Teropong

Review Buku Rantau 1 Muara

Oleh : Zulfikri

 

Judul: Rantau 1 Muara

Penulis: Ahmad Fuadi

Editor: Danya Dewanti Fuadi, Mirna Yulistianti

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 408

Cetakan: V Agustus 2013

ISBN: 9789792294736

 

  1. Labuhan Nasib si Alif

Novel Rantau 1 Muara salah satu rangkaian trilogi Negeri 5 Menara yang ditulis oleh Anwar Fuadi, dimana judul pertama “Negeri 5 Menara” dengan slogan pemungkasnya “Manjadda Wajadda (Siapa yang bersunggguh-sungguh akan berhasil)”, penulis menceritakan perjalanan si Alif ketika di Gontor dan pertemuannya dengan sahibul menara. Dilanjutkan yang kedua “Ranah 3 Warna” dislogani dengan “Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung)” penulis menceritakan perjalanan hidup Alif pada masa kuliahnya di Bandung dan menjadi scholarship hunter, dan kemudian baru “Rantau 1 Muara” yang mempunyai slogan “Man shara ‘ala Dharbi Wasala (Siapa yang berjalan dijalannya akan sampai ditujuan)” penulis bercerita tentang Alif dalam pencarian tempat berkarya, pencarian belahan jiwa, dan pencarian di mana hidup akan bermuara.

Novel Rantau 1 Muara seperti menyambung kisah di awal novel mengisahkan seorang yang bernama Alif Fikri orang Minangkabau tepatnya di tepi danau Maninjau yang merantau belajar di pesantren Madani di tanah Jawa dan kemudian di bangku kuliah membawa ia menjadi duta muda sampai ke Kanada, dan visiting student ke Singapura. Setelah merampungkan studinya di UNPAD alif mencoba peruntungan nasib kerja ke berbagai organisasi International dan koorporasi. Di Novel ini Alif digambarkan bukan lagi bertemu dengan ustaz-ustaz yang galak ataupun aturan pondok (seperti dikisahkan di Novel Negeri 5 Menara) yang kaku melainkan ‘keras’ yang sebenarnya yaitu bertahan hidup secara mandiri di perantauan. Alif di Bandung yang kemudian hijrah ke Jakarta inilah yang membuat hati pembaca dikuras habis emosinya merasakan susahnya mencari kerja dan pada akhirnya labuhan nasib peruntungan alif terdampar di kantor majalah nasional prestisius DERAP.

Disinilah ia mulai mengasah skill analisa, kritik, menulis, “gila kerja” layaknya seorang pemburu yang tiap saat berhadapan dengan mangsa menggiurkan tak kenal ampun, jatuh bangun, makan seadanya, tidur di  gudang kantor bersama sahabat Doktornya (mon-DOK di KanTOR) si Pasus, yang kemudian harus mengungsi ke musholla kecil berukuran 2×2, dan bahkan bisa mewawancarai seorang Jenderal kelas 1 se Indonesia, jangankan Jenderal mayatpun alif dekati untuk mendapatkan info. Semua pahit manis dirasakan alif selama bekerja di majalah yang sangat mengedepankan prestisius kejujuran, dan lugas ini. Di sinilah kehidupan yang sebenarnya dijalani oleh Alif. Seolah pembaca diajak untuk mau bersama-sama menggunakan mantra si Alif “Man Shabara Zhafira”.

 

  1. Potongan Hati si Alif

Di kantor majalah ini jugalah alif menemukan penyebab hatinya bergetar dan berdesir hebat, ketika ia bertemu sapa dengan wanita Dinara. Perlahan tapi pasti si Dinaralah membantu Alif lulus seleksi S2 di Washington DC Amerika, Dinara menjadi temannya belajar TOEFL. Hubungan Alif dan Dinara memang sepertinya sudah cukup akrab sebagai rekan kerja di Derap, hingga ada pula orang-orang di kantornya seakan mengesahkan mereka sebagai pasangan kekasih. “Takkan lari jodoh dikejar, gunung memang tidak akan lari, tapi jodoh? dia punya kaki dan keinginan, dia bisa lari kesana-kemari, kemana dia suka, bahkan dia bisa hilang, seperti lenyap ditelan bumi, atau dia jatuh ketangan orang lain”, maka itu pula yang dikisahkan penulis dalam buku ini. Berbeda dengan dua novel sebelumnya (karena kayaknya memang belum waktunya), kali ini penulis menyuguhkan kisah cinta Alif dengan perempuan yang akhirnya menjadi istri dan partner yang kompak dalam menjalani hidup. Bagi yang masih ingin sendiri, kayaknya cerita di novel ini bisa menjadi nasihat dan bahan pertimbangan untuk mengubah pikiran.

Kota superpolitan Washington DC Inilah perhentian Alif berikutnya. Dinara masih terus saja mekar di hatinya. Disinilah kombinasi ketiga mantra tersebut berhasil secara efektif. Puncak keberanian telah dikumpukan Alif maka ia melangkah bismillah mengajak Dinara menikah. Niatnya ini terbentur oleh Tuan Sutan bapaknya Dirana, namun kesabaran dan bantuan dari Dinara dan ibunya, pelan tapi pasti layaknya mantra si Alif akhirnya sang calon ayah mertua merestui. Lagi-lagi pembaca diingatkan mantra besar Manjadda Wajadda, Man Shabara Zafira, Man shara ‘ala Dharbi Wasala diatas yang Alif peroleh dari guru-gurunya di Pesantren Madani, yang membentuk Alif menjadi sosok yang berkarakter tangguh menjalani roda kehidupannya di rantau urang dan menjadi (berbuah).

 

  1. Rantau yang Bermuara dengan Mantra ke 3

3 Mantra itu di bumbui beberapa hal yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana kita diingatkan untuk terus fokus pada profesi/minat yang kita tekuni, saingan dalam arti positif kadang diperlukan untuk menambah bahan bakar saat berlomba lomba dalam kebaikan (diperankan oleh tokoh Randai dengan sangat baik), kehidupan percintaan hingga partner kerja antara Alif dan Dinara di kantor berita super di Washington DC dilalui selama 3 tahun kurang lebih lamanya. Intrik, lecutan-lecutan kecil dalam rumah tangga, kesibukan pekerjaan, suka-duka partner yang memiliki profesi sama yaitu mahasiswa, wartawan plus pekerja hingga bagaimana si Alif kehilangan kakak angkatnya ketika tragedi 11 September 2001 di World Trade Center New York disampaikan sangat apik oleh sipenulis, yang bisa memberikan pengajaran berharga bagi kita bagai seorang perantau.

Bak layaknya air yang telah mengalir ke/dan berbagai tempat yang kembali ke muara, mungkin cerita ini mulai menemukan titiknya saat kembalinya Alif dan Dinara ke Indonesia untuk kebaktiannya di tanah tumpah darahnya. Keteguhan hati Alif dan Dinara juga diuji saat ada tawaran bekerja di London dengan tawaran gaji yang sangat menggiurkan, namun keteguhan ini disikapi dengan manis saat petunjuk diperolahnya lewat aduannya pada Tuhan yakni menolak tawan menggiurkan itu. Setelah menolak tawaran bekerja di London ternyata Tuhan memang memberikan jalan terbaik pada Alif dan Dinara, mereka mendapatkan tawaran bekerja di Indonesia namun dengan gaji Amerika yang datang dari Kantor Berita Internasional ABN (American Broadcast Network) di Jakarta.

Ya, saya melihat si Alif ialah si penulis itu sendiri, Ahmad Fuadi. Melalui buku ini seolah-olah Fuadi membuat biografi perjalanan hidupnya dirinya sendiri dengan cara yang uaapik dibaca melalui seseorang yang bernama Alif. Pengalaman-pengalaman menarik yang dialami Fuadi dituangkan dengan elok dan unik di dalam buku ini. Di beberapa bait kalimat atau judul terkadang dapat merasakan emosional perjuangan serta kentalnya semangat kekeluargaan dan persahabat di Novel ini. Kemantapaan menjalani kehidupan dengan ragam tantangan bisa jadi mungkin saja cocok sebagai inspirasi siapa saja dalam pencapaian impian kita.

Ditambah geliat cerita cinta nan padu membuat cerita ini bisa dinikmati pula bagi pasangan yang membina mahligai rumah tangga, dimulai dari gambar seni Cover Novel Rantau 1 Muara dan pembatas buku ini terlihat sebuah perahu kecil yang dikendarai oleh dua orang (laki-laki dan perempuan) menuju 1 muara. Warna cover pun seakan mengisyaratkan bahwa makna kekeluargaan, persahabat dan cinta dalam novel ini. Setiap orang punya tujuan atau impian dalam hidupnya layak membaca inspirasi dalam novel Rantau 1 Muara ini. Selamat membaca, semoga bisa memberi inspirasi dalam mengais muara kehidupan kita.

(Kontributor: zoulfikri@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *