Teropong

RESENSI BUKU: TASAVVUF VE MODERN BILIM

Oleh: Ahmad Sidqi

 

Judul Buku : Tasavvuf Ve Modern Bilim

Penulis : Mehmet Bayrakdar

Tahun Terbit : 2016

Jumlahhalaman : 120

Bahasa : Bahasa Turki

Penerbit : Insan Yayinlari

Kota Penerbitan : Istanbul

ISBN : 9755748078

 

Manusia merupakan makhluk unik yang diciptakan oleh Tuhan. Kemampuan rasional khas manusia memang mengagumkan, namun disisi lain juga mengerikan. Di dalam kehidupan, manusia memiliki berbagai macam persoalan yang timbul dari kekuatan rasio tersebut. Permasalahan besar yang dihadapi manusia terkait dengan kekuatan rasio dan dorongan hasrat kepentingan tersebut diantaranya adalah rasionalisme ekstrem, kecenderungan materialistik, profanitas, serta penegasian terhadap dimensi spiritual dalam ajaran agama dan berketuhanan. Akhirnya, manusia terjebak dalam ruang baru yaitu nihilisme (kekosongan makna), adalah ketika bentuk peradaban modern mengarahkan manusia semakin menjauhi pemahaman tentang ”realitas ultim”, yakni Tuhan.

Rasionalitas manusia menjadi Tuhan baru. Hal ini membawa dampak krisis spiritual dan krisis sosial pada manusia. Krisis spiritual dapat berdampak pada manusia tidak lagi beragama dan tidak bertuhan (atheis), sehingga manusia tidak meyakini agama, namun masih percaya pada adanya Tuhan (agnostik). Sedangkan dampak krisis sosial berupa, peperangan, ketidakadilan dan penindasan terhadap “yang lain” (the others). Tetapi di sisi lain, ilmu pengetahuan juga mendatangkan kegelisahan pada jiwa manusia dan secara bertahap menghilangkan perhatian manusia terhadap spiritual dan etika.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dianggap sebagai kekuatan pendorong (driving force) bagi proses modernisasi telah mengakibatkan semakin tingginya derajat rasionalitas manusia modern. Rasionalitas inilah yang kemudian menjadikan kebebasan menjadi isu utama modernitas. Pembahasan berikutnya adalah tentang mistik yang berasal dari kata mystes atau misterio, berarti rahasia, sehingga mistisisme bermakna ”ajaran yang bersifat rahasia”. Kerahasiaan terutama terlihat dalam istilah; kesadaran adanya hubungan langsung dengan Tuhan. Kesadaran adalah demikian dalamnya sehingga kehadiran Tuhan terasa begitu langsung. Pada awalnya, istilah mistik digunakan di dunia Barat oleh seorang teolog yang bernama Dionysius. Menurutnya, mistik cenderung bersifat pernyataan teologis daripada suatu pengalaman kesadaran terdalam. Namun, sejak saat itulah mistisisme lebih bersifat teori religius berupa suatu sistem yang menunjukkan bahwa Tuhan selain bersifat transenden, juga mengatasi akal, pemikiran, penalaran. Dalam pemikiran Neo-Platonis, mistisisme merupakan kepercayaan bagi kemungkinan persatuan dengan Tuhan, melalui cara exstatic-contemplation; Sesuatu yang sangat esoterik, genostik, lebih bersifat pengetahuan ketuhanan, yang tidak mumpuni (capable) bagi suatu verifikasi. Di sisi lain, mistisisme dipakai untuk mengistilahkan gejala psikis, gaib atau fenomena yang tidak menentu.

Dalam arti istilah, Tasawuf bisa disamakan dengan mistik, yaitu suatu metode bagaimana manusia ingin mencapai hubungan mesra dengan Tuhan. Di dalam Islam, aspek mistik itu dikenal dengan nama Tasawuf atau Sufisme. Para ahli Tasawuf memberikan pengertian yang berbeda-beda dalam mendefinisikan Tasawuf. Tasawuf adalah sisi batin dari agama. Tasawuf bukan penyikapan pasif atau apatis terhadap kenyataan sosial. Tasawuf sebenarnya mempunyai peranan cukup besar didalam mewujudkan sebuah “revolusi spiritual” di masyarakat.

Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa sejarah zaman modern mengungkapkan bahwa sains diklaim sebagai pengetahuan yang paling “megah” karena mampu mengungkapkan sebuah hakikat yang luar biasa, melampaui kepercayaan-kepercayaan primitif. Meskipun demikian, dengan tawaran kecil atau sederhana sekalipun, mistisisme mampu menciptakan sebuah sudut yang benar, yang mampu mengarahkan kepada sebuah dimensi yang sepenuhnya baru, yakni berkenaan dengan kualitas-dalam hal ini terkait pengalaman kualitatif-, jadi bukan sekadar abstraksi.

Melalui gambaran di atas, manusia modern yang pada awalnya sombong dengan kerasionalan. Pada akhirnya terpaksa mengakui bahwa rasio yang dibanggakan ternyata lebih berbahaya dari dogma-dogma abad pertengahan yang dulu dianggap sebagai benalu sejarah manusia. Ini adalah gambaran lain ketika pemahaman keduniawian menjadi orientasi mutlak manusia modern yang didukung oleh rasio. Tentunya hal ini menjadi catatan tersendiri bagi mistisisme dengan doktrin ketuhanan yang melingkupi semesta. Bahwa lingkungan pun semakin dieksploitasi secara besar-besaran. Sehingga tidak ada yang tersisa selain bumi yang meranggas dan lingkungan yang telah berubah menjadi monster.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *