Pemikiran dan Tokoh

Titik baru, apakah kau siap memulainya?

Oleh: M Muafi Himam

Masih ingatkah kau? Dulu setiap selesai berwudhu, kita saling berkejaran, melompat melewati pijakan bebatuan sungai yang disusun tak simetris menuju mushola. Kadang tak sengaja kau injak tepiannya yang tak beraturan. Apa kau masih bisa merasakannya? Tiap batuan yang kau injak dengan ceria itu, tak tahu telapak kakimu akan mendarat di bagian mana. Tepiannya, kau tahu, mampu melukai kaki. Terlalu ke depan juga, kau dapat terjungkal. Lalu, tepat di tengah? Ingat saat kau sedang berkejaran denganku. Namun, kau tak peduli karena memang tak ingin berhenti. Tiap lompatan semakin mendekatkanmu pada mushola yang hanya berisi kita dan kakek sebagai imamnya.

Kau hanya perlu berhati-hati lagi.

Kini kau, atau kita, telah berkali-kali melewati pijakan. Ya, telah beratus-beribu pijakan kita lalui. Dari kita ada yang sedang beristirahat sejenak di sebuah titik tenangnya. Adapula yang di persimpangan, merasa bimbang. Adakah yang telah mencapai titik keduanya?

Aku sedang berangan, apakah saat ini kita sedang bimbang diantara langkah?

Beberapa dari kita, tunas Indonesia yang sedang bertumbuh di luar vasnya, telah mulai membesar dan mampu bertumbuh mandiri. Beberapa dari kita akan mencapai titik akhir pendidikannya, wisuda. Lantas kemana kita setelahnya?

Kita sedang berada di sebuah titik dari paragraf panjang. Apakah kau ingin langsung menulis paragraf selanjutnya? Kau pasti mengenal Habibie, bukan? Beliau tidak mau berhenti di satu paragraf, ITB. Habibie tidak sempat berdiam lama di pijakan pertamanya. Segera setelah bertemu Laheru (Kengkie) yang akan berangkat ke Jerman, beliau pun pergi ke Kementerian Perguruan Tinggi di Jakarta lalu berujar, “Aku ingin kuliah di Jerman Jurusan Fisika.”

“Tidak ada Jurusan Fisika di sana,” jawab petugas kementerian sambil tersenyum. Sejenak Habibie berpikir, “Jurusan apa yang paling banyak menggunakan Fisika?” tanyanya. “Kau ambil saja Jurusan Aeronautika.” Dan Habibie mantap menapak titik barunya. Aachen, Jurusan Konstruksi Pesawat Terbang. Beliau adalah seorang pemuda nekat, kuliah tanpa beasiswa. Namun jelas bagi beliau: lulus secepat mungkin adalah segalanya. Habibie tidak pernah takut untuk pulang, dan bingung akan bekerja dimana, karena ia telah berjanji, “hancur badan, tetap berjalan, jiwa besar dan suci membawaku padamu”.

Pulang atau bertahan? Inilah dilema yang telah membiasa. Sepertinya hampir setiap tahun Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di luar negeri mengaji tentang hal ini. Dulu, di negeri Kinanah, tiap kami kedatangan tokoh atau alumni yang telah berkiprah di negeri sendiri, mereka seringkali diundang dalam satu forum diskusi bertema “Peran Alumni Timur Tengah di Indonesia”, atau dengan tema sedikit berbeda, namun sama saja, “Peluang Alumni Mesir di Tanah Air”. Kau enggan terjun tanpa jaminan, bukan?

Sebenarnya kau masih takut, apakah titik selanjutnya masih kasar tak terasah, ataukah telah rapuh penuh tumpuan. Kau tidak siap dengan keadaan yang akan berubah, kebiasaan yang perlahan hilang, kesenangan yang berat untuk ditinggalkan. Kau lebih memilih menimbang, “mungkin setahun lagi aku akan siap untuk pulang”.

Sebenarnya semua hanyalah arah. Terserah, kau mau tetap disini, melanjutkan kebiasaan, atau kembali, mungkin menyambut tantangan. Arah tak perlu menentu, destinasi tak melulu harus dicari. Kini kau sedang dalam perjalanan, dari satu titik pijakan ke titik-titik pijakan selanjutnya di depan. Kau selalu dapat belajar dari perjalanan, bukan? Mungkin kau baru setengah, bahkan selangkah dari seluruh perjalanan. Namun, yang hanya dari selangkah ini, sadarkah kau makna perjuangan, kerja keras, optimisme yang sering kau temui di emperan jalan? Terkadang bahagia dan kehilangan juga menyapamu di tengah jalan. Entah bagaimana kau mampu menemukan nyamanmu dalam segelas cay* pagi, atau kehangatan disela-sela doner**. Perjalanan singkat ini telah mengajarkan sedikit nilai kehidupan.

Lantas, sudah sampai dimana hijrah kita?

Kau akan menemukan makna dalam perjalananmu. Pak Tjokro(aminoto) bergegas meninggalkan tempat lahirnya menuju Semarang, lantaran tak mau takluk pada lingkungan. Semarang yang berkecukupan tak membuatnya mapan, beliau hijrah ke Surabaya. Memulai dari awal segalanya. Hijrahnya (perjalanan) selalu disertai dengan iqra, membaca semesta, agar tak salah arah. Apakah kau ingat, semboyan fil harokah barokah? Ya begitulah. Mereka yang berhijrah meyakini, menunggu, bukanlah pilihan terbaik.

Lantas, bagaimana? Bergeraklah ke titikmu selanjutnya. Kau tak akan tahu keelokan batu pijakan di depanmu sebelum kau merasakannya, dengan kakimu sendiri. Pijakan itulah yang akan membawamu, melanglang atau pulang. Nikmatilah perjalananmu. Setiap orang mempunyai perjalanan mereka sendiri. Dari perjalananmu, kau akan belajar melihat dunia luar, juga memahami dirimu sendiri. Perjalananmu tak hanya lagi berputar dalam persoalan menemukan tempat baru, menjelajah memuaskan nafsu. Perjalanan akan membuatmu mengerti pulang, tak melulu berhenti, kampung halaman tak hanya soal mengabdi. “Perjalanan itu, bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik serta lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, juga menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, serta menyadari bahwa Titik Nol bukan menjadi tempat perhentian,” kata seorang Agustinus.

Pada akhirnya, tiada perjalanan tanpa kembali, tiada melanglang tanpa pulang. Darinya kita datang, dan kepadanya kita akan pulang. Batu pijakanmu pun akan menemui ujungnya. Saat dimana titikmu bukanlah menjadi pijakan untuk memulai lagi, namun untuk mengakhiri, beristirahat dengan tenang. Bagaimana kau memulai titik barumu ini, tergantung bagaimana kau memaknai perjalananmu tadi. Sesungguhnya kita memulai perjalanan bersama-sama, hanya arah dan destinasi kita kadang berbeda. Namun, kita menuju titik yang sama, kembali ke rumah.

“Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut, tanpa batas. Kita jauh melanglang, sesungguhnya hanya untuk kembali,” imbuh Agustinus, lagi.

Apa kau siap memulai dan mengakhirinya di tempat yang sama?

Lantas, sudah sampai di mana hijrah kita setelahnya?

“Mungkin sudah sampai Arafah, dimana kita harus selalu berdoa”

 

* Teh
** salah satu makanan fast food di Turki) murah Osmangazi (salah satu wilayah dalam kota Bursa, di negara Turki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *