Pemikiran dan Tokoh

Pemuda Kaya Berbau Surga

Oleh: Intan Popy Rinaldy

 

Masa muda, masa dimana seseorang mulai merasakan nikmatnya dunia dan ingin mencapai segalanya. Kata sebagian orang, masa muda itu masa yang sangat indah, masa yang penuh kesenangan. Banyak pemuda yang lalai, bahkan jauh sekali keadaannya dari sekedar untuk mengingat kematian, sebab pada fase ini orang-orang lebih banyak memaksimalkan dirinya pada urusan dunia. Apalagi jika diselimuti oleh fasilitas hidup yang dijamin orang tua, kondisi mapan dan wajah rupawan. Sungguh kehidupan yang sempurna, kelihatannya. Apakah ini yang dinamakan dengan kehidupan bahagia dan sukses?. Setiap orang pasti memiliki  pendapat berbeda, tergantung dari sudut mana menafsirkannya. Mari sejenak kita melihat ke belakang, belajar dari seorang tokoh pada zaman Rasullah shallallahu a’laihi wa sallam. Adalah seorang Mushab Bin Umair, pemuda kaya raya berpenampilan rupawan dan terbiasa dengan kehidupan dunia.

Ia adalah pemuda kaya keturunan Quraisy, lahir pada masa jahiliyah empat belas tahun setelah kelahiran Nabi. Ialah seorang pemuda tampan dan kaya di kota Mekah. Imam Ibnu Atsir mengatakan “Mush’ab adalah seorang pemuda tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sendal Mush’ab adalah sendal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.”[1] Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair, seorang pemuda yang banyak mendapatkan kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya membuat ia tidak merasakan kesulitan hidup. Namun, ketika Islam datang, tiba-tiba ia ‘menjual dunianya’, beralih pada kehidupan akhirat.

Ia mendatangi Nabi shallallahu a’laihi wa sallam di rumah Al-Arqam dan menyatakan keimanannya. Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi dari kaum kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap istiqamah menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya, ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Disaat telah mapan keimanannya, Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana. Sampai pada suatu hari, Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Siksaan yang dialaminya semakin parah, ibu yang dulu menyayanginya kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus. Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minuman, semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam di masjid. Lalu, muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam), dibandingkan dengan keadaannya sekarang.”[2]

Ia wafat dalam perang Uhud, seorang pemuda gagah yang ditugaskan oleh Nabi untuk membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu, datang penunggang kuda dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah Al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah). Ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Kemudian, Mush’ab membaca sebuah ayat dengan arti:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.”[3]

Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu, Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambil membaca ayat yang sama. Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib.[4]

Tak sehelai kain kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Seandainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.” Beginilah akhir hayat sahabat yang mulia ini, hingga menjadikan ia, syuhada Uhud.

Jika makna suskes adalah hidup dalam kenikmatan dan bersenang-senang , berbeda halnya dengan tokoh yang satu ini, ia justru sebaliknya. Ia rela menukar ‘kesuksesan duniawi’-nya  untuk mengejar ridha Tuhannya. Baginya, itulah makna sukses yang sebenarnya. Mush’ab telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah. Sungguh, ia pantas dijadikan teladan bagi seluruh pemuda Islam yang mendambakan ‘kesuksesan abadi’.

 

Terinspirasi dari kisahmuslim.com

 

[1] Al-Jabiri, 2014: 19.

[2] H.R. Tirmidzi No: 2476.

[3] Quran Surah Ali Imran ayat 144.

[4] Ibnu Ishaq, hal: 329.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *