Pemikiran dan Tokoh

Pemuda Ottoman

oleh: Aisyah Diannisa

 

“Ayah!” Pekiknya.

“Aku akan menaklukannya!”. Garis mata tajamnya berbinar,senyumnya menggembang menyiratkan kegigihan sebuah keinginan besar yang menghujam dalam seraya menunjuk tegas peradaban yang terpuruk di depannya. Maka mimpinya, menyiratkan sisi kebahagiaan yang abai disapa iman. Ia berubah menjadi wujud kesederhanaan bahagia, namun menyeruak seistimewa syukur. Bahagia? ia tak kasatmata namun menggema di ruang rasa.

Di saat para bocah berbangga mengabadikan aksinya di massa, berlagak seakan orang dewasa lainnya, berburu identitas yang marak di masanya, terlampau ratusan tahun lamanya bocah itu memilih menghafal seluruh ayat Al-Quran dalam kepalanya. Ia menyelami makna terdalam kebahagiaan itu sedari dini.

Kala teman sejawatnya ber-kongkow ria, ber-maraton film, berburu kepopuleran di hadapan manusia, ia memilih meningkatkan kemampuan fisik dan akal, ia kuasai teknik terbaik bela diri, berperang, berkuda, memanah, berenang, menjadi sebaik baik perancang strategi perang, menguasai ilmu fiqh, astronomi, tafsir, ekonomi, hadis, matematika, menguasai bahasa Arab, Yunani, Latin, Turki, Persia, dan Ibrani. Lagi-lagi ia menengguk perjuangan untuk menghela dahaga atas keringnya makna kebahagiaan.

Saat yang lain hancur mentalnya karena direndahkan, dihina oleh yang lain, mencari pelampiasan dengan alasan kekanak-kanakan, ia menghamparkan hatinya seluas samudera menjadi olok-olokan massa atas terpilihnya ia sebagai raja di usia muda. Meniti tingkatan makna bahagia lewat aksinya.

Yang lain tersedu haru, berkutat dengan kegalauan yang tak kunjung berkesudahan untuk kekasih yang tidak jelas, namun ia berbeda memilih mengalirkan untaian air matanya dalam munajat ketundukan, mengarahkan hatinya pada sebenar benarnya tumpuan kecintaan. Ia pedang malam, sebaik baik pemimpin penaklukan, yang tidak abai dari salat malam, sekali pun. Maka ia mengajari hakekat letak sumber kebahagiaan.

Di saat sejawatnya  lupa dan meninggalkan Tuhan, “nanti saja kalau sudah tua”, ia tak sekalipun pernah meninggalkan Allah dalam tiap urusannya. Ia miliki 250 ribu pasukan yang tak sekalipun pernah meninggalkan shalat wajib. Ia laksanakan shalat Jumat sebelum menyerang Konstantinopel. Shalat terpanjang dalam sejarah, 4 km membentang dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di Utara, lalu ia pimpin gema takbir bersahutan, menggetarkan, menjadi semangat saat menggempur lawan. Dan dunia perlahan menyaksikannya, bahwa titik bahagianya ia gaungkan menyeruak menebar keseluruh alam.

Di saat para pemuda kehabisan cara dan ide-ide cemerlang untuk meraih mimpinya, meruntuhkan keadaannya tanpa bergerak mengubahnya. Ia mengerahkan kemampuan terdalam dari mimpinya, bahkan dianggap gila, dan tak dipercaya menurut orang. Dengan gagahnya ia hadapi benteng Bizantium, yang dibatasi laut dengan pagar rantai besi, terbuat dengan teknologi terhebat pada zamannya, yang tak mampu ditembus selama 11 abad.  Rapalan kokoh kebahagiaan yang tertanam dihatinya menembus batas ketidak berdayaan ia mampu menaklukan kokohnya Benteng Bizantium . Tak ayalnya ia seberangkan 70 kapal lewat laut, ia lumurkan minyak pada ratusan gelondongan kayu, lalu jalankan seluruh armada kapal melintasi bukit hanya dalam satu malam.

Maka semesta bertasbih, ia menyapa dunia dengan iman. Mengabarkan pada dunia sisi kebahagiaan yang tak perlu didulang lewat popularitas, atau tahta, atau gelimang harta. Selepas imannya menggemakan bekal titian bahagianya, ia bumikan keningnya menghampar sedalamdalamnya makna menghamba di gereja Aya Shopia yang diubahnya menjadi masjid pada zamannya. Ia menyederhanakan bahagia, mengistimewakan syukur,  sebab ia tahu mana yang akan mendulang berkah dan mana yang hanya membuat bungah lalu menciptakan malapetaka rasa yang tersebab ujub,  dan merasa besar terhadap perannya kepada dunia. Dan ia mengajari sedalam dalamnya hakekat bahagia dalam tunduk perasaannya kehambaannya, dalam bijak pilihan dan keputusannya, dalam gerak kontribusinya.

Ia mengajari hakekat bahagia yang meranggas dimanipulasi opini berseberangan dari masa ke masa. Sejatinya, kemenangan penaklukan mengisahkan sejarah terbaik yang didaulat ratusan tahun sebelum kelahirannya, pada masanya, dan masa depan di luar gapaiannya. Makna terdalam bahagia yang digemakannya untuk menjadi saksi di peradilannya, bahwa kebahagiaannya bukan miliknya, tapi milik ummat. Tersebab makna bahagianya ia berpeluh memilih menghafal Al-Quran sedari dini sebab ia tahu di mana muara kebahagiaan yang bisa ia bagi itu bermula. Ia habiskan masa mudanya dengan berpeluh-peluh menggunungkan ilmu, menangguhkan tubuh sebab ia miliki impian pembebasan yang mampu menjadi sejarah panjang sebuah hakikat kebahagaiaan. Saat pemuda lainnya angkat dagu merasa bangga telah menaklukan banyak wanita, di usia 21 ia telah mampu menaklukan peradaban menjadi muara pembangunan dan pelopor tegaknya kejayaan. Sebab bisa jadi kesulitan dan rasa kehampaan dari kebahagiaan  yang kita hadapi karena kita tidak mempermudah urusan orang lain dan tidak membahagiakan orang lain.

Hukum “yang terbaik di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya” telah berlaku dalam inspirasi kejayaan sejarah. Bahwa semakin tinggi peran manfaat kita maka akan semakin dalam hakekat hati kita menemukan makna bahagianya. Melampaui kerja logika didalamnya, sebab Allah sendiri yang tumbuhkan rasanya. Karena bahagia adalah subliman kerja nyata yang mengkristal menjadi rasa yang tak mampu tertera dalam kata.

04-05.12.17

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *