphone. Melalui teman-teman yang pulang kampung ke Aceh aku melayangkan suara, “Teruntuk Pelangi, terus jaga kebersihan hati karena Tuhan bersama hati-hati yang bersih”.

“Kakak, apa dosa saya sehingga takdir Tuhan saya lahir sebagai aib keluarga?”, dia membalas suratku dengan satu pertanyaan ini. Kalimat ini cukup membuatku mengerti mengapa tak ada yang menjemput Pelangi ketika libur, mengapa tak pernah ada kiriman dari bibi buat gadis ini.

Bukan karena dosa, tetapi karena Tuhan sangat mencintaimu, Pelangi. Dia sangat mencintaimu. Sangat ingin aku berada di sisinya, memeluknya, menjadi teman air matanya,  Pelangi Putih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *