Pemikiran dan Tokoh

Aku, Allah dan Kepuasan

oleh: Qashmir Ramadhan

 

“Kok kamu langsung pergi? Ngga salat Sunnah dulu?”. Kata seorang jama’ah kepada anak muda yang langsung ingin pergi setelah menunaikan salat Fardhu.

“Lah…? namanya juga Sunnah. Ngga dilakukan juga ngga apa-apa kan?” Balas pemuda tersebut acuh tak acuh sembari berjalan ke arah pintu keluar.

Waktu itu jam satu lewat 20 menit dan aku baru selesai melaksanakan salat Zuhur berjama’ah di masjid kampus. Tidak banyak yang hadir jika dibandingkan dengan semua orang yang sedang berada di kampus ketika itu. Kekhusyukanku berzikir terbuyarkan oleh percakapan 2 orang jama’ah salat Zuhur yang kebetulan duduk hanya berjarakkan satu orang jama’ah lain. Jama’ah yang mengajak pemuda tersebut salat Sunnah terlihat kesal dengan kelakuan pemuda tersebut yang tidak menggubris ajakannya sama sekali. Dia kemudian menunaikan salat Sunnah dengan muka masam. Aku yang tersadar sedang memperhatikan orang lain langsung kembali ke duniaku yaitu berzikir dan beristighfar kepada sang Pencipta.

Aku berjanji untuk bertemu dengan temanku di depan yemekhane setelah salat. Aku mengajaknya makan siang bersama di yemekhane karena kebetulan menu pada hari itu sangat menggiurkan. Terlihat dia sedang berdiri menungguku sambil menjinjing tas hijaunya di sebelah mobil ungu bermerk Mercedes yang bumper belakangnya sudah tidak berbentuk lagi. Aku menghampirinya dan langsung menariknya menuju tempat makan. Perutku sudah mengeluarkan bunyi yang sangat menyebalkan sejak tadi.

Setelah mengambil makanan, kami duduk di meja makan untuk berdua di sebelah jendela yang menghadap langsung ke bangunan-bangunan megah kampusku. Kami makan sambil membahas hal-hal ringan tentang kuliah dan aktifitas keseharian. Namun, pikiranku masih memikirkan tentang kejadian di masjid tadi. Tentang seseorang yang menyepelekan ibadah Sunnah.

“Menurutmu, jika ada seseorang yang ketika diajak melakukan perbuatan baik kemudian dia menolaknya dengan memberi dalih bahwa itu hanya perbuatan sunnah bagaimana?” Tanyaku, memperberatkan pembahasan kami.

“Maksudnya?” Dia bertanya sambil menunjukkan wajah bingungnya.

Akupun menceritakan kejadian di masjid yang aku alami tadi. Jama’ah yang mengajak pemuda tadi untuk salat Sunnah tak henti-henti menggerutu tentang buruknya kelakuan anak muda zaman sekarang. Dia sempat melihat sinis ke arahku sebelum kemudian melangkah keluar masjid.

“Oh begitu. Jadi, kamu ga setuju dengan orang-orang yang mengesampingkan ibadah Sunnah? yang mengatakan ibadah sunnah itu tidak ada untungnya jika dikerjakan? emang alasannya kenapa?” Tanya temanku setelah mendengarkan penjelasanku yang panjang lebar.

“Gimana ya. Menurut aku orang yang menyepelekan ibadah Sunnah seolah-olah mengatakan dirinya sudah baik dan tidak memerlukan apapun lagi untuk mendapat ridho Allah SWT,”  jelasku.

Temanku tersenyum seraya berkata, “kamu tau ngga apa yang membuatku terus menerus merasa bahwa aku harus terus-menerus melaksanakan ibadah kepada yang Maha Memberi? jawabannya adalah karena menurutku kepuasan akan membawa seseorang ke neraka.”

“Maksudmu?” Tanyaku, tak mengerti arti dari kalimatnya sebelumnya.

Temanku melambaikan tangan kemudian menjelaskan, “Begini. Rasulullah SAW adalah seorang Nabi. Dia dijanjikan masuk surga. Apakah karena itu dia jadi berleha-leha dan tidak melaksanakan ibadah kepada Allah? Tidak. Justru, dia adalah sang abid terhebat sepanjang sejarah. Imam Bukhari ra., meriwayatkan bahwa, Aisyah ra., saking gregetnya melihat suami tercinta sangat rajin beribadah sampai mengisyaratkan, mengapa Rasulullah sangat rajin beribadah sedangkan baginda sudah pasti masuk surga. Baginda Rasulullah, dengan penuh cinta menjawab, “bukankah lebih elok jika  aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Tidakkah kamu merasa sebagai manusia paling hina setelah mendengar kisah tadi? Begini saja, kalau kamu mengatakan sudah sewajarnya karena dia seorang Nabi, mari kita berpindah ke sebuah sosok yang juga disegani di zaman Rasulullah. Abu Muhammad namanya.”

“Abu Muhammad siapa?”. Aku sama sekali tidak pernah mendengar nama tersebut.

“Seseorang yang sangat menginspirasiku. Dia membuatku merasa sangat hina sebagai seorang muslim. Dia masuk Islam ketika baru 15 tahun. Bayangkan, di umur yang kita kategorikan sebagai umur-umur labil, beliau bisa membuat keputusan besar yang bukan main-main. Cacian dan siksaan yang diterima Abu Muhammad ketika masuk Islam juga tidak bisa diremehkan. Dikucilkan dan ditindas oleh keluarga sendiri merupakan makanan sehari-hari beliau.” Jelas temanku.

“Kok aku ga pernah dengar namanya ya?”

“Coba kamu cari tau. Aku yakin kamu akan kaum dengan kepribadian serta perjuangannya.”

“lah? Kamu aja yang cerita.”

“Aku ada kelas, maaf.” Temanku tersenyum dan pergi meninggalkanku yang sedang berpikir keras tentang siapa Abu Muhammad yang dimaksud temanku.

Tanpa membuang waktu, aku langsung membersihkan sisa makanan dan meninggalkan yemekhane. Aku sampai tidak perduli dengan hujan yang membasahi tubuhku ketika aku berjalan menuju perpustakaan, tempat favorit bagi mahasiswa yang ingin merasakan nikmatnya belajar dalam keheningan.

Sesampainya di perpustakaan, aku langsung mencari tempat kosong dan duduk sambil mengeluarkan laptopku. Orang di sebelahku merasa terganggu dengan bunyi bising dikarenakan aku yang tidak berusaha mengecilkan suara ketika menyiapkan laptopku. Aku sama sekali tidak memikirkannya. Yang aku pikirkan hanyalah siapa sosok Abu Muhammad yang yang sangat diidolakan oleh temanku itu.

Aku mencari nama Abu Muhammad di kolom pencarian. Ternyata Abu Muhammad adalah nama panggilan Thalhah bin Ubaidillah, seorang Bani Quraisy yang hidup di zaman Rasulullah. Thalhah merupakan salah satu dari As-sabiqun Al-awwalun, orang yang paling awal masuk Islam.

Aku terus membaca kisah Thalhah. Aku merasa bahwa diskriminasi yang dialami Thalhah dari keluarganya bukanlah sebab kenapa temanku sangat mengidolakannya. Banyak sahabat dan para Tabi’in yang ditindas oleh keluarga dikarenakan oleh keinginan mereka masuk Islam. Setelah sekian lama membaca, akhirnya aku tahu rahasia seorang Thalhah bin Ubaidillah.

Asy-syahidul hay’ adalah julukan yang diberikan Rasulullah Saw kepada Thalhah setelah perang uhud. Ketika perang uhud berkecamuk, kaum muslimin terpojokkan dikarenakan para pemanah di atas bukit yang mengira bahwa mereka sudah menang turun untuk mengumpulkan harta rampasan perang. Ketika itu, kaum berkuda Kafir Quraisy keluar dan menyerbu para pemanah tersebut, membuat kaum Muslimin seluruhnya kocar-kacir. Kaum Kafir mengambil kesempatan tersebut untuk mencoba membunuh Rasul. Rasulpun sampai kehilangan dua giginya ketika sebuah batu besar menghantam dirinya. Tak cukup sampai di situ, banyak kaum Kafir Quraisy yang mendekati Rasul seraya mencoba mencabik tubuh beliau. Thalhah yang melihat kejadian tersebut langsung menghampiri Rasulullah dan menjadikan dirinya sebagai tameng. Dia tidak membiarkan satu pedang pun mendekati rasulullah. Dia merelakan tubuhnya menjadi pelindung terakhir sosok yang paling mulia sepanjang sejarah. Diriwayatkan bahwa tubuh Thalhah menerima sekurang-kurangnya 70 tusukan pedang. Beberapa jari beliau juga putus dan badannya sudah tak berbentuk. Peristiwa ini membuat Thalhah dijuluki ‘Asy-syahidul hay’ atau “Sang Syahid” yang masih hidup.

Aku tercengang dengan kisah tersebut. Aku merasa bahwa aku sangat tidak ada apa apanya berbanding sahabat-sahabat yang dijanjikan masuk surga. Padahal mereka sudah dijanjikan oleh Allah Swt akan dimasukkan ke dalam surga. Namun, mereka tidak menjadikan itu alasan untuk kemudian mengurangi rasio mereka beribadah kepada yang Maha Menciptakan.

Sedangkan kita? Ketika ditanya apakah cita-cita tertinggi, masing-masing dari kita pasti menjawab ingin masuk surga. Namun ketika ditanya apa amalan andalan kita, kita malah bingung ingin menjawab. Padahal kita tau bahwa rasulullah dan para sahabat saja mengorbankan semua yang mereka miliki sebelum nanti akan menikmati surganya Allah SWT. Sedangkan kita merasa puas dengan salat 5 waktu saja sehari semalam tanpa ada amalan tambahan sama sekali sedang kita tau bahwa Allah Swt adalah yang Maha Adil. Dia tidak mungkin melewatkan satu kesalahanpun ketika penghisaban nanti.-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *