Pemikiran dan Tokoh

KAU DAN TITIK BALIK DALAM HIDUP

Oleh: Hanifatul Rahmah

 

Aku menebak-nebak apa yang kau pikirkan saat itu, ketika melihatmu duduk di bawah pohon sambil menikmati senja. Cuma menerka dari jauh. Aku enggan bergeming dari tempat dudukku, memperhatikan tatapanmu yang terpekur. Takut mengganggumu yang sedang bercengkrama dengan pikiran-pikiran. Aku mengenalmu sudah begitu lama, sampai tidak heran lagi melihatmu rutin duduk di tempat yang sama dan waktu yang hampir sama setiap harinya.

Kemarin, saat aku diam-diam membuka buku yang selalu kau sembunyikan di laci meja belajarmu, aku terhenti pada halaman dimana kau selipkan pulpenmu pertanda kamu baru saja menuliskannya. Tidak banyak yang kau tulis di halaman itu hanya sebaris kalimat. Kalimat seorang sufi dari negara dua benua yang selalu kau kagumi itu. “Her şey üstüne gelip seni dayanamayacağın bir noktaya getirdiğinde, sakın vazgeçme! İşte orası kaderinin değişeceği noktadır.” Ketika hidup membawamu pada suatu titik yang membuatmu merasa sudah tidak bisa bertahan lagi, jangan menyerah! Itulah titik dimana takdirmu akan berubah. Apa saat ini kau sedang memikirkan kata-kata itu?.

Kau selalu mengumpamakan hidup seperti  grafik dengan dua sumbu x dan y. Menurutmu, sumbu x itu niat, sedang sumbu y adalah jalan yang diambil untuk melaksanakan niat. Sumbu yang membagi hidup menjadi empat kuadran sempurna. Kau memulai hidup dari kelahiran yang dimulai dari titik nol, nol naik dan turun mengikuti setiap peristiwa dan pilihan-pilihan hidup yang diputuskan. Kemudian, ketika grafik mencapai puncaknya, entah puncak teratas atau terbawah mungkin itulah saatnya berhenti, melihat ke belakang dan kembali merenungi langkah. Kau selalu menyebut titik itu sebagai titik balik hidup. Titik yang mengubah banyak hal, merubah sudut pandang, memperbaiki, merenovasi, membangun, atau terkadang malah menghancurkan.

Katamu, menemui titik balik seperti bertemu dengan teman lama yang mengingatkanmu kembali tentang hidup, mengenang tiap pahit manisnya. Seperti menemui seorang guru yang mengajak berpikir kembali, mentafakkuri pilihan-pilihan yang diputuskan dan dampaknya pada diri sendiri, mengajak untuk kembali meluruskan atau memperbaiki niat. Seperti menemui seorang ibu yang menasehati untuk mengubah arah, atau terkadang menguatkan ikatan tali di ujung layar-layar kapal yang perlahan mulai goyah lalu meneruskan langkah dengan lebih gagah. Akan tetapi, kau juga ingatkan aku bahwa terkadang menemuinya juga tak selalu indah, seperti menemui seorang algojo yang tak berhenti memecut, memaksa untuk berpindah haluan sambil menahan sakitnya tali pecut bertemu kulit. Katamu, aku bebas memaknainya apa karena satu kata tak selalu membawa satu rasa yang sama.

Aku ingat saat kau menceritakan padaku salah satu kisah inspiratif dari tokoh yang kau baca dari buku biografi, hadiah kakakmu yang selalu ikut bersamamu dimanapun pergi. Siapa yang menyangka, seorang gadis Afrika-Amerika dari sebuah kota kecil di Mississippi, Amerika Serikat bernama Oprah Gail Winfrey akan menjadi seorang presenter televisi dan produser terkenal saat itu?, katamu dengan berapi-api membuka cerita. Dia lahir dari sebuah keluarga broken home dan mengalami masa remaja yang bermasalah. Diusia yang masih dini, dia juga mengalami pelecehan seksual oleh keluarga laki-laki dan teman-teman ibunya. Pertemuan kembali dengan sang ayah mungkin adalah titik balik dalam hidup Oprah. Sang ayah merupakan seorang koki dan pebisnis, memberinya semangat untuk bersekolah, memotivasinya kembali ketika dunianya hampir kacau. Dia mendapatkan kembali kepercayaan diri, lalu kembali membuktikan dirinya. Dengan dukungan sang ayah, satu demi satu prestasi diukir oleh seorang Oprah muda. Di usia 22 tahun, Oprah yang saat itu berkuliah di Tennessee State University, mulai bekerja dibidang radio dan televise. Kemudian menjadi pembawa acara show sukses Amerika, yang acaranya terus mempertahankan popularitas sejak tahun 1986-2011. Kata Oprah, when there is no struggle there is no strength, ketika tidak ada perjuangan, maka tidak ada kekuatan. Aku hanya mengangguk sok tahu saat itu, setengah mengerti, setengah tidak, tapi tentu saja aku tak pernah ingin terlihat bodoh di hadapanmu, takut kamu mencemoohku. Tetapi, sekarang sepertinya aku mengerti.

Titik balik adalah sebuah jawaban dari tantangan. Ketika hidup mengecewakanmu dengan harapan-harapan yang tak tercapai. Saat kau dihentikan oleh banyaknya hambatan yang ragu untuk kau terjang. Mungkin setitik jawaban itu bias ditemukan di dalam dirimu sendiri. Titik balik yang menyeimbangkan. Menyatukan kembali akal dan hati, kemudian mengingatkan diri akan keyakinan. Bahwa, Sang Pencipta tak akan pernah memberi lebih dari yang sanggup dipikul ciptaanNya. Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa hidup adalah tentang menghadapi segala peristiwa yang terjadi, mengambil pelajaran, dan melangkah maju. Ketika kau memilih diam ataupun berjalan dengan keputusan, roda waktu tetap berputar. Apakah setelah menghadapinya kau ingin berlayar lurus dengan memperkuat ikatan-ikatan layarmu, ataupun berputar merubah arah. Namun, menemui titik balik dalam hidup adalah sebuah keniscayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *