Pemikiran dan Tokoh

Mereka Memanggil Kami, “Ayah dan Ibu”

(Wawancara Bersama Bapak Resad Baser (RB), Penanggung Jawab Yatim – İHH Humanitarian Relief Foundation)

Oleh: D. Metuah (D)

 

D: Assalamualaikum, Merhaba.. pertama-tama kami ingin mengucapkan terimakasih banyak atas kesediaan anda berbagi waktu bersama kami, telah memberi kami kesempatan di sela-sela jadwal anda yang padat. (sambil senyum-senyum)

 

RB: Waalaikumsalam, evet Merhaba, mühim değil.. Buyurun!

D: Tamam!!. Tentunya kita memiliki penafsiran berbeda-beda dalam memaknai kata berbagi. Ada yang mengartikannya dengan memberi, merasakan, berkorban, dll. Kami ingin mendengar makna berbagi dari orang-orang seperti Anda, yang telah mengunjungi banyak negeri untuk membagi diri menjadi ayah bagi anak-anak yatim. Menurut Anda apa saja yang dapat dirangkul dan dipeluk oleh kata “berbagi”?

RB: Hidup memiliki banyak arti. Salah satu pengertian terpenting dari hidup adalah berbagi. Berbagi, tidak hanya sekedar memberi apa yang ada dalam dompet atau kantong-kantong kita. Lebih dari itu, berbagi adalah nama lain dari memberi apa yang kita miliki tanpa berharap imbalan, memberi apa yang ada di tangan dan memberi apa yang ada di relung hati kita. Ketika berbagi saya suka untuk tidak melihat garis-garis batas geografi, karena berbagi adalah kata yang tidak memiliki batas, baik batas negara, suku dan warna. Berbagi harus menjadi sebuah nilai tanpa batas, karena berbagi adalah sebuah nilai kemanusian. Kita harus bergerak berdasarkan nilai ini, berbagi tanpa melihat perbedaan negara, agama, suku dan bahasa. Berbagi karena kita manusia. Berbagi dan membahagiakan.

D: Pada saat ini kita melihat banyak yang tidak peduli pada sekitar. Manusia merasa cukup saat perutnya kenyang, rumahnya ada, keadaan keluarganya sejahtera. Dengan memberi recehan kepada pengemis dan pemungut sedekah sudah membuat kita merasa lepas dari tanggung jawab berbagi. Sebenarnya bagaimana cara berbagi? Berbagi pada anak yatim? Mengapa kita harus menghabiskan tenaga untuk orang lain yang bahkan kita tahu dia/mereka tidak dapat memberi apa-apa kepada kita? Apakah berbagi sebuah keharusan?

RB: Pertama kali yang harus kita pahami adalah, seperti yang telah saya katakan bahwa berbagai adalah bagian dari nilai kemanusian. Menunggu orang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri melakukan sesuatu (kebaikan) untuk orang lain merupakan hal yang sia-sia. Karena orang yang bisa berbagi tanpa mengharap imbalan hanyalah orang yang dapat menempatkan diri pada posisi orang lain (empati). Siapa yang bisa berempati, merekalah yang sadar akan makna berbagi. Perkembangan teknologi yang melaju cepat dan pengaruh globalisme membuat banyak manusia melupakan nilai-nilai kehidupan, banyak daerah mulai dilanda kekeringan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh sebab itu diperlukannya orang-orang yang peduli dan mau menghidupkan kembali nilai-nilai ini. Kita harus menjadi salah satu dari organisasi atau kumpulan orang-orang yang yang mau bekerja, berbakti untuk menumbuhkan kembali nilai peduli dan berbagi. Mungkin inilah salah satu solusinya. Banyak sekali alasan bagi kita untuk menjaga dan mengurus anak yatim. Yang terpenting buat kita adalah: karena hal ini merupakan salah satu anjuran utama agama ini. Ingatkah saat Rasulullah SAW mendekati seorang anak yang kehilangan orang tuanya lalu memeluk anak tersebut ke dalam pangkuannya dan berkata, “maukah kau, kalau aku menjadi ayahmu dan Aisyah menjadı ibumu?”. Rasul SAW saat itu sedang memeluk hati seorang yatim, yang seperti dirinya, karena beliau mengetahui dengan baik rasa tidak memilki ayah dan ibu. Dalam Hadis juga dikatakan bahwa barang siapa yang menjaga anak yatim, kelak di surga akan dekat bersama Rasul seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah. Begitu banyak orang yang mati maupun terbunuh di dalam bencana, perang dan berbagai macam musibah. Tinggal badan-badan kecil tanpa perlindungan. Anak-anak ini pun menjadi target kejahatan para mafia organ dan pengemis jalanan. Berbagi adalah salah satu jalan untuk mengatakan tidak pada kejahatan seperti ini, berbagi adalah nama lain dari berada di barisan orang-orang terzalimi untuk membela hak-hak mereka. Apa yang anda ambil/dapatkan bukanlah milik anda! Apa yang kita bagi itulah milik kita. Harus kita pahami bahwa dengan berbagi kita tak akan pernah kehilangan, sebaliknya berbagi membuat kita mendapatkan. Berbagi tidak mengurangi, justru menambah. Inilah yang harus kita pelajari. Haruskah kita berbagi? Iya, Harus!. Berbagi adalah salah satu nilai yang membuat kita menjadi manusia.

D: Apa yang bisa kita lakukan untuk berbagi? Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat seseorang tak merasa sendiri?

RB: Hal yang paling sulit bagi seseorang adalah waktu di mana dia merasa sendiri. Sedangkan waktu yang paling berharga adalah waktu bersama orang-orang yang membuatnya merasa memiliki dan dipedulikan. Yaitu orang-orang yang setiap waktu ada untuknya, orang-orang yang berbagi suka-duka bersamanya. Sekali lagi maksud berbagi di sini tidak terbatas dalam konteks materi, tapi memeluk arti-arti maknawi. Sehingga kepedulian mereka yang berbagi tidak hanya sebatas kedekatan jarak, tapi adanya kebersamaan jiwa. Contohnya, walaupun tidak ada satu kata yang terucapkan tapi kita mampu membuat orang-orang yang kita sayang merasa tidak sendiri, membuat mereka merasa kita ada disamping mereka, membuat mereka merasa kita ada untuk mereka. Hal ini lebih penting..

D: Menurut anda, apa kebahagian paling indah dan keberhasilan yang paling besar di dunia ini?

RB: Kebahagiaan yang paling indah adalah (walaupun) dengan sebuah senyuman dapat mendekati dan memberi rasa aman kepada orang lain, orang yang belum saya kenal sekalipun. Dan juga dapat menjadi wasilah atau penyebab senyum di wajah mereka.  Sedangkan keberhasilan terbesar adalah bisa berbagi kebahagiaaan tanpa melihat perbedaan bahasa, agama, suku dan warna.

D: Negera-negera yang Anda kunjungi, orang-orang yang Anda kenal dan pengalaman-pengalaman yang Anda dapatkan, menurut Anda apakah pelajaran terpenting yang diberikan hidup kepada Anda?

RB: Sudah berpuluh negara saya kunjungi. Di setiap kunjungan, saya berusaha untuk tetap memiliki rasa dan antusias yang sama. Saya mencoba untuk memetik hikmah dan pelajaran. Walaupun tidak memiliki bakat menulis yang baik, saya usahakan untuk menumpahkan setiap perjalanan dan pengalaman dalam bentuk tulisan. Mungkin suatu saat nanti bisa dibukukan. Life is not just about us, tapi juga tentang orang-orang di sekitar kita dan kepedulian kita pada mereka. Kita tidak memiliki umur panjang untuk merasakan dan memperoleh segala pengalaman hidup. Tapi, dengan mengambil pelajaran dari orang-orang yang hidup dan dari setiap kejadian kita bisa menambah pengalaman dalam hidup kita yang singkat ini.

D: Selama di Indonesia, apa pengalaman paling manis yang Anda miliki?

RB: Indonesia adalah salah satu episode terindah dan terspesial di kehidupan saya. Begitu banyak kenangan-kenangan indah yang saya miliki selama di sana. Membuat saya berfikir, mana yang harus saya bagi? (tersenyum). Semua kenangan dan kehidupan saya selama di sana memiliki makna istimewa bagi saya. Bersama istri, kami datang ke sebuah daerah yang jauh ribuan kilometer dari rumah kami. Dan di sana ada ratusan gadis kecil  yang menunggu dan menyambut kami dengan senyuman. Mereka memanggil kami dengan sebutan Ibu dan Ayah. Rasanya baru tadi pagi kami keluar rumah, sore ini kami telah berada di rumah sendiri lagi. Kami yang belum memiliki pengalaman menjadi “ayah dan ibu”, tentunya panggilan ini sangat membuat kami terharu. Dengan mereka anak-anak kami, kami saling berbagi tahun-tahun terindah kehidupan kami, dan sampai saat ini kami masih terus berbagi.

D: Terakhir, tentunya sangat bahagia jika dapat mendengar pesan dan nasehat dari tokoh yang dipanggil “Ayah” oleh anak-anak yatim di berbagai belahan dunia! (sambil senyum lagi)

RB: Jangan pernah kehilangan cinta dan kasih dari hati kalian. Harapan, jangan pernah kalian padamkan, jangan berhenti memiliki asa. Manusia dapat kehilangan apa saja, tapi Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik dan indah. Sedangkan orang-orang yang telah kehilangan harapan, tidak ada lagi hal yang dapat mereka lakukan. Jangan bergantung pada orang yang berbuat baik pada kalian, bergantunglah pada Pemilik kebaikan itu sendiri, Allah tentunya. Jadikanlah “berbagi” sebagai asas dasar kehidupan kalian. Yakinlah suatu saat nanti kalian akan menyaksikan apa yang telah kalian bagi akan kembali sebagai sebuah kebahagian. Kita percaya akan hal ini, sebab itu jadilah pengantar kebaikan, jadilah wasilah keindahan… Sevgiyle Kalin!

(dinazahranaira@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *