Memori

RIVAL

Oleh : Afif Muhammad

 

Salatiga siang itu terasa cukup menyengat. Beruntunglah kami termasuk yang datang lebih awal sehingga berkesempatan memilih rumah yang akan ditinggali selama sebulan. Komplek pembinaan ini cukup menyenangkan. Area luas dikelilingi banyak pepohonan namun tidak terlalu jauh dari perkotaan menjadikan tempat ini ideal sebagai tempat belajar dan memfokuskan diri. Jarak 20 menit naik kendaraan umum dari komplek pembinaan terdapat universitas. Disanalah semua peserta akan menerima bimbingan nantinya.

Selain memiliki rumah-rumah kecil sebagai tempat tinggal, komplek pembinaan ini pun dilengkapi dengan kelas-kelas, tempat belajar dan tempat makan bersama. Setiap rumah hanya memiliki tiga kamar sehingga memisahkan rombongan berjumlah delapan belas menjadi dua rumah. Menjelang malam, para peserta pembinaan dari beberapa SMA se-provinsi pun mulai berdatangan dan memenuhi lokasi pembinaan.

Menjelang matahari terbenam, suasana terasa menjelma menjadi gubuk di tengah hutan. Tak terdengar satu pun suara orang berkeliaran di jalanan, hawa dingin dan sangat sunyi. Setelah salat isya, seluruh peserta berkumpul di ruang makan, menerima arahan. Seperti dugaanku, kami akan bertemu disana. Setelah mengetahui pengumuman seleksi provinsi, aku cukup terkejut melihat namanya tertulis di daftar peserta lolos bidang mata pelajaran sama denganku.

“Indah, kamu ngambil kimia juga?” sapaku dengan sengaja sedikit terkejut agar memecah kecanggungan antara kami. “Sudah sekitar dua tahun lebih, sekarang kita bisa satu kelas lagi ya.” lanjutku. Terlihat dari senyumannya, dia juga sengaja terkejut.

Sebenarnya, kami sudah sering bertemu di berbagai kompetisi beberapa bulan terakhir. Kabarnya diapun sering muncul dibanyak kompetisi bidang mata pelajaran berbeda. Indah memiliki otak kiri yang seakan diciptakan sangat istimewa, melahap semua ilmu alam dalam sekejap.

Aku mengenalnya semenjak duduk di SD. Dia anak pendiam di kursus sempoa. Hanya dibalik sikap dinginnya, dia pribadi penuh konsentrasi dan cerdas. Terlihat dari keahliannya menjumlah dan mengurangkan deretan angka-angka dalam hitungan detik. Beberapa tahun kemudian, aku tidak menyangka akan mengenalnya kembali. Belum lagi ditambah anak-anak dari SD favorit di kelas kami, nuansa persaingan pun sudah tercium sejak awal. Namun, kami tetaplah remaja yang haus rasa pertemanan, percintaan dan kebebasan “tanpa batas”. Melupakan persaingan, membebaskan diri pada posisi dua hingga akhir. Akupun menghabiskan tiga tahun masa remajaku seperti remaja yang lain.

Dia tetaplah Indah. Mungkin menghabiskan masa remaja dengan buku-buku sains adalah suatu kebebasan tanpa batas baginya. Seberapa pun aku bekerja keras, usahaku hanya dapat membuntutinya dalam hal ranking, sedikitnya tiga kali. Belum terhitung dari medali-medali yang diperoleh dari olimpiade.

Pekan berlalu, pembinaan aku lalui dengan tekun mempelajari satu mata pelajaran saja. Demi impian dan kepercayaan yang telah diamanahkan. Materi semakin dalam, semakin kompleks. Matahari serasa berlalu lebih cepat begitupun rembulan dan bintang. Semakin banyak pertanyaan diawali dengan ‘mengapa’ dan ‘kok bisa’ yang ingin ditanyakan. Semakin dijawab semakin banyak lagi yang ingin ditanyakan dan diketahui. Benar kata guru Bahasa Inggris sewaktu SMP dulu, semakin banyak tahu semakin kita merasa tidak banyak tahu.

Siang itu adalah pelajaran praktikum kami yang terakhir. Kami sekelaspun melangkah meninggalkan laboratorium kimia. Kala itu, aku duduk semeja makan dengan Indah.

“Jadi, dulu seperti ini kamu belajar?,” aku mengawali pembicaraan. “Ya, kira-kira seperti inilah” jawabnya singkat. “Kamu yakin bisa dapat medali apa, Lih?” sambungku bertanya.

Benar juga apa yang dia tanyakan. Aku hampir saja melupakan tujuan akhir dari jerih payahku selama ini. Aku menjawabnya tanpa keyakinan karena ini olimpiade pertama selama hidupku.

“Semoga sih dapat perak” jawabku.

“Aku yakin kamu yang sekarang bisa” ia pun mengamini.

Entah apa yang ada dipikiranku. Aku hanya menanyakan tentang keluarganya, adiknya, dan hal-hal lain disela-sela istirahat menikmati panasnya Salatiga.

“Kamu ingat nggak, waktu jaman dulu kelas kita yang terbaik seangkatan?” tanyanya mengingatkan.

“Menurutku, terbaik. Tiap lomba kita juara. Tiap kenaikan kelas, anak-anak kelas kita, banyak masuk 10 besar seangkatan menjadikan kelas lain iri pada kita.” aku menjawab dengan keheranan, menerka mengapa dia menanyakannya.

“Aku ngerasa aja di SMA ini tidak seperti di SMP kita dulu. Aku lebih ngerasa punya banyak teman” jawabnya.

Indah mengalami masalah itu semenjak SMP. Aku rasa hobinya menghabiskan buku sains menjadikannya sedikit berinteraksi sosial. Tidak banyak yang bisa memahaminya, mungkin karena sedikitnya teman-teman yang punya hobi sama dengannya.

“Kamu masih ingat Febi kan?. Cewek anak kelas kita?. Sekitar tiga minggu menjelang Ujian Nasional, dia datang padaku. Memintaku untuk mengajarinya beberapa materi ujian. Aku pun menanyakannya tentang materi yang belum dipahaminya. Dia menyebutkan banyak sekali. Aku kesal, kenapa dia tidak belajar. Aku pun menolak mengajarinya dengan berbagai alasan.” ungkapnya.

Aku lanjut menyimak curhatannya sambil menikmati es tehku yang tinggal seperempat gelas.

“Saat ujian pun dia meminta jawaban dariku, aku makin kesal denganya. Jadi, aku pura-pura nggak dengar.” sambil tersenyum tipis melanjutkan.

“Bahkan saat kelulusan aku melihatnya berlari ke luar pagar sekolah. Aku pikir dia bergegas pulang. Setelah itu, aku dengar dari wali kelas kalau Febi tidak lulus. Aku merasa cukup iba padanya. Namun, tak membuatku luluh membenarkan sikapnya.” curhatnya. Nampaknya, ceritanya belum berakhir. Aku terus menjadi pendengar setia.

“Entahlah apa yang ada dipikiranku dulu, aku baru memikirkannya sekarang. Anak dari kelas yang dipenuhi juara satu, dua dan tiga seluruh angkatan, tidak lulus. Mungkin saat itu ada niat mendapatkan nilai sempurna atau jadi yang pertama. Dia cuma ingin lulus. Tidak seharusnya aku dulu meninggalkan dia dibelakang.” lanjutnya.

“Nampaknya, sekarang bukan saatnya lagi hanya memikirkan keberhasilan, tapi untuk siapa keberhasilan itu diraih?” mengakhiri curhatannya dengan sangat bijak.

Aku menyadari perubahannya dan menanya dalam hati. Apakah dia sudah mengubah buku-buku sains menjadi buku-buku filsafat. Aku simpatik pada Indah yang sekarang.  Perkataannya aku amini, apa yang kita niatkan dan targetkan dari keberhasilan. Memikirkan keberhasilan diri sendiri, lalu membiarkan orang lain melihat keberhasilan kita bukanlah hal yang dia maksud. Menjelang gelap, kami bergegas menyelesaikan laporan praktikum terakhir, lalu kembali di pondok pembinaan.

Waktunya telah tiba, seluruh peserta pembinaan diberangkatkan ke Jakarta, menyelesaikan misi yang telah menjadi impian mereka. Meskipun aku tidak mendapatkan target yang diinginkan, aku masih selalu membuntuti Indah. Dia meraih medali yang lebih tinggi dan aku tetap menghibur diri sendiri. Bekerja keras mengajariku banyak hal. Hal yang bisa dipelajari adalah,

Sebesar apapun kapasitas otak kiri manusia, tak akan bisa mengalahkan besarnya kerja keras dengan selalu menggunakannya. Disamping itu, satu kecerdasan lain yang harus dimiliki manusia sebagai Anugerah Tuhan Yang Pengasih yaitu kecerdasan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *