Teropong

Legenda Masjid-Masjid Turki

Oleh M Muafi Himam

 

Kisah di balik sebuah bangunan seringkali mewarnai drama obrolan warung kopi di Indonesia. Apalagi masjid-masjid yang telah ‘berumur’. Di daerah saya, ada masjid yang terkenal dengan nama Masjid Jin. Menurut cerita yang dipercaya dan dimaklumi, masjid ini dibangun dari kardusan uang recehan yang ditinggalkan oleh jin kepada seseorang melalui mimpinya. Begitulah masyarakat meyakini hikayat keberadaannya.

Nah, di Turki yang notabene banyak terdapat masjid tua berumur ratusan tahun, adakah semacam legenda-legenda seperti di negara kita? Jawabannya, ada. Di Turki, masjid disebut dengan camii. Ramadan lima tahun lalu, Pemerintah Provinsi Istanbul merilis buku berjudul ‘Istanbul’un 100 Camisi‘, tentang seratus masjid-masjid di Istanbul. Buku karya Berica Nevin Beberoğlu ini bercerita tentang seratus masjid penting di Istanbul beserta tanda-tanda sejarah yang menyertainya.

Mahasiswa Indonesia di Turki, khususnya di Istanbul pasti telah akrab dengan nama-nama masjid besar seperti Sultan Ahmet Camii, Sulaymaniye Camii, ataupun Fatih Camii. Ketiga masjid di atas memang menempati cerita-cerita awal dalam karya Berica, berikut kejadian dan simbol-simbol penting yang menyertainya. Di bagian selanjutnya, pakar arsitektur Ottoman ini menyebut berbagai nama masjid yang mungkin asing terdengar khalayak ramai. Misalnya, Kuşkonmaz Camii, atau Masjid Anti-Burung. Masjid ini berada di garis pantai batas Benua Asia, Üsküdar. Di pusat kota Üsküdar, para pelancong biasanya akan terfokus pada bangunan ikonik kota: Kız Kulesi (Menara Perawan, arti literalnya) dan Mihrimah Camii. Namun, 600 meter ke selatan, di bantaran pantai depan stasiun Marmaray, sebuah masjid yang sebenarnya tak berukuran kecil bernama Şemsi Ahmet Paşa Camii berdiri. Kisahnya, Şemsi Ahmet gemar sekali berlempar gurauan dengan kawan karibnya, Sokullu Mehmet. Suatu hari Şemsi Ahmet meledek kawannya, “Sokullu, burung-burung kok suka buang hajat di masjidmu? Haha..”. Sokullu Mehmet yang merasa diledek diam sebentar, lantas menjawab, “Ya, kalau tempatnya terbuka, burung-burung memang suka membuang kotoran di sana.”

Tiba-tiba muncul ide di kepala Şemsi Ahmet. Dia meminta Mimar Sinan membangunkannya sebuah masjid yang tidak dapat dimasuki oleh burung. Sang arsitek pun merancang susunan masjid yang berdasarkan pada gerakan angin Timur dan Barat, hingga para burung enggan singgah di dalamnya. Maka, jadilah masjid yang anti-kotoran burung.

Terkadang, nilai-nilai kehidupan ada pada hal-hal kecil. Uang recehan yang kita biarkan berserakan menjadi hal penting saat ‘tanggal tua’ datang. Sela-sela waktu kosong menjadi sangat berarti dalam keadaan darurat, yang beberapa detiknya pun menjadi menentukan. Kebahagiaan juga, seringkali tersembunyi dalam hal-hal kecil yang teremehkan. Bahagialah bagi mereka yang mengetahuinya dan menemukannya.

Di Istanbul, ada masjid dengan nama aneh: Sanki Yedim Camii. Atau, (Masjid yang) sepertinya sudah kumakan. Camii ini berlokasi di kawasan Fatih, 300 meter dari makam Fatih Sultan Mehmet. Posisinya di antara komplek perumahan, tidak terlihat dari jalan utama. Masjid ini dibangun oleh Keçeci Hayrettin, mantan orang kaya. Suatu hari, dia ber-azam ingin membangun sebuah masjid seperti Fatih Camii, masjid besar nan-megah sultan-sultan Ottoman (Selatin camiler). Apa daya, dia tak memiliki cukup uang. Karena keinginan yang telah membulat, setiap akan membeli makanan, Hayrettin berucap, “anggap saja ini sudah kugunakan makan”, sambil menyisihkan sebagian uang jatah makannya tadi. Hal itu terus berjalan selama dua puluh tahunan, hingga terkumpul uang untuk membangun sebuah masjid, walau tidak sebesar impiannya. Masjid berdiri dan masyarakat menamainya Sanki Yedim Camii.

Yahya Efendi adalah ulama besar pada zaman Kanuni Sultan Suleyman. Dia juga memiliki darwis (madrasah sufi) dan masjid yang ada di tepian pantai Karadeniz, Laut Hitam. Seringkali, para pelaut singgah ke sana, sekedar beristirahat atau berdoa. Suatu hari, seorang pelaut Yunani, bernama Apostolos terjebak badai Laut Hitam, sehingga dia harus menghentikan sementara kapalnya. Sambil beristirahat di komplek Yahya Efendi Camii, dia berinisiatif untuk berdoa di sebuah darwis. ”Ya Tuhan!, jika Engkau selamatkan aku dari badai ini, niscaya nanti akan kubawakan sebarel bir yang paling mahal harganya ke tempat ini,” jeritnya tanpa mengindahkan para murid Yahya Efendi di sana yang terdiam dan kaget.

Di hari lain, dia menepati janjinya. Membawa sebarel bir ke komplek tersebut. Para penghuni kaget, Apostolos pun ikut kaget. Dia baru tersadar bahwa mereka semua muslim. Tentunya, bagi muslim pantang menenggak setetes pun dari bir tersebut. Bergegas akan lari, dia berpapasan dengan sang sufi pemilik darwis. ”Oh Tuan, mengapa repot-repot membawa minuman mahal begini? Mari, sekalian dibuka untuk minuman para tamu serta yang lain,” kata Yahya Efendi bahagia menyambut tamu barunya itu.

Dengan gemetar, perlahan Apostolos membuka kaleng birnya. Namun, tiba-tiba muncul bau segar juz delima dari dalam botolnya. Apostolos terkaget lagi, lantas memohon ampun pada sang sufi.

Sudah menjadi kebiasaan manusia, menilai orang lain dari pandangan pertama. Melalui mata, kita mencerna. Selanjutnya hati menilai dan akal menyimpulkan. Banyak kisah lampau menceritakan penggengam arak ternyata ulama, seorang pemungut sampah adalah kekasih Allah. Penampakan tidak seharusnya mengartikan kepribadian.

Kisah ini telah mashur di kalangan penduduk Bursa. Adalah Ulucamii, masjid agung semasa pemerintahan Beyazit I, atau yang terkenal dengan julukan Yıldırım Beyazıt. Sebelum penyerbuannya ke Edirne, dia bernazar akan membangun dua puluh masjid, jika serbuannya ke Edirne meraih kesuksesan. Usahanya memang berakhir sukses, namun dia tidak jadi membangun dua puluh masjid sesuai nazarnya. Sebagai ganti, atas saran sang menantu, Muhammad Al Buhari atau Emir Sultan, dia membangun sebuah masjid agung dengan dua puluh kubah.

Peresmian masjid bersamaan dengan salat Idul Fitri. Saat masyarakat mengetahui bahwa yang didaulat menjadi khotib dan imamnya adalah Somuncu Baba, masyarakat Bursa terheran. Somuncu Baba adalah seorang miskin penjual roti keliling. Namun, saat menyampaikan khotbahnya, Somuncu Baba secara istimewa mampu merinci kandungan surat Alfatihah dengan tujuh dimensi makna. Masyarakat dibuat takjub tak terkira. Selepas khotbah, penduduk Bursa datang berombongan dan berbaris di empat pintu keluar masjid, menyambut sang khotib. Menurut cerita para penduduk Bursa, mereka semua dapat bersalaman dengan Somuncu Baba, meskipun tidak terkumpul di satu pintu keluar.

Banyak sekali cerita yang mengiringi bangunan-bangunan ‘mistis’ di negara para sufi ini. Positifnya, masyarakat semakin percaya bahwa kuasa tak hanya yang kasat mata. Dikutip dari buku Istanbul’un 100 Camisi dan sumber lain. (masmuafi@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *