Teropong

Review Novel Ayat-ayat Cinta 2

Deskripsi Novel:
Judul                          : Ayat – Ayat Cinta 2
Penulis                         : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit                     : Republika Penerbit
Tahun Terbit              : 2015
Jumlah Halaman        : 697

Peresensi                     : Anun Bidl Maknunah

 

Hubungan Ayat-Ayat Cinta Pertama dan Kedua

 

Kalau baca bagian pertama pada buku Habiburrahman, yang kedua ini pasti pembaca merasa bingung. Apakah masih ada hubungannya dengan yang pertama atau tidak. Jelas ada, Itu akan dirasakan pada bagian-bagian selanjutnya. Tentunya masih menceritakan tentang Fahri dan Aisha, bedanya pada novel ini lebih mengenalkan secara detail keluarga Aisha dan keadaanya. Dan bukan lagi berlatar Mesir melainkan berlatar kota Edinburgh, Skotlandia. Latar Eropa yang menarik pembaca dan tentunya tidak mengesampingkan nilai-nilai Islam. Hal ini sangat memberi pelajaran berharga bagi orang Islam yang tinggal di negara Eropa “mungkin“ keadaan Fahri mampu dijadikan contoh dalam menyikapi lingkungan Eropa dengan nilai Islam. Dan novel yang kedua ini mampu menyajikan dakwah, pengertian tentang Zionis Israel dan Palestina.

 

Keadaan Fahri

 

Setelah lulus Al-Azhar, rupanya Fahri mendapatkan doktoralnya di Jerman, lalu Post-doctoral di Britania. Fahri tinggal di Edinburgh bersama seorang laki-laki tua yang selalu setia bersamanya. Lelaki itu akrab disapa sebagai paman Halusi yang berasal dari Turki. Ia menjadi orang kepercayaan Fahri. Mereka tinggal di komplek Stonyhill Grove Musselburgh, komplek kecil yang berisi hanya sebelas rumah. Fahri menjadi laki-laki sukses. Ia tidak hanya menjadi dosen di Edinburgh tetapi juga menjadi seorang pengusaha muslim yang sukses di kalangan minoritas.

Identitas Fahri sebagai Muslim membuatnya sulit diterima oleh kaum mayoritas yang menjadi tetangganya. Karenanya Fahri menjadi musuh tetangganya, tetapi dengan kesolehannya Fahri mampu mengatasi hal itu. Setiap hari Fahri selalu mendapatkan teror dari tetangganya yang phobia terhadap Islam, namun Fahri menyikapinya dengan tenang dan mencontoh kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Sehingga pada akhirnya Fahri menjadi sahabat mereka.

 

Menikahi Gadis Turki

 

Seperti halnya dalam novel pertama, pada novel ini pun Fahri merasakan desakan yang sama yaitu menikah lagi. Tetapi keadaannya yang berbeda. Kecintaan Fahri terhadap Aisha bukanlah goresan pensil yang mudah dihapus, namun goresan tinta emas yang tidak sembarang dihilangkan. Namun karena desakan itu bertubi-tubi menghampirinya. Akhirnya Fahri memutuskan menikahi Hulya gadis Turki yang tak lain sepupuh Aisha yang diam-diam menyukai Fahri. Dengan garis keturunan yang sama gadis ini selalu mengingatkan Aisha bahkan beberapa kali Fahri melalaikan kewajibannya sebagai suami Hulya, karena Fahri yang tidak mampu menepis bayangan Aisha. Pada akhirnya mereka dikarunia seorang anak. Fahri pun mulai melupakan Aisha dan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama Hulya. Namun, di balik kebahagiaan keluarga kecil Fahri dan Hulya ada sosok yang begitu tersakiti, tetapi keikhlasannya mampu merubah luka menjadi kebahagiaan atas kebahagiaan orang lain.

 

Dimana Aisha?

 

Tidak ada yang mengetahui keberadaan Aisha, setelah Aisha pergi bersama temannya bernama Alicia ke Palestina. Aisha ingin menulis novel tentang anak-anak Palestina. Keduannya dinyatakan menghilang. Naas-nya jasad Alicia ditemukan di pinggiran daerah Hebron, Israel -tidak bernyawa dengan kondisi yang mengenaskan. Tubuhnya sudah membusuk, nyaris tidak bisa dikenali. Bentuk gigi Alicia-lah yang menjelaskan bahwa itu adalah Alicia, Fahri sangat tertekan. Berbagai cara dilakukan berharap Aisha masih hidup tapi hasilnya nihil.

Wanita Buruk Rupa

 

Ada sosok yang memiliki andil dalam kebahagiaan rumah tangga Fahri dan Hulia, Sabina! Seorang wanita buruk rupa yang sebelumnya menjadi gelandangan di Edinburgh dan menjadi bahan olok-olokan pihak yang tidak menyukai Islam. Fahri menyelamatkan Sabina dengan menjadikan dirinya sebagai pembantu di rumahnya. Sebagian tubuhnya terbakar, hingga sidik jarinya pun tidak bisa diidentifikasi. Sabina tinggal sebatang kara, ia pernah menikah dan kini ia tidak mengetahui keberadaaan suaminya. Ia telah bersumpah tidak akan menikah lagi seumur hidupnya, hingga saat paman Halusi mengutarakan niat baiknya untuk memperistri Sabina, Ia tegas menolak. Air matanya tumpah saat Fahri membujuknya untuk mau menerima tawaran paman Halusi. Tapi pendiriannya teguh bahwa Ia tidak akan menikah lagi. Beberapa kali Sabina meninggalkan rumah Fahri tapi karena keberadaan Sabina dirasakan berpengaruh bagi tetangganya begitupun Fahri sehingga Fahri mau mencarinya dan membujuknya kembali tinggal dirumahnya. Sabina pun menjadi Ibu angkat dari anak Fahri dan Hulia atas ketelatenannya mengurus anak mereka.

 

Kematiaan Hulya dan Wasiat yang Berat

 

Hulya terbunuh oleh pria beringas yang tengah berusaha melecehkan Kiera (tetangga Fahri). Tusukan bertubi-tubi pada punggung Hulya tidak mampun membuatnya bertahan hidup sehingga Fahri harus kembali kehilangan Istrinya. Hulya meninggalkan wasiat yang berat bagi Fahri, yaitu, meminta Fahri untuk mengoperasi wajah Sabina yang rusak menjadi wajahnya. Saat wasiat itu sedang dilaksanakan, Fahri menemukan suatu hal yang memacu rasa penasaran akan identitas Sabina sebenarnya. Siapa Sabina sebenarnya?

 

Fahri mulai mencari petunjuk dengan menggeledah kamar Sabina, kamar yang tidak pernah dicurigainya. Hingga Ia menemukan sebauh cincin emas putih berhiaskan permata biru, mirip cincin milik Aisha, yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang gelandangan melihat kualitas dari cincin tersebut. Juga selembar Foto dirinya bersama Aisha dengan latar background Candi Borobudur bertuliskan ….

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *