Pemikiran dan Tokoh

Jika ada Niat, Pasti ada Jalan untuk Menggapainya

Oleh: Teuku Muammar Rizki Taqwa

Disaat belum ada satu orang pun yang bangun dari tidur lelapnya, ibuku sudah memulai rutinitas paginya, duduk bersila diatas sajadah panjang sembari menggenggam tasbih putih kesayangannya sambil berzikir kepada Ilahi. Bacaan tasbih, tahmid dan tahlil itu dibacanya dengan lirih namun irama syahdu tersebutlah yang selalu membangunkan kelima putra-putri kecilnya itu.

Tanpa perlu disuruh pun Riza, Khairul, Putri, Afil dan Rizkipun segera bangun dari tempat tidur mereka, mengambil wudhu dan terakhir bergegas untuk mengganti pakaian yang bersih agar kemudian dapat melakukan shalat subuh di ruangan tengah secara berjamaah.

Setelah melihat semuanya sudah rapih dan berkumpul di ruangan yang biasanya digunakan untuk berkumpul bersama keluarga atau menonton televisi tersebut, langsung saja seperti biasa, Riza selaku anak tertua di keluarga tersebut bertanya pada ayahnya;

“Ayah…Riza iqamah ya ?”

“Iya nak…silahkan,” jawabnya.

Setelah iqamah dikumandangkan dengan suara yang sedikit lirih tersebut, Ayah pun memimpin shalat subuh pada pagi hari itu dengan penuh khidmat. Alunan suara Ayah ketika membacakan Surah Al-A’la dan Al-Ghasiyah sangatlah merdu bak seorang qari’ yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an pada acara Mushabaqah Tilawatil Quran (MTQ) diatas mimbar.

“Assalamualaikum warahmatullah…”

“Assalamualaikum warahmatullah…”

Setelah menyelesaikan ibadah shalat subuh, kami selalu melanjutkan dengan zikir dan juga shalawat bersama, yang sudah barang tentu dipimpin oleh Ayah selaku imam besar dirumah kami. Tepat setelah bershalawat, ayah pun memulai membuka obrolan santai seperti biasanya.

“Hari ini ayah mau bertanya sama anak-anak kesayangan ayah, kalau kalian sudah besar nanti kalian mau menjadi apa ?”

“Pilot,” jawab Afril

“Guru,” jawab Khairul

“Dokter,” jawab Putri dan si anak bungsu secara bersamaan.

Ayah, Ibu dan semua adik-adiknya secara serentak menoleh kearah si sulung, Karena cuma dia yang belum memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Ayah. Kemudian, ayah pun kembali bertanya pada Riza :

Ayah: “Riza…kenapa kamu diam dan tidak menjawab pertanyaan Ayah, nak ?”

Riza : “Riza bingung mau jawab apa yah. Karena, cita-cita Riza sangatlah berbeda dengan cita-cita Khairul, Putri, Afril dan Rizki, yah.”

Ayah: “Emangnya cita-cita Riza apa nak ?”

Riza: “Mau menjadi anak yang shalih, berbakti kepada ayah dan Ibu, menjadi seorang pemimpin yang gagah berani serta dapat bermanfaat bagi orang banyak dikemudian hari.”

Ayah: “Masha Allah, bukankah itu semua merupakan cita-cita yang sangat mulia wahai anakku? Ayah yakin dan percaya, jika kamu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dunia dan akhirat, pasti kelak kamu akan menjadi seperti apa yang kamu dambakan.”

Kami semua secara serentak mengaminkan perkataan yang baru saja diucapkan oleh ayah barusan. Kemudian, sambil ayah kembali melanjutkan obrolan santainya tersebut, ibu pun bergegas ke dapur guna mempersiapkan sarapan untuk dimakan bersama setelah selesai mendengarkan ayah menyampaikan petuah-petuahnya itu melalui obrolan renyah tadi.

“Duhai malaikat-malaikat kecilku, kita semua terlahir ke dunia ini dengan keadaan yang unik dan tentunya berbeda antara satu sama lain. Semua bisa menjadi apapun yang dia inginkan. Dokter, pilot, guru, perawat, dll. Namun, untuk mencapai semua itu tentunya membutuhkan proses yang tidak sebentar. Contohnya, sebuah kelapa muda yang biasa dipetik dari pohonnya tidak lah mungkin langsung bisa dinikmati air beserta isinya.” Ujar sang Ayah yang berhenti bercerita sejenak guna membuka gorden dan jendela ruangan tengah tersebut agar kelima anak-anaknya dapat menghirup udara segar sambil mendengarkannya kembali bercerita.

“Iya, jika kita membayangkan sebuah kelapa muda yang berwarna hijau itu, untuk mendapatkan air serta isinya kita harus melakukan beberapa proses untuk meraih apa yang kita inginkan. Pertama, kita harus memotong bagian atas dari kelapa tersebut dan menuangkan kelapa itu kedalam sebuah wadah. Apakah sudah selesai? Belum, kita baru bisa mendapatkan airnya saja. Sedangkan mendapatkan isinya, kita harus kembali mengeluarkan tenaga untuk memotong kelapa itu agar bisa mengambil isi kelapanya. Setelah semua itu dilakukan, barulah kita mendapatkan air kelapa muda yang biasa dijual di pinggir pantai.” Begitulah cerita ayah pagi itu.

“Berarti kita mendapatkan apa yang kita inginkan kalau kita mau berusaha kan, yah?” tanya si bungsu yang berumur 10 tahun itu.

“Tentu saja. Selama ada niat yang dibarengi dengan usaha dan tawakal kepada Allah SWT, insha Allah, apapun yang menurut Allah itu berkah untuk umatNya, pasti keinginan kita akan dikabulkan oleh Sang Khaliq. Oleh karenanya, teruslah berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun kalian berada. Apapun keinginan kalian, ucapkan basmalah, perkuat tekad tersebut dengan usaha yang maksimal dan juga jangan lupa selalu jaga ibadah kalian baik yang wajib maupun yang sunnah, maka insha Allah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita semua,” tutupnya.

“Baiklah Ayah!” serempak jawab mereka.

Dengan cara itulah ayah selalu menyampaikan petuah-petuahnya kepada kami setiap pagi. Obrolan itu ditutup dan diakhiri dengan membaca asmaul husna bersama. Setelah itu, secara perlahan semua pun bergegas menuju ruang makan, dikarenakan sarapan yang dimasak oleh ibu telah selesai dan aromanya pun telah mengitari seluruh bagian rumah. (muammar.aris04@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *