Pemikiran dan Tokoh

BERJUANG ≠ BER(J)UANG

Oleh: Noor Fahmi Pramuji

Setiap orang punya alasan dari kebangkitannya. Bangkit untuk berjuang. Orientasi berjuang seringkali diidentikkan dengan memaknai perjuangan sebagai proses untuk mendapatkan materi. Namun, apakah makna dari berjuang itu betul telah mengalami penyempitan hanya sebagai proses untuk ber-uang (baca: mengumpulkan uang dan atau materi). Tulisan singkat ini menorehkan makna kata “berjuang” dari sisi kehidupan inspirator sukses Bapak Jusuf Kalla (JK).

Menjelang perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus, tentu kita akan semakin populer dengan kata “berjuang”, “perjuangan”. Singkat makna “Perjuangan” dalam konteks tersebut, “proses pengorbanan jiwa dan raga untuk mencapai kemerdekaan hidup dalam segala hal, tak hanya materi”. Dengan kata lain, hasil berupa materi merupakan nilai plus yang diperoleh ketika meraih kemerdekaan, “nilai” (value of life) sepenuhnya dari proses perjuangan para pahlawan.

Tulisan ini tak akan membahas makna perjuangan para pahlawan Indonesia. Namun, juga akan mencoba mendalami makna “perjuangan” dengan memperkecil ruang hidup dari seorang pejuang dalam suatu keluarga, yaitu “Ibu”. Sosok yang ingin dibahas pada awal adalah, perjuangan seorang Wakil Presiden RI, Bapak JK. Alhasil, inspirator perjuangan hidupnya pun terilhami dengan porsi terbesar dari perjuangan ibunya. Oleh karenanya, memaknai kepingan kata “perjuangan” akan dirujuk dari kepingan potret pahit kehidupan Ibunda Bapak JK, Athirah.

Bagi seorang JK, sosok Emma’nya adalah,

“Tak akan pernah hilang, meski sepasang indera mata tak mampu menangkap bayangan, namun “mata hati” selalu hidup dengannya. Energinya selalu menyertai sepanjang hidup”.

Terlahir dalam keluarga dengan semangat dan jiwa berdagang, Bapaknya mengajarkan JK tentang perdagangan, kejujuran dan kegigihan. Sosok Bapak yang selalu bersama dengan nasehat-nasehatnya dalam pengantar dan penutup jamuan waktu makan. Yang berarti kumpul bersama di meja makan, perlahan dirasakan hilang beberapa waktu. Emma’ selalu berupaya menyuguhkan santapan istimewa. Sajian istimewa yang tak boleh lebih awal disentuh oleh anak-anak, sebelum Bapak selesai menyantap. Ini merupakan tradisi dalam kelurga JK. Sebagai suatu penghormatan dari Emma’ dan anak-anak terhadap Bapak, pemimpin keluarga. Namun, ketika Bapak yang kemudian jarang pulang, lantas tak begitu saja membuat Emma’ mengurai sosok istimewa Bapak, sedih dan mengeluh kepada keluarga, terutama kepada si sulung, JK. Hanya saja, tatapan mata Emma’ cukup menjawab segalanya meski tanpa kata.

Yah, kehidupan Emma’ memasuki tahap sulit, ketika beliau mengetahui bahwa Bapak telah berpoligami. Hingga suatu hari, beliau menyudut di kamar sambil merintih tersedu menahan rasa sakit, berharap tak ada yang mendengarnya. Kala itu, JK tak sengaja mendapati Emma’. Sejak saat itulah, JK berusaha mendampingi Emma’ sebagai pengisi sosok Bapak, yang jarang menetap di rumah.

Bagi Emma’, kepingan pahit hidup dipoligami, lantas tak mengakhiri semangatnya untuk melanjutkan kehidupan. Tahap kehidupan ini justru melahirkan kembali sosok Emma’, mengajarkan arti “berjuang” untuk keluarga. Bagi Emma’, keluarga adalah tempat mewariskan segalanya, menyerahkan hari-hari terakhir dalam hidup. Emma’ bangkit dari keterpurukan, belajar berjuang menjadi istri mandiri dan ibu yang kuat untuk anaknya. Emma’ memang mewarisi jiwa dagang dari orang tuanya. Beliau pun memulai usaha kain sutera mandiri, yang kelak justru menjadi penopang kebangkrutan usaha Bapak. Bagi JK juga, beliau mengajarkan nilai kehidupan berkeluarga, bahwa menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarga adalah utama. Dalam perjuangannya, tidak dimaknai sebagai momen “kompetisi” dengan istri Bapak yang lain.

Berjuang bukan tentang, “menang atau kalah”. JK menilai perjuangan Emma’ sebagai nilai kehidupan tentang “mengalah” dengan sabar untuk persatuan dan perdamaian keluarga. Beliau tetap menjaga nama baik suami dan keluarga, meski sering melukai hati. Melalui “berjuang” pula, Emma’ mengajarkan nilai kehidupan “pantang menyerah”, berjalan bersama waktu untuk mencapai kemenangan dengan caranya sendiri. Karena, hasil tak pernah membohongi proses. Terlihat, dari usaha kain sutera Emma’ yang mendulang sukses. Di suatu waktu, Emma’ bercita-cita ingin mendirikan sekolah di kota Makassar. Dengan nilai materi simpanan beliau, jika ingin, saat itu pula lebih dari cukup untuk mendirikan sekolah. Hanya saja, bagi Emma’,

“mendirikan sekolah bukanlah tentang uang atau materi”, ujarnya. “namun, nilai utamanya adalah tentang perjuangan dan waktu yang akan memperlihatkan hasil proses perjuangan, dari suatu niat dan usaha, beliau menambahkan.

Keperihan hati Emma’, ditantang oleh waktu yang menyediakan kesempatan untuk membalas, jika saja beliau menginginkan. Ketika usaha Bapak mulai merosot, terancam bangkrut, Emma’ justru merelakan uang simpanan yang diperoleh dari momen-momen berjuangnya melalui usaha kain sutera. Emma’ memaknai betul bahwa hasil kemenangan yang beliau cari dari berjuangnya bukanlah “nilai” material/ uang. Dengan pondasi kuat, nilai kehidupan berupa “keteguhan hati” dari prinsip perjuangannya mengalahkan munculnya rasa ego untuk membalas. Karena kemenangan yang beliau cari atau orientasi hidup dari proses perjuangannya adalah “kedamaian dan keutuhan keluarga”, suatu kemenangan yang akhirnya beliau dapat, juga menyadarkan Bapak untuk kembali seperti sedia kala.

Seperti itulah mendalami sesosok pahlawan keluarga bagi JK. Peran wanita begitu vital, sebagai pondasi keutuhan keluarga. Ibarat berlayar, berkeluarga berarti siap bersama menghadapi gelombang tinggi ataupun rendah. Mengikuti tuntunan mata angin di luas samudera yang kelihatannya tak berujung, namun akan berakhir dengan waktu yang memisahkan kebersamaan, membatasi pandangan indera mata, sepertinya. Berkeluarga, bukan tentang tinggal serumah, namun tentang proses perjuangan mengasah mental, berjuang siap menerima konsekuensi bersama, belajar mengenal lebih dalam nilai-nilai kehidupan dalam proses perjuangan. Sama seperti Emma’ mengajarkan kepada JK, untuk memperjuangkan sosok wanita yang akan dipilih menjadi pendamping hidup. Siap berjuang mendapatkan atau mengalah mengikhlaskan. Karena proses perjuangan yang sulit, sering akan lebih menjadikan untuk menghargai, tak menyia-nyiakan.

Pada kesimpulannya, berjuang ≠ ber(j)uang. Berjuang adalah tentang proses dari usaha disertai kesabaran yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Jikalau pun pada akhir proses perjuangan itu menuai nilai material, hal itu hanyalah “bonus” dari “value of life” sebenarnya. Karena “value of life” tak akan pernah habis tergerus oleh waktu, bisa diwariskan pada anak-cucu. Berbeda dengan “nilai” material. Pada akhirnya, akan habis pula bersamaan waktu.

Emma’ mewariskan “nilai-nilai kehidupan” dari “berjuang”nya kepada si sulung, JK. “Nilai” material atau berj(uang) adalah “bonus”, bukan orientasi utama dari hidupnya. Athirah mengajarkan makna “berjuang” yang mengandung nilai abadi kehidupan yang tak termakan usia dan waktu. Athirah tak mewariskan nilai material kepada anak-anaknya. Pun, kesuksesan nilai materi yang kini didapat oleh JK, adalah bonus dari pelajaran nilai kehidupan dalam perjuangannya.

Kini, Yayasan Sekolah Athirah di kota Makassar merupakan saksi bisu dari perjuangan Emma’ akan niat, mimpi, cita-cita. Sekolah yang didedikasikan bagi nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Emma’ kepada anak-cucu. Itulah Athirah, dibalik jiwa perdamaian dan persatuan sosok JK.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *